Home / Sains dan Teknologi / Bagaimana Astronot Menghitung Waktu ?

Bagaimana Astronot Menghitung Waktu ?

ISS (International Space Station) mengelilingi Bumi sekitar 16 kali dalam 24 jam. Artinya, para astronot di sana bisa melihat matahari terbit dan terbenam sekitar 16 kali sehari kurang lebih setiap 90 menit sekali. Kalau benar-benar mengikuti siklus matahari tersebut, secara teori waktu salat bisa terjadi hingga 5 waktu × 16 siklus = 80 kali dalam sehari.
Tapi dalam praktiknya, tidak seperti itu. Saat astronot Muslim pertama, Sheikh Muszaphar Shukor, pergi ke ISS pada tahun 2007,
Malaysian National Fatwa Council menyusun panduan khusus ibadah di luar angkasa berjudul “A Guideline of Performing Ibadah at the ISS.”
Dalam panduan tersebut dijelaskan bahwa waktu salat tidak mengikuti siklus matahari di orbit, karena akan sangat tidak realistis.
Sebagai gantinya, astronot menggunakan acuan waktu di Bumi, utamanya waktu lokasi peluncuran (Baikonur, Kazakhstan). Dengan begitu, salat tetap dilakukan 5 waktu dalam 24 jam, bukan 80 kali.
Penentuan arah kiblat juga menyesuaikan kondisi. Prioritasnya adalah menghadap ke Ka’bah. Namun karena ISS bergerak sangat cepat mengelilingi Bumi, hal ini tidak selalu memungkinkan.
Jika sulit, diperbolehkan menghadap ke arah Bumi. Dan jika masih tidak memungkinkan, boleh menghadap ke arah mana saja sesuai kemampuan. Dalam kondisi microgravity (tanpa gravitasi), tubuh tidak bisa berdiri stabil seperti di Bumi. Karena itu, gerakan salat juga disesuaikan: bisa dilakukan sambil duduk, berpegangan, atau bahkan berbaring.
Semua ini didasarkan pada prinsip dalam Islam seperti istiṭā‘ah (melakukan sesuai kemampuan) dan kaidah “al-masyaqqah tajlibut taisir” yang berarti setiap kesulitan akan diiringi dengan kemudahan. Jadi, meskipun secara teori waktu salat di luar angkasa bisa mencapai 80 kali sehari, dalam praktiknya tetap dijalankan 5 waktu dengan penyesuaian yang memudahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *