Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Komite Ekonomi Kreatif mulai mematangkan konsep Calendar of Event (CoE) terintegrasi sebagai strategi penguatan pariwisata dan ekonomi kreatif. Gagasan ini mengemuka dalam pertemuan yang digelar di Ruang Yudistira, Balai Kota Yogyakarta, Kamis (9/4).

Direktur Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri, menjelaskan bahwa Calendar of Event tidak sekadar daftar kegiatan tahunan, melainkan sebuah sistem kurasi strategis yang mampu mengorkestrasi berbagai event lintas sektor.

“Calendar of Event itu bukan hanya list kegiatan, tapi strategi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif, sekaligus instrumen city branding. Semua event baik seni budaya, MICE, maupun komunitas bisa terhubung dalam satu platform sepanjang tahun,” ujarnya.

Menurutnya, konsep ini juga dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota festival di tingkat global, sekaligus meningkatkan daya tarik wisata berbasis event.

Direktur Jogja Festivals

Dinda menawarkan model kurasi berlapis atau tiering system dalam pengelolaan event. Tier pertama adalah flagship event berskala nasional hingga internasional, tier kedua mencakup strategic events berskala nasional atau regional dengan potensi wisata tinggi. Sementara tier ketiga adalah community events yang berbasis partisipasi warga dan komunitas lokal.

“Dengan sistem ini, kita bisa menentukan prioritas dukungan, sekaligus menjaga keberlanjutan dan kualitas event di Kota Yogya,” jelasnya.

Selain itu, CoE juga akan dilengkapi dengan tematik bulanan, seperti wellnessheritage, hingga creative season, serta dibagi dalam beberapa lapisan, yakni kalender publik, industri (MICE), dan investasi.

Dinda menyoroti bahwa saat ini ekosistem event di Yogyakarta masih terdesentralisasi dan belum terintegrasi dalam satu platform. Padahal, potensi festival di kota ini dinilai sangat besar. Ia juga membandingkan Yogyakarta dengan Adelaide dan Singapura. Adelaide disebut sebagai kota festival dengan sistem semi-terpusat dan koordinasi kuat, sementara Singapura sangat selektif dan strategis dalam kurasi event dengan dukungan pendanaan besar.

“Yogyakarta ini emerging dan punya potensi tinggi. Tapi kita masih perlu penguatan integrasi, kurasi, dan koordinasi antar-stakeholder,” ungkapnya.

Diskusi bersama

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai pendekatan kreatif dari Komite Ekonomi Kreatif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan CoE yang tidak sekadar administratif, tetapi benar-benar produktif.

“Kalau hanya menggunakan cara berpikir birokrasi, ini tidak akan sukses. Karena birokrasi itu kuat di akuntabilitas, tapi sering kurang di kreativitas,” kata Hasto.

Ia berharap Komite Ekonomi Kreatif dapat merancang konsep yang lebih hidup dan inovatif, termasuk dalam mengklasifikasikan event serta menyusun kalender tematik tahunan. Pihaknya juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif, di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator.

“Kita bertanya, apa yang bisa pemerintah berikan. Bukan sebaliknya. Sentuhan kecil tapi tepat itu justru lebih berarti,” ujarnya.

Event keagamaan diusulkan dalam CoE sebagai bentuk toleransi di Kota Yogya

Pihaknya menargetkan konsep Calendar of Event terintegrasi mulai dapat diformulasikan pada 2026 untuk implementasi penuh pada 2027. Hasto menekankan pentingnya percepatan, terutama dalam aspek perencanaan anggaran dan infrastruktur pendukung.

“Kita harus gerak cepat. Dari brainstorming langsung diformulasikan, supaya yang perlu dianggarkan bisa segera diusulkan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mencontohkan beberapa langkah strategis yang tengah disiapkan, seperti penguatan event melalui kolaborasi lintas dinas, pengembangan perayaan keagamaan sebagai simbol kota toleran, hingga pengemasan Nyadran Agung dan festival takbiran sebagai daya tarik wisata.

“Kita ingin event-event ini tidak berdiri sendiri, tapi saling terhubung dan menjadi satu kekuatan besar untuk pariwisata dan ekonomi kreatif,”  ungkapnya.