Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga emas dan perak mulai pulih tetapi masih dalam tekanan.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (24/3/2026) ditutup di posisi US$ 4473,59 per troy ons atau melesat 1,54%.
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah emas tumbang selama sembilan hari beruntun dan ambruk 15%.
Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Rabu (25/3/2026) pukul 06.36 WIB, harga emas menguat 0,69% ke US$ 4504,49 per troy ons.
Kenaikan emas ditopang adanya potensi melandainya ketegangan di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Selasa (24/3/2026) bahwa Amerika Serikat membuat kemajuan dalam upaya menegosiasikan akhir perang dengan Iran, termasuk memperoleh konsesi penting dari Teheran. Seorang sumber juga mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan proposal penyelesaian berisi 15 poin kepada Iran.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS sedang berbicara dengan orang-orang yang tepat di Iran untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri permusuhan, seraya menambahkan bahwa pihak Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.
Hingga kini, Iran masih membantah negosiasi tersebut.
“Jika perang berlanjut dan harga energi terus naik, itu bukan kabar baik bagi emas,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, kepada Reuters.
“Emas kemungkinan akan berada di bawah tekanan pada kuartal kedua, tetapi saya pikir menjelang akhir tahun prospek emas akan kembali menarik,” imbuhnya.
Dia berharap bank sentral seperti The Federal Reserve (The Fed) memiliki lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakan, sehingga dolar bisa melemah dan suku bunga turun.
Emas batangan, yang dikenal sebagai aset safe haven dan lindung nilai terhadap inflasi, cenderung kehilangan daya tarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Perang Iran secara efektif telah menghentikan pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global melalui Selat Hormuz, sehingga mendorong harga energi naik dan memicu kekhawatiran inflasi. Bank-bank sentral utama juga menegaskan kesiapan mereka untuk bertindak jika perang memicu lonjakan harga yang lebih luas.
“Penurunan harga terbaru kemungkinan sama berlebihannya dengan kenaikan besar di awal tahun. Dalam arti tertentu, bandul telah berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya untuk emas,” tulis analis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada Reuters.
Harga perak justru terus menunjukkan perbaikan.
Merujuk Refinitiv, harga perak ada perdagangan Selasa (24/3/2026) ditutup di posisi US$ 71,23 per troy ons atau melesat 3%.
Penguatan ini memperpanjang tren positif perak yang sudah menguat 5% dalam dua haru beruntun.
Harga perak masih melesat pada hari ini. Pada Rabu (25/3/2026) pukul 06.36 WIB, harga perak melesat 1,32% ke US$ 4471,3 per troy ons.





