Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Masyarakat saat ini dinilai banyak mengalami “polusi batin” karena kondisi dunia yang terlalu sibuk dan bising. Menanggapi hal tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa suasana tenang seperti saat Nyepi bukan sekadar ritual rutin, melainkan kebutuhan penting agar manusia bisa tetap berpikir jernih dan menjaga arah hidup.
Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan saat menghadiri Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 di Yogyakarta, Jumat (10/4) di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta Bersama dengan jajaran Forkopimda dan pejabat di lingkungan Pemda DIY. Acara dimulai dengan ibadah bersama umat Hindu, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan suci Weda Wakya.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan mengatakan Nyepi mengajarkan manusia bahwa keheningan bukanlah sebuah kekosongan, melainkan kesempatan untuk melakukan evaluasi diri secara lebih jernih. Menurutnya, kegaduhan lahiriah saat ini sering kali membuat manusia kehilangan arah dan kepekaan nurani. Berbagai gangguan eksternal dan tuntutan hidup saat ini sering kali membuat manusia kehilangan fokus serta kepekaan nurani.
Sri Sultan mengingatkan pentingnya sikap wening, eling, lan waspada sebagai kendali diri agar masyarakat tidak hanya mengutamakan keinginan pribadi yang berisiko merusak kerukunan sosial. “Ketika batin manusia keruh, semesta pun terasa gaduh. Namun ketika batin menjadi jernih, harmoni pun menemukan jalannya,” ungkap Sri Sultan.
Sri Sultan menjelaskan bahwa kunci hidup tenang adalah adanya keseimbangan antara alam dan diri manusia. Sri Sultan juga mengingatkan agar manusia tidak sombong atau melupakan Tuhan, karena tidak adanya kesadaran diri hanya akan membuat arah hidup menjadi salah.
Momentum Dharma Santi ini pun diharapkan menjadi sarana untuk mengubah perenungan spiritual menjadi tindakan nyata. Sri Sultan mendorong agar nilai-nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan (satyam, çiwam, sundaram) diimplementasikan sebagai kekuatan moral dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, adil, dan bermartabat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Panitia Hari Suci Nyepi Saka 1948 DIY, I Gusti Nengah Suttartha, mengapresiasi semangat pengayoman yang dirasakan umat Hindu di Yogyakarta. Menurutnya, konsep Hamemayu Hayuning Bawono yang diusung pemerintah daerah sangat selaras dengan ajaran Hindu Vasudhaiva Kutumbakam, yaitu kesadaran bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga.
“Kami sangat merasakan bagaimana Pemerintah DIY memperhatikan dan tidak membeda-bedakan kami. Sebagai bagian dari keluarga besar Yogyakarta, kami diberikan kesempatan yang sama dalam menjalankan ibadah maupun berpartisipasi dalam pembangunan,” ujar Suttartha.
Ia menambahkan bahwa dukungan Pemda DIY melalui semangat Memayu Hayuning Projo memberikan ruang bagi umat untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan khidmat. Mulai dari ritual di Kaliurang hingga puncak Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan.
Suttartha menegaskan, momentum Dharma Santi ini memperkuat komitmen umat Hindu DIY untuk terus menjaga kerukunan melalui sikap tepa salira (tenggang rasa). Pihaknya berkomitmen untuk terus bersinergi mendukung berbagai program pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
Humas Pemda DIY




