Kisah luar biasa ini datang dari sosok polisi paling jujur yang pernah dimiliki oleh sejarah Republik Indonesia, yaitu Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Di masa ketika jabatan tinggi sering kali dijadikan jalan pintas untuk memperkaya diri dan menerima suap, Hoegeng justru menunjukkan integritas baja yang membuat para koruptor dan pengusaha hitam gemetar ketakutan.
Pada tahun 1960, Hoegeng baru saja ditunjuk untuk menduduki jabatan penting sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Sebelum ia sempat pindah ke rumah dinas barunya, para pengusaha nakal dan bandar judi yang ingin mencari muka diam-diam telah menyulap rumah dinas tersebut.
Mereka mengisi seluruh ruangan kosong itu dengan perabotan yang sangat mewah, mulai dari kursi mahal, lemari jati, hingga barang elektronik impor mutakhir pada zaman itu. Tujuannya sangat jelas, mereka ingin menyogok sang pejabat baru agar bisnis gelap mereka nantinya bisa dilindungi dan dibiarkan beroperasi.
Namun, apa yang terjadi saat Hoegeng tiba di rumah dinasnya sungguh menghancurkan harapan para pengusaha licik tersebut. Bukannya senang melihat kemewahan gratis di depan mata, jenderal berperawakan kurus ini justru marah besar.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa rasa kompromi sedikit pun, Hoegeng langsung memerintahkan para staf dan kuli angkut untuk mengeluarkan semua perabotan mewah bernilai jutaan Rupiah itu detik itu juga. Ia memaksa mereka membuang seluruh kursi dan meja mahal tersebut ke pinggir jalan raya di depan rumahnya hingga menumpuk seperti rongsokan. Ia sama sekali tidak sudi beristirahat di rumah yang diisi dengan barang hasil suap.
Tindakan ekstrem ini langsung menjadi tamparan keras yang mempermalukan para pengusaha hidung belang. Tidak berhenti sampai di situ, pada hari yang sama Hoegeng juga dengan tegas memerintahkan istrinya untuk segera menutup toko bunga kesayangan yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga mereka.
Alasannya sungguh bikin merinding. Ia tidak ingin ada pihak mana pun yang sengaja memborong bunga di toko istrinya dengan harga tidak wajar hanya sebagai kedok halus untuk menyuap dirinya. Kisah Jenderal Hoegeng ini menjadi legenda abadi, membuktikan bahwa pernah ada pejabat tinggi negara yang lebih memilih hidup pas-pasan daripada harus melacurkan harga dirinya demi harta haram.





