Home / Sejarah Seni dan Budaya / Pasar Gede Sudah Ada Sebelum Kota Mataram Islam Berdiri

Pasar Gede Sudah Ada Sebelum Kota Mataram Islam Berdiri

Kotagede sebagai Kota Dagang: Tata Kota, Jaringan Ekonomi, dan Komunitas Pengrajin yang Mendahului Mataram Islam

Oleh M. Basyir Zubair

Sebuah pasar tidak tumbuh dalam semalam. Ia tumbuh dari generasi ke generasi, dari kebutuhan yang nyata, dari tangan yang terampil, dari jalur yang sudah terbentuk jauh sebelum ada kekuasaan yang mengklaimnya.

Narasi besar tentang berdirinya Mataram Islam selalu dimulai dari adegan yang sama: hutan Mentaok yang sunyi, ki Ageng Pamanahan yang datang membuka lahan, lalu dalam hitungan dekade lahirlah kota dan kerajaan.

Narasi ini heroik, dramatis dan menyimpan satu kejanggalan besar yang selama ini tidak cukup digugat: tidak ada kota besar yang tumbuh dari nol dalam dua dekade. Tidak ada.
Kerajaan Mataram Islam menjadi kekuatan yang oleh catatan De Houtman (1596) digambarkan sebagai kerajaan terkuat di Jawa, bahkan mengancam Banten, hanya beberapa tahun setelah Pamanahan datang ke Mentaok.

Kekuatan sebesar itu tidak lahir dari hutan. Ia lahir dari fondasi yang sudah lebih dulu ada: pasar yang sudah ramai, komunitas pengrajin yang sudah terorganisir, jalur perdagangan yang sudah aktif, dan tata ruang kota yang sudah terbentuk.
Artikel ini mengajukan satu argumen yang sederhana tapi mendasar: Kotagede adalah kelanjutan, bukan permulaan. Dan Pasar Gede adalah saksi terkuatnya.

I. Kotagede Sebelum Pamanahan: Data yang Terabaikan

Jauh sebelum Ki Ageng Pamanahan datang ke kawasan Mentaok, kawasan ini sudah memiliki identitas. Pararaton kitab sejarah Jawa yang disusun antara 1481–1600 M, mencatat jabatan Bhre Mataram sebagai jabatan gubernatorial resmi Majapahit. Ada penguasa Majapahit yang berkedudukan di Mataram. Ada struktur pemerintahan. Ada masyarakat yang diaturnya.

Banawa Sekar, kakawin era Majapahit akhir, menyebut ‘Natharata ring Mataram’ dalam konteks upacara kerajaan. Mataram bukan wilayah pinggiran, ia cukup penting untuk disebut dalam ritual tertinggi kerajaan terbesar Nusantara. Dan ekskavasi Situs Keputren Pleret oleh BRIN pada September 2023 menemukan gerabah berornamen Majapahit abad ke-13, benda bangsawan, bukan benda desa terpencil terkubur di bawah bekas keraton era Islam.

Tradisi lokal menyebut Ki Joyoprono sebagai penguasa kawasan Mentaok sebelum kedatangan Pamanahan. Ia tidak terusir dengan kekerasan. Ia pergi dengan syarat yang dipenuhi, Ki Ageng Pamanahan harus menggendongnya. Tempat ia akhirnya tinggal kemudian dikenal sebagai Kampung Jayapranan dan menurut catatan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Jayapranan adalah kampung TERTUA di Kotagede. Lebih tua dari semua kampung yang dibentuk era Mataram Islam.

DATA KUNCI: Bhre Mataram dalam Pararaton · Natharata ring Mataram dalam Banawa Sekar · Gerabah Majapahit abad ke-13 di Pleret (BRIN, 2023) · Kampung Jayapranan sebagai kampung tertua Kotagede (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta).
Kampung tertua di Kotagede bukan kampung yang dibangun Pamanahan. Ia kampung dari orang yang ada sebelum Pamanahan.

II. Catur Gatra Tunggal: Warisan Majapahit, Bukan Inovasi Senopati
Konsep Catur Gatra Tunggal, keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai satu kesatuan tata kota selama ini diatribusikan kepada Panembahan Senopati. Tapi penelusuran historis menunjukkan sebaliknya secara sangat jelas.

