SEMARANG,REDAKSI17.COM — Kondisi pangan global dalam ancaman serius akibat perang baru Iran – Israel dan AS yang membuat tekanan harga pangan dunia akan terus naik. Tekanan perang Ukraina dan Rusia pun belum reda pengaruhnya. Dua perang ini membuat “bencana” serius dalam hal keseimbangan pangan global.
Program MDGs gagal mengatasi kelaparan pangan global, ada satu milyar penduduk bumi yang terancam kelaparan dan bahkan banyak kematian karena kelaparan global.
Target SDGs ke 2 pada 2030 mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, mendorong pertanian berkelanjutan nampaknya akan terancam gagal untuk kali kedua karena perubahan ekstrim peta pangan global.
“Artinya dunia gagal mengatur perputaran pangan global, adanya perang Iran – Amerika dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global membuat negara produsen pangan berprinsip tahan pangan untuk mereka sendiri,” papar Riyono Caping, Aleg Komisi IV DPR RI.
Menurut Riyono, kegagalan global distribusi pangan mengakibatkan harga pangan dunia naik, ketersedian menurun dan permintaan tinggi. Komoditas pangan berubah menjadi komoditas politik yang sering merugikan petani.
“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan “menjajah” suatu negara atas nama impor sedangkan produsen utamanya yaitu petani dan negaranya masih tetap miskin dan menderita,” tambah Riyono
Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan ini pun memaparkan tiga rekomendasi langkah yang perlu disiapkan untuk mengamankan pangan di Indonesia.
Pertama, menghadapi kondisi global saat ini yang cenderung menuju krisis maka Indonesia harus menfokuskan ketersedian pangan sebagai pondasi utama kedaulatan pangan. Cadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya.
Kedua, perlindungan kepada petani sebagai produsen pangan utama dengan skema insentif harga produk pertanian yang bagus. Harga GKP dan Jagung yang sudah bagus harus tetap di pertahankan, kalau perlu ditambah dengan asuransi hasil pertanian karena menghadapi resiko kemarau panjang.
Ketiga, jaga politik anggaran sektor pertanian dan perikanan jangan dikenakan efisiensi. Anggaran pertanian yang 60 T jangan di potong. Kenapa? Ketahanan pangan dan protein ada di sektor ini. Kalau diperlukan maka anggarannya harus ditambah untuk antisipasi krisis pangan dunia.
“Ketiga langkah diatas akan mampu melindungi Indonesia dari krisis pangan, rakyat jangan sampai mendapatkan harga pangan mahal karena imbas perang dan ketidakpastian global ini. Tugas negara hadir dan memastikan pangan sampai meja makan rakyat di pedesaan dan pelosok terluar bangsa ini,” tutup Riyono.



