Home / Seni dan Budaya / Catatan Khidmat Tradisi Ngabekten di Keraton Yogyakarta

Catatan Khidmat Tradisi Ngabekten di Keraton Yogyakarta

Yogyakarta,REDAKSI17.COMNgabekten, sebuah fragmen adiluhung yang menjadi puncak spiritualitas dalam rangkaian Hajad Dalem Grebeg Syawal Dal 1959 kembali digelar. Lebih dari sekadar seremoni, Hajad Dalem Ngabekten adalah ruang di mana garis keturunan, loyalitas, dan rasa syukur bertemu dalam satu sembah sungkem yang tulus kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X

Di bawah naungan atap Kagungan Dalem Bangsal Kencana yang megah, pada Jumat (20/03), prosesi Ngabekten Kakung yang dikhususkan bagi para pria di gelar. Suasana terasa sakral saat KGPAA Paku Alam X mengawali langkah, disusul oleh empat Mantu Dalem dan para kerabat dekat. Juga, para pemimpin kabupaten dan kota se-DIY yang turut menghaturkan sembah baktinya. Disinilah dipahami bahwa hierarki bukan untuk memisahkan, melainkan untuk mengatur ritme pengabdian.

Prosesi berlanjut pada kelompok kedua, yakni Ngabekten Gangsal Jungan. Di sini, para Abdi Dalem Punakawan dengan pangkat Wedana ke atas berkumpul untuk menghaturkan sembah bakti. Suasana kekeluargaan namun formal begitu terasa saat satu per satu abdi dalem senior ini melaksanakan tradisi yang telah terjaga selama berabad-abad.

Memasuki kelompok ketiga, fokus beralih ke Tratag Gedhong Prabayeksa untuk prosesi Ngabekten Darah Dalem. Bagian ini menjadi momen yang cukup emosional karena melibatkan para Wayah Dalem Kakung atau cucu laki-laki dari Sultan yang pernah bertahta.

Rangkaian hari pertama ditutup oleh kelompok keempat, yang dikenal dengan sebutan _Ngabekten Mirunggan_. Di sini, suasana terasa lebih khidmat karena melibatkan para Abdi Dalem yang menjaga sisi spiritualitas keraton. Mulai dari Kanca Kaji, Kanca Suranata, hingga Kanca Pengulon hadir menghaturkan bakti.

Tak ketinggalan, para Juru Kunci yang setia menjaga Kagungan Dalem, baik itu masjid, makam, maupun petilasan suci, turut serta dalam barisan. Prosesi sungkem ini diawali secara tertib oleh para Abdi Dalem Pengulon dan diakhiri dengan penuh takzim oleh para Juru Kunci (Puralaya), menandai tuntasnya prosesi Ngabekten bagi kaum laki-laki.

Memasuki hari kedua, suasana berganti menjadi lebih lembut namun tetap berwibawa dalam Ngabekten Putri. Terpusat di Tratag Gedhong Prabayeksa, prosesi ini terbagi menjadi dua kelompok besar.

Ngabekten Hageng Putri menjadi pembuka yang sarat akan makna kedekatan keluarga. Permaisuri GKR Hemas mengawali sungkem pangabekti dengan penuh keanggunan, yang kemudian diikuti oleh putri sulung Sultan, GKR Mangkubumi. Kehadiran GKBRAy Adipati Paku Alam serta keempat Putri Dalem lainnya yaitu GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara, melengkapi jajaran keluarga inti dalam satu ritme tradisi yang begitu terjaga.

Gema tradisi terus mengalir saat prosesi dilanjutkan oleh kakak Sultan, Garwa Pangeran, serta para Wayah Dalem Putri (cucu perempuan). Tak ketinggalan, barisan Sentana Dalem Putri hingga para Abdi Dalem putri dari golongan Punakawan dan Kaprajan turut menghaturkan sembah bakti mereka.

Momen ini menjadi cerminan betapa luasnya jejaring kekeluargaan dan pengabdian di lingkungan Keraton Yogyakarta. Kehadiran tokoh-tokoh daerah, seperti Bupati Gunungkidul, serta para istri pejabat setingkat wali kota, bupati, hingga wakilnya, semakin menegaskan bahwa Ngabekten bukan sekadar urusan internal istana. Tradisi aduluhung ini adalah ruang perjumpaan kultural yang menyatukan para pemimpin daerah dalam satu harmoni tata krama yang sama.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *