
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui aktivitas fisik memasuki babak baru di Kabupaten Gunungkidul. Kepengurusan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Gunungkidul masa bakti 2026-2030 resmi dikukuhkan pada Kamis (9/4/2026) di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari.
Momentum ini membawa misi besar untuk mentransformasi olahraga dari sekadar aktivitas rekreatif menjadi gaya hidup keseharian warga. Pengukuhan ini didasarkan pada Surat Keputusan Ketua KORMI Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 003/SK/KORMI.DIY/II/2026.
Melalui ketetapan yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Ketua KORMI DIY, Kadarmanta Baskara Aji, organisasi ini kini resmi memulai langkah operasionalnya sebagai motor penggerak olahraga yang lebih terstruktur dan inklusif di Bumi Handayani.
Pembangunan Kualitas Hidup
Eksistensi KORMI di Gunungkidul tidak hanya dipandang sebagai formalitas administratif organisasi. Di bawah atap Bangsal Sewoko Projo yang sarat nilai sejarah, pengukuhan ini menjadi penanda bahwa olahraga masyarakat merupakan bagian integral dari strategi pembangunan manusia.
Dalam konsideran pengukuhannya, ditekankan bahwa olahraga masyarakat memiliki dimensi luas—sebagai ruang tumbuhnya kebersamaan, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan kohesi sosial. Olahraga kini diposisikan sebagai instrumen vital untuk menjawab tantangan gaya hidup modern yang cenderung pasif (sedentary lifestyle).
Sinergi Lintas Sektor
Struktur kepengurusan periode ini mencerminkan upaya kolaborasi lintas sektor yang kuat. Posisi Pelindung diisi oleh Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul, didukung oleh dewan penunjang yang melibatkan pimpinan instansi strategis, mulai dari sektor perencanaan, keuangan, pariwisata, hingga kesehatan.Secara operasional, nakhoda organisasi dipercayakan kepada Heri Nugroho sebagai Ketua, didampingi Wakil Ketua Bambang Sutrisno. Untuk menyentuh akar rumput, struktur organisasi diperkuat dengan komisi-komisi spesifik, seperti:
– Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya: Menitikberatkan pada pelestarian kearifan lokal.
– Olahraga Kesehatan dan Kebugaran: Fokus pada pencegahan penyakit tidak menular.
– Olahraga Petualangan dan Tantangan: Mengoptimalkan potensi topografi Gunungkidul yang unik.
Menyasar Akar Rumput
Tantangan bagi kepengurusan yang baru dilantik di jantung kota Wonosari ini adalah bagaimana menerjemahkan mandat organisasi ke dalam gerakan nyata di tingkat dusun. Gunungkidul, dengan bentang alamnya yang khas—mulai dari perbukitan karst hingga garis pantai selatan—memiliki potensi sebagai “laboratorium alam” untuk olahraga petualangan dan rekreasi.KORMI diharapkan mampu menghidupkan kembali festival olahraga tradisional dan senam massal berbasis komunitas.
Keberhasilan gerakan ini akan sangat bergantung pada sejauh mana organisasi mampu menjalin kemitraan dengan komunitas lokal agar olahraga tidak berhenti pada tataran seremoni, melainkan menjadi kebutuhan yang mengakar.
Dengan masa jabatan yang akan berlangsung hingga Februari 2030, publik menaruh harapan pada terobosan KORMI Gunungkidul dalam menciptakan masyarakat yang aktif secara budaya. Pengukuhan hari ini menjadi langkah awal dalam mengubah paradigma: bahwa olahraga bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan dasar manusia.



