Home / Nasional / Filipina Umumkan Status Darurat Energi Imbas Perang AS-Iran

Filipina Umumkan Status Darurat Energi Imbas Perang AS-Iran

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr/Foto: REUTERS/Eloisa Lopez

Jakarta,REDAKSI17.COM – Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. resmi mengumumkan status darurat energi nasional. Kondisi ini terjadi imbas perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Deklarasi tersebut ditetapkan melalui Perintah Eksekutif Nomor 110 yang ditandatangani pada Selasa (24/3), dengan mempertimbangkan posisi Filipina sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak bumi. Pemerintah langsung membentuk sebuah komite untuk memastikan pergerakan, pasokan, distribusi dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, produk pertanian dan barang-barang penting lainnya.

“Deklarasi keadaan darurat energi nasional akan memungkinkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah responsif dan terkoordinasi berdasarkan undang-undang yang ada untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan oleh gangguan dalam pasokan energi global dan ekonomi domestik,” kata Marcos dikutip dari Reuters, Rabu (25/3/2026).

Marcos juga mengarahkan Kementerian Keuangan untuk berkoordinasi dengan bank sentral Filipina guna memantau secara cermat dampak konflik Timur Tengah terhadap peso Filipina, pengiriman uang, termasuk risiko depresiasi peso.

Deklarasi tersebut akan berlaku selama satu tahun sehingga memberi wewenang kepada pemerintah untuk membeli bahan bakar dan produk minyak bumi lebih banyak guna memastikan pasokan tepat waktu dan mencukupi. Jika perlu, pembayaran dilakukan sebagian dari jumlah kontrak di muka.

Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengatakan bahwa negaranya memiliki persediaan bahan bakar sekitar 45 hari berdasarkan tingkat konsumsi saat ini. Pihaknya sedang berupaya untuk membeli 1 juta barel minyak dari negara-negara di dalam dan luar Asia Tenggara untuk meningkatkan stok, meski kemungkinan ada keterlambatan.

Menjelang perintah eksekutif tersebut, para senator mengkritik pemerintah karena dianggap kurangnya respons dan koordinasi terpadu terhadap lonjakan harga minyak. Hal itu dapat memicu inflasi ke tingkat yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun dan melemahkan pertumbuhan ekonomi.

Para pekerja transportasi hingga penumpang bahkan berencana melakukan pemogokan selama dua hari mulai Kamis (26/3) untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar. Mereka menyebut ini sebagai kegagalan pemerintahan Marcos dalam bertindak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *