Home / Aneka WarNA / Kisah pernikahan Ganjil Raja Abah Guru Sekumpul

Kisah pernikahan Ganjil Raja Abah Guru Sekumpul

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Rasullullah mengutus Cucunya untuk membantu seorang Habib di Martapura bermimpi berjumpa Rasulullah ﷺ. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda,
“Zaini ingin menikah. Ia rajin bershalawat kepadaku, memujiku, mengajarkan ilmuku. Bantulah dia, dan engkau harus turun tangan.”
Pagi itu juga, Habib tersebut mendatangi rumah Guru Zaini. Orang tua beliau menyambut baik, namun meminta bermusyawarah terlebih dahulu dengan Syekh Semman Mulia. Sang paman pun setuju, namun restu belum lengkap tanpa izin Guru Bangil, Syekh Muhammad Syarwani Abdan.
Guru Zaini pun berangkat ke Bangil. Setelah mendengar penuturan beliau, Guru Bangil gembira dan menyarankan satu hal lagi: sowan kepada KH. Hamid Pasuruan.
Malam masih pekat ketika Guru Zaini berangkat. Ia tiba di Pasuruan tepat saat adzan Subuh berkumandang di Masjid Al-Anwar. Seusai shalat dan majelis Burdah pagi Jumat itu, KH. Hamid memanggil beliau mendekat. Dengan tangan penuh kasih, KH. Hamid memegang paha Guru Zaini dan berkata singkat—namun penuh makna—bahwa beliau merestui dan mendoakan pernikahan itu.
Restu telah sempurna.
Sepulang ke Martapura, urusan jodoh diserahkan kepada “dapur”—ibunda tercinta Masliyah dan adinda beliau, Ibu Rahmah. Maka terpilihlah seorang wanita shalihah, Juwairiyah binti H. Sulaiman, dari Kampung Pesayangan, Martapura.
Pernikahan pun dilangsungkan dengan sederhana, namun sarat keberkahan. Pagi itu, Guru Zaini diantar dari rumah ayah angkat beliau, Al-Habib Zean bin Muhammad Al-Habsyi, digandeng oleh KH. Badruddin dan Syekh Semman Mulia, menuju rumah mempelai perempuan. Para habaib dan alim ulama hadir, menyaksikan ikatan suci yang lahir dari doa, adab, dan restu para kekasih Allah.
Sebuah pernikahan yang bukan sekadar menyatukan dua insan,
melainkan disaksikan langit dan diberkahi Rasulullah ﷺ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *