JAKARTA.REDAKSI17.COM – Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan saat ini yang menyentuh angka 79,9 persen menjadi modal politik penting bagi Presiden Prabowo Subianto menyongsong dua periode di Pilpres 2029.
Dalam diskusi Satu Meja The Forum, Kompas TV, Rabu (11/2/2026) soliditas koalisi pemerintahan menjadi sorotan utama. Hampir seluruh partai koalisi menyatakan dukungan agar Prabowo kembali maju pada Pemilu Presiden 2029 guna memastikan keberlanjutan program kerja.
Namun di balik soliditas tersebut, dinamika mengenai kursi calon wakil presiden (cawapres) mulai terasa. Kursi yang kini diduduki Gibran Rakabuming Raka mulai goyah.
Dari perwakilan empat partai, hanya satu yang ingin paket Prabowo-Gibran tetap melaju di 2029.
PAN Dukung Prabowo, Aspirasi Kader Soal Cawapres Menguat
Wakil Ketua Umum PAN, Vifa Yoga, menegaskan bahwa partainya telah mengambil keputusan resmi dalam Rakernas 2025.
“Hasil keputusan Partai Amanat Nasional di Rakernas 2025 menyatakan mendukung Pak Prabowo Subianto untuk dicalonkan kembali sebagai calon presiden di pemilu presiden 2029,” ujar Vifa.
Meski demikian, ia mengakui adanya aspirasi internal partai terkait posisi cawapres.
“Memang banyak aspirasi dari pengurus, dari kader, untuk mencalonkan kadernya sendiri… apakah tetap bersama dengan Mas Gibran atau ada pasangan yang baru lagi, ini kan masih lama,” katanya.
Vifa menegaskan, keputusan akhir tetap berada di tangan Prabowo sebagai pemegang otoritas.
PSI Konsisten Duet Prabowo-Gibran
Berbeda dengan PAN, PSI secara tegas tetap mengusung pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode.
Politikus PSI, Dedek Prayudi, menyebut aspirasi tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
“Pak Jokowi sudah berkali-kali mengatakan bahwa periode berikutnya adalah Prabowo-Gibran dua periode. Dan itulah yang sekarang menjadi aspirasi kami, itulah yang sekarang menjadi pilihan kami,” ujar Dedek.
PSI melihat keberlanjutan duet tersebut sebagai bagian dari kesinambungan agenda pemerintahan.
Demokrat: Chemistry Kunci
Sementara itu, politisi Demokrat Umam menekankan pentingnya keserasian antara presiden dan wakil presiden dalam sistem presidensial.
“Political chemistry itu satu hal yang kemudian memang perlu untuk dicerna oleh presiden karena dalam sistem presidensial memang akuntabilitas kekuasaan tertinggi berada di tangan presiden,” ujarnya.





