Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sebanyak lebih dari seratus tumpeng dari berbagai elemen masyarakat dan instansi memadati halaman Kompleks Kepatihan dalam puncak peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (09/04). Sajian tumpeng ini bukan sekadar perlombaan, melainkan manifestasi semangat kolaborasi lintas sektor yang menjadi fondasi pembangunan Yogyakarta.
Asisten Sekda DIY Bidang Administrasi Umum sekaligus Ketua Panitia Hari Jadi ke-271 DIY, Srie Nurkyatsiwi, menyebut antusiasme peserta tahun ini di luar ekspektasi. Berbagai pihak mulai dari organisasi wanita seperti PKK, Dharma Wanita, BKOW, dan Bhayangkari, hingga institusi perbankan dan perguruan tinggi turut ambil bagian menuangkan narasi sejarah DIY dalam bentuk sajian tumpeng.
“Pesertanya luar biasa, lebih dari 100 peserta. Kami melihat bagaimana makna hari jadi ke-271 ini dituangkan secara kreatif melalui tumpeng. Ada yang membuat simbol angka dua, tujuh, dan satu. Ini adalah bentuk kolaborasi nyata antaranggota organisasi,” jelas Siwi di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.
Menariknya, seluruh tumpeng yang telah dilombakan tidak hanya menjadi pajangan. Panitia menyajikannya kembali untuk dinikmati oleh para tamu dan pengunjung yang hadir melalui tradisi Kembul Bujono atau makan bersama. Menurut Siwi, momentum ini menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Apa yang dilombakan, dipersembahkan kembali untuk dinikmati bersama. Di hari penutupan ini kita Kembul Bujono. Ini juga memberikan multiplier effect bagi ekonomi lokal, termasuk pedagang angkringan yang kita libatkan agar ikut merasakan perputaran ekonomi dalam perayaan ini,” tambahnya.
Siwi menekankan bahwa keterlibatan luas dari berbagai elemen, mulai dari komunitas hingga sektor formal, membuktikan bahwa membangun DIY memerlukan sinergi yang kuat. Semangat ini sejalan dengan komitmen Pemda DIY untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam melayani masyarakat.
“Harapan kami, kita semua terus bergerak dan berkreativitas. Peringatan ini menjadi bukti bahwa saat kita membangun pemerintah, kita tidak bisa sendiri. Kolaborasi inilah yang menjadikan DIY semakin istimewa,” pungkasnya.
Di antara ratusan sajian yang memadati Kompleks Kepatihan, Tumpeng Punar Jagung karya Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat DPRD DIY berhasil mencuri perhatian. Berhasil meraih Juara Harapan 1, tumpeng DWP Sekretariat DPRD DIY ini bukan sekadar nasi kuning biasa, tumpeng ini hadir dengan bahan baku inovatif berupa jagung dan singkong atau yang dikenal sebagai jagung analog.
Perwakilan DWP Sekretariat DPRD DIY, Marlina, menjelaskan bahwa pemilihan bahan non-beras ini merupakan langkah nyata untuk memperkenalkan alternatif makanan pokok kepada masyarakat. Selain sebagai bentuk diversifikasi pangan, jagung punar ini juga menawarkan opsi yang lebih sehat bagi penderita diabetes.
“Kami ingin menambah pilihan bahan baku pokok selain beras. Proses masaknya pun ternyata lebih cepat dibanding beras biasa, namun rasa tetap gurih atau dalam bahasa Jawa disebut punar,” ungkap Marlina.
Tak hanya soal inovasi bahan, tumpeng ini juga sarat akan filosofi mendalam. Marlina memaparkan bahwa bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini diperkuat dengan sajian lauk ingkung ayam yang bermakna posisi menunduk atau berserah diri kepada Sang Pencipta.
“Manusia harus berserah diri kepada Allah atas segala kehendak-Nya, namun di sisi lain kita tetap wajib berupaya,” tambahnya.
Detail menarik lainnya terlihat pada sajian sanggar, yaitu olahan daging, gudeg, dan telur, yang dibentuk menyerupai campit. Bentuk ini melambangkan dinamika kehidupan manusia yang selalu berubah dan penuh tantangan. Sementara itu, sambal goreng krecek dengan rasa pedasnya yang khas merepresentasikan dinamika rasa dalam perjalanan hidup.
Kesabaran para ibu DWP DPRD DIY dalam menyiapkan sajian ini pun patut diacungi jempol. Marlina menceritakan bahwa proses memasak gudeg memerlukan waktu lebih dari lima jam untuk mendapatkan warna merah alami dari gula merah, bukan daun jati.
“Persiapan sudah kami mulai sejak sore hari sebelumnya. Bagi kami, tumpeng ini adalah simbol kelembutan masyarakat sekaligus kekuatan untuk terus berupaya di tengah berbagai masalah kehidupan,” tutup Marlina.
Setelah melalui penilaian ketat berdasarkan rasa, kreativitas, dan filosofi, dewan juri menetapkan Komunitas Umum (Nafa Mosa Mahesa Ayu) sebagai Juara 1 dengan skor tertinggi 383. Disusul oleh Bhayangkari DIY sebagai Juara 2 dan TP PKK Kemantren Jetis di posisi Juara 3. Sementara itu, DWP Setwan DIY, TP PKK Kapanewon Pleret, dan Pariselo berhasil menyabet gelar Juara Harapan 1, 2, dan 3.
Humas Pemda DIY