Kitab Nagarakretagama yang digubah Mpu Prapanca pada tahun 1365 lebih dari dua abad sebelum Kotagede berdiri, menggambarkan tata kota Majapahit yang sudah memiliki pusat kekuasaan, ruang publik, pusat ritual keagamaan, dan aktivitas ekonomi dalam satu poros. Pola tata kota keraton-alun-alun-pasar dalam poros selatan-utara bukan temuan Mataram Islam. Ia adalah warisan peradaban Jawa yang sudah berusia ratusan tahun sebelum Senopati lahir.

Senopati bukan arsitek konsep ini. Ia pewaris yang cerdas: ia mengambil pola yang sudah diakui dan dipahami oleh masyarakat Jawa, lalu menerapkannya di Kotagede. Hasilnya: kota yang terasa familiar bagi masyarakat yang sudah mengenal pola ini selama generasi, bukan kota asing yang dipaksakan dari luar.

NAGARAKRETAGAMA (1365 M): Pola tata kota pusat kekuasaan, ruang publik, pusat ritual, pasar sudah digunakan Majapahit lebih dari 200 tahun sebelum Kotagede berdiri. Catur Gatra Tunggal adalah warisan, bukan inovasi.
Dan ada detail arsitektur yang tidak bisa diabaikan: Masjid Gedhe Kotagede, yang dibangun 1575–1589, menggabungkan lebih dari 100 relief dekoratif bergaya Hindu-Buddha, atap tumpang khas Jawa pra-Islam, dan parit bersuci yang mengingatkan pada tradisi petirtaan Hindu. Masjid itu bukan dibangun di atas kekosongan budaya, ia dibangun oleh orang-orang yang mewarisi tradisi arsitektur dan estetika yang sudah berabad-abad.
Masjid Gedhe Kotagede punya lebih dari 100 relief Hindu-Buddha. Itu bukan kebetulan. Itu warisan dari tangan yang sudah terlatih jauh sebelum Islam datang.

III. Pasar Gede: Lebih Tua dari Kotanya
Nama yang Tak Bisa Dibohongi

Nama adalah fosil bahasa. Dalam tradisi penamaan Jawa, sebuah pasar tidak disebut ‘gede’ (besar) sejak hari pertama ia dibuka. Julukan ‘gede’ adalah akumulasi waktu, pengakuan kolektif yang datang dari generasi demi generasi yang mengenal, menggunakan, dan mengandalkan pasar itu. Pasar baru tidak pernah langsung besar.

Pasar Gede Kotagede juga dikenal dengan nama Pasar Legi atau Sarlegi, karena hari pasarannya adalah Legi dalam kalender Jawa. Sistem hari pasaran lima hari Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, adalah tradisi pasar Jawa yang berakar jauh sebelum Islam masuk ke Jawa. Ia bukan sistem yang diperkenalkan Mataram Islam. Ia adalah warisan tradisi ekonomi Jawa kuno yang terus berlanjut tanpa pernah putus.

Posisi yang Berbicara Sendiri

Pasar Gede terletak di persimpangan empat jalan utama Kotagede. Ini bukan perencanaan kota baru. Persimpangan tidak dibuat untuk pasar, pasar tumbuh di persimpangan yang sudah ada, karena persimpangan adalah titik pertemuan alami bagi manusia dari berbagai arah. Dan jalur-jalur yang membentuk persimpangan itu sudah ada jauh sebelum Pamanahan datang.

Posisi pasar yang tidak pernah berubah meski kota di sekitarnya sudah berkali-kali direnovasi dan dibangun ulang adalah bukti tersendiri. Sumber-sumber sejarah Kotagede dengan konsisten mencatat bahwa meski bangunan fisik pasar sudah berulang kali dipugar, posisinya tidak bergeser sejak zaman Mataram. Sesuatu yang posisinya tidak pernah berubah selama berabad-abad bukan sesuatu yang baru, ia adalah titik referensi yang sudah terlalu mapan untuk digeser.

POSISI PASAR: Posisi Pasar Gede di persimpangan empat jalan tidak berubah sejak zaman Mataram hingga hari ini. Posisi yang tidak bisa digeser adalah posisi yang sudah ada jauh sebelum ada yang membangunnya secara formal.

Sutawijaya dan Pasar: Satu Cerita Dua Versi

Ada satu episode historis yang perlu dibaca dengan hati-hati: gelar Ngabehi Loring Pasar, Raden dari Utara Pasar yang disandang Sutawijaya. Berbagai sumber sejarah mencatat bahwa gelar ini diberikan oleh Sultan Hadiwijaya ketika Sutawijaya diangkat sebagai anak angkatnya dan diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar. Pasar mana yang dimaksud? Sumber-sumber itu tidak secara eksplisit menyebutnya pasar Kotagede.

Yang menarik: tradisi tutur Kotagede menyebut bahwa ketika Sutawijaya akhirnya menetap di Kotagede bersama ayahnya Ki Ageng Pamanahan, ia pun bertempat tinggal di sebelah utara pasar yang kelak menjadi Pasar Gede. Jika tradisi ini akurat, maka ada dua kemungkinan yang sama-sama menarik: pertama, gelar Loring Pasar yang ia bawa dari Pajang ternyata cocok juga dengan posisinya di Kotagede, karena di Kotagede pun ia tinggal di utara pasar. Atau kedua, gelar itu justru melekat padanya karena ia memang selalu memilih tinggal di utara pasar, di Pajang maupun di Kotagede.

Kedua kemungkinan itu sama-sama menunjukkan satu hal: pasar sudah ada di Kotagede sebelum Sutawijaya menjadi penguasanya. Tidak ada yang tinggal ‘di utara pasar’ jika pasarnya belum ada.
Seseorang tidak tinggal ‘di utara pasar’ jika pasarnya belum ada. Pasar Gede sudah ada sebelum Sutawijaya tiba di Kotagede.

IV. Komunitas Pengrajin: Bukti Ekonomi yang Tak Terbantahkan

Jika ingin membuktikan bahwa sebuah kawasan sudah memiliki kehidupan ekonomi yang mapan sebelum ada kerajaan yang mengklaimnya, lihatlah nama-nama kampungnya. Nama kampung adalah rekaman sosial yang paling jujur, ia terbentuk dari pengalaman kolektif yang panjang, bukan dari keputusan satu raja dalam satu malam.

Di Kotagede, nama-nama kampung yang berkaitan langsung dengan profesi pengrajin adalah: Pandheyan (komunitas pandai besi dan logam), Sayangan (komunitas pengrajin tembaga dan perunggu, material gamelan, kentongan, dan peralatan ritual Hindu-Jawa), Mranggen (komunitas empu keris dan pembuat senjata tradisi yang sudah ada sejak abad ke-9 M), dan Samakan (komunitas penyamak kulit).

Keempat komunitas ini bukan komunitas yang bisa lahir dalam satu generasi. Tradisi pandai besi diwariskan dari guru ke murid selama puluhan tahun. Keahlian membuat keris yang bersifat spiritual sekaligus teknikal, memerlukan masa belajar yang panjang dan tradisi yang terus-menerus. Komunitas Sayangan yang membuat perunggu adalah keturunan langsung pengrajin yang melayani kebutuhan ritual Hindu-Jawa jauh sebelum masjid dibangun. Mereka semua sudah ada sebelum Pamanahan datang.

LOGIKA SEDERHANA: Komunitas pengrajin tidak bisa hidup tanpa pasar untuk menjual produknya. Jika komunitasnya sudah ada sebelum Pamanahan datang, maka pasar distribusinya pun sudah ada sebelum itu.
Dan dari sinilah lahir Kotagede sebagai kota perak yang dikenal hingga hari ini. Bukan karena keraton meminta pengrajin baru datang dari luar. Tetapi karena komunitas pengrajin logam yang sudah ada di sana dengan semua keterampilan dasarnya, kemudian mendapat pembeli baru yang jauh lebih besar: keraton yang memerlukan perhiasan, peralatan upacara, dan aksesori kebesaran dalam jumlah besar. Keraton tidak menciptakan pengrajin Kotagede. Keraton hanya memberi mereka pasar yang lebih besar.

V. Jalur Perdagangan: Kotagede dalam Jaringan Jawa

Kawasan Mataram terletak di tengah Pulau Jawa, tepat di poros jalur barat-timur yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun yang bergerak melintasi pulau. Ini bukan posisi yang kebetulan. Ini adalah posisi yang memastikan bahwa kawasan ini selalu menjadi bagian dari pergerakan manusia, barang, dan informasi dari era Majapahit hingga era Islam.

Bukti paling konkret tentang aktifnya jaringan ini di era transisi datang dari episode yang dicatat dalam tradisi sejarah Mataram: dalam ekspansi awal Senopati, pasukannya menghentikan petugas pajak dari barat yang hendak ke Pajang. Episode ini bukan hanya catatan tentang keberanian Senopati. Ia adalah konfirmasi bahwa ada jalur resmi sirkulasi pajak yang melintasi Mataram secara rutin, ada petugas yang secara teratur melewati kawasan ini, dan kawasan Mataram sudah dikenal sebagai titik yang harus dilewati dalam jaringan ekonomi kerajaan.

Semua itu bukan ciri kawasan yang baru ‘dibuka dari hutan’. Itu ciri kawasan yang sudah lama menjadi simpul dalam jaringan yang lebih besar. Dan catatan De Houtman (1596) yang menyebut Mataram sebagai kerajaan terkuat di Jawa hanya beberapa tahun setelah Senopati berkuasa adalah konfirmasi terakhir: kekuatan itu tidak lahir dari nol. Ia lahir dari fondasi yang sudah lama terbentuk.

DE HOUTMAN (1596): Hanya beberapa tahun setelah Senopati berkuasa, Mataram sudah digambarkan sebagai kerajaan terkuat di Jawa. Pertumbuhan secepat itu hanya mungkin jika fondasinya sudah ada sebelumnya.

VI. Tata Kota Kotagede: Anatomi Kota yang Tumbuh dari Dalam

Tata kota Kotagede memiliki sebuah keunikan yang sangat jarang dibahas: pola permukiman Between Two Gates deretan rumah membujur timur-barat, bangunan utama menghadap selatan, dibatasi pintu di kedua ujung jalan. Peneliti Yunisa Asrianie dalam tesisnya (UGM, 2016) mendokumentasikan bahwa pola ini tidak ditemukan di daerah lain di Jawa.

Keunikan itulah yang menjadi buktinya. Pola permukiman yang terlalu spesifik untuk bisa menjadi ciptaan satu era, dan terlalu konsisten untuk bisa menjadi kebetulan, adalah pola yang tumbuh dari dalam dari logika komunitas yang sudah ada lama, yang memiliki cara tersendiri dalam mengorganisir ruang hidup mereka. Bukan pola yang diberlakukan dari atas oleh kerajaan baru.

Dan ada satu ironi yang sangat berbicara dalam sejarah Kotagede: dari empat elemen Catur Gatra Tunggal, keraton, satu-satunya elemen yang benar-benar baru dibangun di era Mataram Islam adalah yang pertama dan paling total menghilang. Tidak ada yang tersisa kecuali dua batu. Sementara pasar yang ada sebelum Mataram Islam? Masih di sana, masih di tempat yang sama, masih buka setiap hari Legi. Dan masjid yang arsitekturnya mewarisi tradisi Hindu-Jawa? Masih berdiri, masih digunakan, sudah lebih dari empat ratus tahun.
Yang bertahan di Kotagede bukan keratonnya, tapi pasarnya dan masjidnya. Sejarah membuktikan mana yang punya akar lebih dalam.

VII. Senthong Joglo: Memori Hindu yang Hidup di Dalam Rumah

Di antara semua bukti kontinuitas peradaban di Kotagede, ada satu yang paling intim dan paling jarang disebut: senthong, ruang dalam joglo tradisional Kotagede.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat bahwa pada periode Jawa-Hindu, senthong joglo Kotagede digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan, dewi yang melindungi sawah dan memastikan panen. Ini bukan ornamen. Ini adalah ruang ritual yang aktif. Di dalam rumah-rumah yang kemudian menjadi bagian dari kota ibukota Mataram Islam, tradisi pemujaan Hindu-Jawa masih hidup dan masih dipraktikkan.

Petani-petani di kawasan Mataram yang merayakan panen dengan memuja Dewi Sri di senthong rumah mereka telah melakukan itu selama berabad-abad. Jauh sebelum ada masjid di sebelah barat alun-alun. Jauh sebelum ada Pamanahan. Jauh sebelum ada nama ‘Mataram Islam’. Tradisi itu tidak hilang dengan datangnya kekuasaan baru, ia hanya bertransformasi, berdampingan, dan melanjutkan hidupnya dalam bentuk yang sedikit berbeda.

Inilah bukti terdalam dari semua yang ada: peradaban yang tidak bisa dihapus oleh pergantian kekuasaan, karena ia hidup bukan di istana melainkan di ruang paling pribadi dalam rumah-rumah masyarakat biasa.

