Home / Nasional / Iran Gempur Israel Selatan, Balasan Usai Serangan ke Natanz

Iran Gempur Israel Selatan, Balasan Usai Serangan ke Natanz

Ledakan akibat serangan misil Iran ke Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026. Antara/Xinhua/Chen Junqing

Dimona,REDAKSI17.COM – SERANGAN rudal Iran menghantam dua kota di selatan Israel, Dimona dan Arad, pada Sabtu, 21 Maret. Dilansir dari Al Jazeera, televisi pemerintah Iran menyebut serangan itu sebagai respons atas dugaan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium Natanz pada hari yang sama.

Dimona merupakan lokasi pusat penelitian nuklir Shimon Peres Negev, yang secara luas diyakini terkait dengan program senjata nuklir Israel. Namun, Israel tidak pernah secara terbuka mengakui kepemilikan senjata nuklir.

Menurut laporan Al Arabiya dan layanan darurat Israel, lebih dari 100 orang terluka akibat serangan tersebut. Di Arad, sedikitnya 88 orang terluka, termasuk 10 dalam kondisi serius. Kerusakan besar terjadi di pusat kota, dengan beberapa bangunan terdampak dan kebakaran dilaporkan di salah satunya.

Di Dimona, 39 orang terluka, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang berada dalam kondisi kritis akibat luka serpihan. Beberapa bangunan tempat tinggal dilaporkan hancur. Rekaman AFP menunjukkan kawah besar di lokasi ledakan, puing bangunan, serta jendela yang pecah di sekitar area terdampak. Tim penyelamat terlihat menyisir reruntuhan untuk mencari korban.

Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara telah diaktifkan, namun tidak berhasil mencegat seluruh rudal. Petugas pemadam kebakaran menyebut dua rudal balistik menghantam langsung sasaran.

“Di Dimona dan Arad, sistem pencegat telah diluncurkan tetapi gagal mengenai ancaman, sehingga terjadi dua hantaman langsung oleh rudal balistik dengan hulu ledak seberat ratusan kilogram,” kata mereka.

Juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan sistem pertahanan telah beroperasi, tetapi tidak berhasil mencegat rudal. “Sistem pertahanan udara telah bekerja, tetapi tidak berhasil mencegat rudal. Kami akan menyelidiki insiden ini dan mengambil pelajaran darinya,” ujarnya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA)–yang tidak pernah memeriksa fasilitas nuklir Israel–menyatakan tidak ada indikasi kerusakan pada fasilitas nuklir di Dimona dan tidak terdeteksi peningkatan radiasi.

Direktur Jenderal Rafael Grossi menyerukan penahanan diri. Ia menyatakan, “Pengekangan militer maksimal harus dilakukan, khususnya di sekitar fasilitas nuklir”.

Serangan ini terjadi di tengah rangkaian serangan harian Iran sebagai balasan atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari, dan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk lebih dari 200 anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *