Mantrijeron,REDAKSI17.COM – Kampung Ramadan Jogokariyan ke-22 resmi dibuka pada Rabu (18/2/2026) sore, menandai dimulainya rangkaian kegiatan Ramadan 1447 Hijriah di kawasan Masjid Jogokariyan. Suasana hangat dan semarak langsung terasa sejak sore hari, ketika warga dan pengunjung mulai memadati area plaza dan jalan sekitar masjid.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono yang turut hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Kampung Ramadan Jogokariyan yang telah menjadi tradisi tahunan dan ikon Ramadan di Kota Yogyakarta.

“Sore hari ini kita dipertemukan dalam suasana penuh syukur untuk membuka Kampung Ramadan Jogokariyan 1447 Hijriah. Suasananya terasa hangat, terasa hidup, dan terasa sangat Jogja,” ujarnya.

Pembukaan Kampung Ramadan Jogokariyan ke-22.

Ia menegaskan, Masjid Jogokariyan memiliki sejarah panjang dalam menggerakkan umat, mulai dari pelayanan jamaah yang tertata hingga gerakan pemberdayaan ekonomi warga. Setiap Ramadan, kawasan ini menghadirkan energi yang berbeda.

“Sejak sore warga berdatangan. Anak-anak berlarian dengan riang, pedagang menata dagangannya, jamaah bersiap menyambut waktu berbuka. Kampung Ramadan Jogokariyan telah menjadi magnet yang dirindukan, bukan hanya oleh warga sekitar, tetapi juga masyarakat dari berbagai penjuru,” katanya.

Menurutnya, kemeriahan yang terlihat merupakan buah dari gotong royong dan kepercayaan masyarakat. Pemerintah Kota Yogyakarta mengapresiasi kerja keras panitia dan takmir dalam mempersiapkan kegiatan tersebut.

Para pengunjung sedang membeli makanan di Kampung Ramadan Jogokariyan.

Namun ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan kunjungan masyarakat.

“Ramainya pengunjung adalah berkah. Aktivitas ekonomi yang meningkat adalah kabar baik. Tapi semua itu harus diiringi tanggung jawab. Saya mengajak seluruh panitia, pedagang, dan pengunjung untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar masjid,” tegasnya.

Ia juga mengajak untuk mengurangi penggunaan sampah plastik serta memastikan kawasan tetap bersih dan nyaman setelah kegiatan berlangsung.

“Kebersihan adalah bagian dari iman. Ketertiban adalah wujud saling menghormati,” tambahnya.

Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Rizki Rahim, menyampaikan bahwa tahun ini terdapat 413 lapak yang meramaikan Kampung Ramadan. Sebanyak 248 lapak di antaranya diisi oleh warga Kampung Jogokariyan, sementara sisanya berasal dari luar kampung.

Ia berpesan khususnya kepada para pedagang Muslim untuk tetap menjaga kewajiban ibadah di tengah kesibukan berdagang.

“Khususnya para pedagang yang beragama Islam, agar tetap menjaga sholatnya. Semoga kebaikan-kebaikan yang muncul di acara ini pahalanya mengalir kepada kita semua, juga kepada para pendahulu kita,” ujarnya.

Salah satu pedagang warga Jogokariyan, Agus, turut meramaikan Kampung Ramadan dengan produk andalannya, Lumpia Beef. Usahanya telah berjalan selama dua tahun dan kini menjadi salah satu produk yang cukup diminati.

“Ini jalan ke dua tahun, Alhamdulillah jadi Salah satu produk yang trending,” katanya.

Agus mengakui persaingan semakin ketat seiring ramainya Kampung Ramadan. Namun ia memilih mempertahankan kualitas rasa dan aktif mengikuti berbagai event.

Salah satu produk makanan di Kampung Ramadan Jogokariyan, Lumpia Beef.

“Semakin ke sini semakin banyak saingan. Tapi kita tetap mempertahankan rasa. Kalau khusus Ramadan, kami full di Jogokariyan. Harapannya semoga ramai dan lancar,” ujarnya.

Selain di Kampung Ramadan, Agus juga membuka lapak setiap Jumat di Balaikota dalam Pasar Jumat Berkah, serta berjualan di sisi timur dan barat Masjid Jogokariyan pada hari biasa.

Kampung Ramadan Jogokariyan kembali menegaskan posisinya sebagai ruang silaturahmi, ibadah, sekaligus penggerak ekonomi umat. Di tengah gemerlap lampu dan aroma hidangan berbuka, denyut religiusitas dan semangat pemberdayaan tetap menjadi fondasi utama perhelatan tahunan ini.