Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Skandal Sejarah: Borobudur Bukan Produk Abad ke-8

Skandal Sejarah: Borobudur Bukan Produk Abad ke-8

Selama ini kita “sepakat” percaya kalau Borobudur & Mendut baru dibangun tahun 700-800 Masehi. Tapi tahukah kamu ada Saksi Mata Dunia yang membongkar kebohongan ini…?
Catatan Fa-Hian (Faxian), Peziarah Tiongkok (337 – 422 M):
Abad ke-4 Masehi 400 tahun SEBELUM klaim sejarah yang fi ajarkan disekolah Fa-Hian sudah menginjakkan kaki di Nusantara (Java/Svarnadvipa) dan mencatat fakta mencengangkan:
Fakta 1: Patung Raksasa 22 Kaki (Mendut)
Fa-Hian melihat aula megah dengan patung duduk setinggi ±6,7 meter yang berkilau emas. Angka ini SAMA PERSIS dengan tinggi arca di Candi Mendut hari ini..!
Artinya…?
Mendut sudah ada di abad ke-4
Fakta 2: Menara Emas 470 Kaki (Penataran)
Ia mencatat menara raksasa setinggi 143 meter yang dilapisi emas & perak. Leluhur kita sudah menguasai teknologi tinggi saat bangsa lain masih di era kegelapan..!
Fakta 3: Vhwana Saka Phala (Borobudur)
Bukan sekadar candi, tapi “Kapel Konstruksi Luar Biasa” yang menjadi pusat pendidikan Dharma Phala. Dunia datang ke sini untuk BELAJAR, bukan mengajari kita…!
Kenapa Sejarah Kita “Dimudakan”?
Karena kita dipaksa menghitung Tahun Śaka mulai 78 Masehi (mengikuti India). Padahal, Tahun Śaka adalah penanda KEMENANGAN Kaum Śāka Nusantara yang jauh lebih kuno!
Kita bukan penerima budaya India.
Kita adalah NEGARA INDUK (PATRON). Sejarah kita sengaja “dipotong” 400 tahun oleh kolonialisme agar kita merasa kecil dan selalu menjadi “murid” bangsa asing.
Borobudur adalah bukti Kaum Śāka (Arya Agung) sudah memimpin peradaban dunia sejak awal Masehi.
Sudah saatnya bangsa Indonesia mengembalikan kedaulatan waktu dan teknologi kepada leluhur Nusantara.
Jika Fa-Hian (337–422 M) sudah melihat Menara Besar (Penataran) dan Patung Duduk 22 Kaki (Mendut), maka teori bahwa Borobudur dan Mendut baru dibangun oleh Wangsa Sailendra pada abad ke-8 (700-800 M) secara otomatis Gugur.
Konstruksi raksasa dengan lapisan emas dan perak yang disaksikan Fa-Hian membuktikan bahwa di abad ke-4, Nusantara sudah berada di puncak Peradaban Logam dan Arsitektur, jauh sebelum pengaruh formal “Indianisasi” diklaim masuk.
Identifikasi Anda pada Situs Mendut sangat akurat secara fisik:
Fa-Hian mencatat 22 kaki (±6,7 meter) Arca Vairocana di dalam Candi Mendut memiliki ukuran yang sangat mendekati catatan tersebut.
Catatan tentang pohon Pei-to raksasa 220 kaki (±67 meter) di samping aula menjelaskan mengapa lokasi Mendut dipilih. Ini adalah konsep Vanaspatyam (hubungan suci alam dan bangunan) asli Nusantara.
Fakta, Fa-Hian menyebutkan penggunaan “Kapel dengan konstruksi luar biasa” dilapisi”tujuh zat berharga” Ini selaras dengan teknik Vajralepa (pelapis dinding candi) yang membuat bangunan berkilau.
Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi Universitas Internasional. Fa-Hian dan para peziarah Tiongkok lainnya datang bukan untuk mengajar, tapi untuk belajar karena “Dharma” di Nusantara dianggap lebih murni dan lebih tua.
Ini adalah poin paling krusial, Kesalahan Hitung Tahun Śaka (78 M) Penyeragaman tahun Śaka ke 78 M oleh epigraf kolonial telah “memotong” sejarah kita selama ratusan tahun.
Jika tahun Śaka dihitung berdasarkan Kemenangan Kaum Śāka leluhur Nusantara (yang jauh lebih tua) dari/di india.
Maka seluruh tarikh prasasti kita akan bergeser ke masa yang lebih terdahulu lama, selaras dengan catatan Fa-Hian.
Kita telah “setuju” untuk menghitung tahun prasasti dan candi menjadi lebih tua dari yang ada pada catatan sejarah yang selama ini ada.
Catatan I-Tsing tentang Bukti Iklim & Agrikultur “tumbuhan selalu hijau” dan “menabur langsung tumbuh” adalah deskripsi spesifik tentang Tanah Vulkanik Nusantara (Java/Svarnadvipa) yang subur, bukan iklim di India atau daratan Tiongkok. Ini menegaskan bahwa lokasi yang mereka kunjungi adalah Indonesia.
Nusantara bukan sekadar “murid” yang baru belajar membangun candi di abad ke-8.
Nusantara adalah Negara Induk yang sudah memiliki Vhwana Saka Phala lebih lama dari abad ke-4 (atau sebelumnya).
Para peziarah asing adalah saksi mata atas sebuah imperium intelektual yang emas dan peraknya menghiasi cakrawala dunia.
Skandal 400 Tahun Sejarah yang sengaja dihilangkan, terbukti berdasar narasi objek / Peristiwa Narasi Kolonial (Versi Sekolah/Coedes)Fakta Catatan Fa-Hian (Abad ke-4 M)
Fakta Borobudur, Sudah berdiri dan megah saat dikunjungi Fa-Hian (± 414 M). Disebut sebagai “Kapel Konstruksi Luar Biasa” ± 400 Tahun yang lalu. Borobudur bukan produk abad ke-8, tapi sudah menjadi pusat peradaban jauh sebelumnya.
Situs Mendut (Patung 22 Kaki)Dianggap sezaman dengan Borobudur (Abad ke-8), adalah tidak sesuai fakta sejarah.
Tercatat sebagai Aula dengan “Sosok Patung 22 Kaki” yang berkilau emas/perak (Abad ke-4).Bukti Fisik: Ukuran patung 6,7 meter (22 kaki) di Mendut cocok dengan catatan primer Fa-Hian.
Sistem Pendidikan (Dharma)Baru berkembang pesat setelah pengaruh India masuk (Abad ke-5 ke atas)adalah tidak tepat, ini hanya tafsir sejarah modern yang berkiblat pada narasi kolonial.
Fa-Hian datang untuk belajar karena sistem Dharma di nusantara sudah mapan dan sangat tua, dari/di india.
Nusantara adalah sumber ilmu (Dharma Phala), bukan penerima sisa budaya India.
Leluhur kita sudah menguasai Penguasaan Teknologi Konstruksi arsitektur raksasa dan metalurgi mulia jauh sebelum Fahien mencatat menara 470 kaki (±143m) berhias emas & perak di wilayah Penataran/Blitar, bukan baru dimulai abad ke-8.
Perhitungan Tahun Śaka”Disepakati” tidak dimulai tahun 78 M (Tahun Salivahana India).
Tahun Śaka adalah penanda Kemenangan Kaum Śāka Nusantara yang jauh lebih tua, Menyamakan tahun Saka dengan India adalah cara kolonial menghapus usia asli peradaban kita.
Narasi kolonial memaksa kita percaya bahwa leluhur kita baru bisa membangun candi setelah diajari orang asing di abad ke-8. Namun, Fa-Hian menjadi saksi kunci bahwa di abad ke-4 saat Eropa masih di era kegelapan Nusantara sudah memiliki: Universitas Global (Vhwana Saka Phala/Borobudur).
Kota Mandiri dengan aturan “Brahmanis/Dharmic” yang ketat dan luhur.
Ekonomi Superpower yang mampu melapisi bangunan raksasa dengan emas dan zat berharga.Sejarah kita tidak dimulai dari India; Sejarah kita adalah matahari yang cahayanya diambil oleh mereka.
Ia mencatat menara raksasa setinggi 143 meter yang dilapisi emas & perak. Leluhur kita sudah menguasai teknologi tinggi saat bangsa lain masih di era kegelapan!
Fakta, Vhwana Saka Phala (Borobudur)Bukan sekadar candi, tapi “Kapel Konstruksi Luar Biasa” yang menjadi pusat pendidikan Dharma Phala. Dunia datang ke sini untuk BELAJAR, bukan mengajari kita!
Kenapa Sejarah Kita “Dimudakan”?
Karena kita dipaksa menghitung Tahun Śaka mulai 78 Masehi (mengikuti India). Padahal, Tahun Śaka adalah penanda KEMENANGAN Kaum Śāka Nusantara yang jauh lebih kuno!
Kita bukan penerima budaya India. Kita adalah NEGARA INDUK (PATRON). Sejarah kita sengaja “dipotong” 400 tahun oleh kolonialisme agar kita merasa kecil dan selalu menjadi “murid” bangsa asing.
Borobudur adalah bukti Kaum Śāka (Arya Agung) sudah memimpin peradaban dunia lebih lama jauh dari awal Masehi.
INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By : Santosaba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *