Di era 1960-an, Indonesia adalah negara yang rapuh secara pangan. Namun, melalui strategi yang terukur dan disiplin, sebuah keajaiban ekonomi terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua dekade:
Revolusi Hijau yang Masif: Melalui program Bimas dan Inmas, pemerintah memperkenalkan teknologi pertanian modern kepada petani di seluruh pelosok negeri. Bibit unggul, pemupukan yang teratur, dan sistem irigasi waduk besar-besaran dibangun demi satu tujuan: swasembada.
Keberhasilan Swasembada 1984: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia tidak lagi membeli beras dari luar negeri. Sebaliknya, kita mampu memenuhi kebutuhan 160 juta jiwa penduduk saat itu secara mandiri. Ini adalah “Era Emas” bagi para petani Indonesia.
Solidaritas untuk Afrika: Kebanggaan ini tidak berhenti pada diri sendiri. Sebagai bentuk syukur, petani Indonesia melalui Presiden Soeharto menyumbangkan 100.000 ton gabah untuk membantu rakyat Afrika yang saat itu dilanda kelaparan hebat.
Pidato Legendaris di FAO: Di hadapan para pemimpin dunia di Roma, Soeharto menyampaikan bahwa kunci sukses Indonesia adalah menempatkan petani sebagai pilar utama pembangunan, bukan sekadar objek politik.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa jika kita fokus pada akar rumput dan kedaulatan lahan, bangsa ini memiliki kekuatan untuk menjadi raksasa yang mandiri. Ini bukan sekadar sejarah angka, tapi sejarah harga diri bangsa yang mampu berdaulat di atas piring nasinya sendiri.
Momen ini tetap menjadi standar emas dan pengingat bahwa Indonesia sejatinya adalah lumbung pangan yang luar biasa jika dikelola dengan visi yang tepat.
Sumber : good neis from id