VIII. Sintesis: Kota Lama, Kekuasaan Baru

Dari seluruh data yang telah kita telaah, dari Pararaton hingga Nagarakretagama, dari nama kampung hingga posisi pasar, dari tradisi senthong hingga catatan De Houtman, dari ekskavasi Pleret hingga arsitektur masjid, satu pola menjadi sangat jelas:

Sebelum menjadi ibukota Mataram Islam, Kotagede telah memiliki permukiman yang terorganisir, pasar yang sudah mapan dan dikenal besar, komunitas pengrajin logam yang sudah beroperasi selama generasi, jalur perdagangan yang terhubung ke jaringan Jawa yang lebih luas, struktur sosial dengan pemimpin lokal yang diakui, dan tradisi spiritual yang berakar dalam.

Yang dilakukan Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati bukan membangun dari nol. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih cerdas: mereka mengintegrasikan sistem yang sudah ada ke dalam kekuasaan baru. Mereka membangun keraton di kawasan yang sudah memiliki pasar. Mereka mendirikan masjid di kota yang sudah mengenal logika ruang sakral. Mereka memerintah komunitas pengrajin yang sudah terampil. Mereka menerapkan pola tata kota yang sudah diakui masyarakat selama berabad-abad.

Inilah yang menjelaskan mengapa Mataram bisa berkembang begitu cepat hingga dalam hitungan dekade sudah menjadi kekuatan yang ditakuti seluruh Jawa. Bukan karena Senopati luar biasa seorang diri. Melainkan karena ia berdiri di atas fondasi yang sudah lama dibangun oleh orang-orang yang namanya tidak tersebut dalam babad mana pun.

Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan. Ia berdiri di atas peradaban yang telah lebih dahulu hidup, tenang, bekerja, dan berdagang, jauh sebelum sejarah menuliskan namanya.

IX. Penutup

Pasar Gede Kotagede adalah saksi paling setia dari sejarah kawasan ini. Letaknya tidak berubah. Hari pasarannya tidak berubah. Namanya tidak berubah. Ia tidak lahir dari keputusan raja. Ia tidak muncul dari pembukaan hutan. Ia tumbuh dari manusia, dari kebutuhan, dari waktu.

Nama ‘Pasar Gede’ adalah pengakuan kolektif yang diberikan oleh komunitas yang sudah mengenal pasar ini jauh sebelum ada kerajaan yang mengklaimnya. Sebuah pasar tidak disebut ‘gede’ oleh keputusan raja. Ia disebut ‘gede’ karena memang sudah besar, sudah lama, sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tak tergantikan.

Kotagede bukan kota yang diciptakan. Ia adalah kota yang dilanjutkan. Dan Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan, melainkan di atas peradaban yang telah lebih dahulu hidup, jauh sebelum sejarah menuliskan namanya.

Daftar Pustaka

Banawa Sekar (Bahtera Aneka Bunga). Kakawin karya Mpu Tanakung, era Majapahit akhir (abad ke-15).
Brandes, J.L.A. (ed.) (1920). Pararaton (Ken Arok), edisi ke-2 dengan catatan N.J. Krom. VBG 62.
De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th. (1974). De eerste Moslimse vorstendommen op Java. The Hague: Martinus Nijhoff.
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Ekskavasi Arkeologi Situs Keputren, KCB Kerto-Pleret. September 2023.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kawasan Kotagede: Sejarah dan Toponimi. kebudayaan.jogjakota.go.id (diakses 2025).
Kompas.com (2021). Panembahan Senopati, Pendiri Kerajaan Mataram Islam. 17 Agustus 2021.
Noorduyn, J. & Teeuw, A. (2006). Three Old Sundanese Poems. Leiden: KITLV Press.
Pararaton (Kitab Para Raja). Naskah Jawa Kuno, disusun antara 1481–1600 M.
Prapanca, Mpu (1365). Nagarakretagama (Desawarnana). Terjemahan: Slametmuljana (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Priswanto, Hery (BRIN). Temuan Ekskavasi Situs Keputren Pleret 2023. Diliput Tempo, Krjogja, IDN Times, Media Indonesia, September 2023.
Rahardjo, Supratikno (2011). Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.
Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200, edisi ke-4. Basingstoke: Palgrave Macmillan.
Van Mook, H.J. (1958). Kuta Gede. Dalam: The Indonesian Town: Studies in Urban Sociology. The Hague: W. van Hoeve. Terjemahan: Harsja W. Bachtiar (1972). Jakarta: Bhratara.
Yunisa Asrianie (2016). Potensi Pemukiman Rumah Tradisional Kotagede Sebagai Obyek Wisata. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Kotagede, Jogjakarta FB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *