Dulu, Indonesia jadi rebutan kaum kolonial karena rempah-rempahnya. Bayangkan jika berbagai rempah-rempah ada dalam satu batang rokok kretek. Banyak orang ngira kalau rokok kretek itu hanya tembakau dan cengkih. Ternyata ada rempah-rempah Nusantara lain di dalamnya yang menjadikan rokok kretek ini hanya ada di Indonesia.
Pernah dengar rokok yang bunyi saat dibakar?
Itu bukan dari apinya! Tapi dari rempah yang terbakar di dalamnya.
Kudus, tahun 1880.Seorang warga bernama Haji Djamhari sering sesak napas karena asma.Untuk meredakan sakitnya, ia terbiasa mengoleskan minyak cengkih di dadanya. Selain aromanya yang khas, cengkih memang bikin hangat dan napas lega.
Haji Djamhari itu seorang perokok. la coba bereksperimen mencampurkan cengkih ke dalam tembakau lalu menghisapnya.Saat dihisap, cengkih yang terbakar di dalam tembakau mengeluarkan suara “keretek… keretek…”
Itulah kenapa jenis rokok ini kelak di kemudian hari disebut rokok kretek.
Bagi Haji Djamhari,setiap isapan rokok kreteknya adalah kehangatan yang justru meredakan sakit asma dan melegakan napasnya.
Sementara itu Nitisemito, warga Kudus lainnya, melihat racikan sederhana Haji Djamhari ini sebagai peluang bisnis.Naluri bisnisnya langsung bekerja .
Kretek yang dulu hanya dibuat rumahan dan dilinting dengan kulit jagung, lalu ia ubah menjadi kretek yang digulung dengan kertas rokok.Rokok kretek buatannya dipasarkan ke lebih banyak tempat lagi. Usahanya berkembang jadi besar.
Berbeda dengan rokok di banyak negara, kretek menggunakan cengkih sebagai campuran utama.
60-80% Tembakau
30-40% Cengkih
Komposisinya biasanya:
Yang bikin istimewa, rokok kretek juga diracik dengan sauce khusus dari bahan-bahan rempah Nusantara pilihan lainnya kayak kelembak, kayu manis, akar wangi, jinten, adas, dan yang lainnya.
Perkembangan rokok kretek gak lepas dari keberadaan pohon cengkih itu sendiri.
Sejak dulu cengkih banyak hidup di Maluku. Lalu menyebar juga di Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan Timur, sampai Nusa Tenggara Timur.
Gak heran jika Indonesia adalah penghasil cengkih terbesar di dunia! Hasil produksi per tahun mencapai lebih dari 120.000 ton.
Siapa yang ngira, bermula dari Haji Djamhari yang iseng mencoba ngobatin asmanya, sekarang malah jadi industri besar di Indonesia.
Tak kurang dari 6 juta orang bekerja di industri ini. Mulai dari petani tembakau, petani cengkih, sampai pekerja pabrik.





