Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Festival Langencarita 2026 yang digelar pada Kamis (9/4) di Grha Budaya Embung Giwangan berlangsung meriah sekaligus sarat makna. Ajang seni tradisional yang melibatkan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) dari 14 Kemantren ini tidak hanya menampilkan kreativitas, tapi juga menyampaikan pesan kuat tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengapresiasi penampilan para peserta yang dinilai mampu memadukan unsur gerak, musik, dan kekompakan secara optimal. Menurutnya, para peserta menunjukkan penguasaan gerakan yang lincah dan kompak, serta mampu menyelaraskan iringan gamelan dengan pertunjukan secara apik.

“Pesertanya sangat menguasai gerakan-gerakannya dengan lincah dan kompak. Gamelannya juga bisa sinkronisasi antara gerakan dan iringan dengan sangat bagus,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan bersama penampil Langencarita.

Ia juga menyoroti antusiasme penonton, khususnya para orang tua yang memberikan dukungan penuh kepada anak-anak mereka. Kehadiran para supporter tersebut dinilai menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi peserta untuk terus berkembang.

“Penonton luar biasa, para orang tua sangat mengapresiasi anak-anaknya yang ikut lomba. Ini harapan kami ke depan untuk terus selalu dikembangkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Wawan menilai Festival Langencarita memiliki potensi besar sebagai ciri khas Kota Yogyakarta. Ia juga mengapresiasi tema yang diangkat, yakni tentang lingkungan, yang dinilai relevan dengan kondisi saat ini.

“Cerita yang ditampilkan memiliki filosofi, terutama terkait lingkungan seperti sungai dan kondisi sekitar. Ini menunjukkan bahwa inovasi dalam langencarita bisa disesuaikan dengan kondisi zaman,” jelasnya.

Penampilan Langencarita dari Kontingen Pakualaman dan Mergangsan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menjelaskan bahwa Festival Langencarita merupakan pementasan cerita yang memadukan tembang, tari, dan iringan gamelan yang diperankan oleh anak-anak.

Menurutnya, festival ini menjadi ajang kompetisi terbuka dan berjenjang untuk mengukur potensi serta kualitas sajian seni langencarita di tingkat kota. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisional secara terstruktur.

“Festival ini bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan yang mengandung nilai pendidikan karakter, keluhuran budi, serta semangat kebinekaan yang relevan bagi generasi muda,” ujarnya.

Tokoh Ratu Uwuh dalam Langencarita Upoto.

Pada tahun ini, Festival Langencarita mengusung tema cinta alam dan kesadaran lingkungan. Tema tersebut menjadi refleksi atas kondisi lingkungan saat ini sekaligus sarana edukasi bagi anak-anak untuk menumbuhkan kesadaran menjaga dan merawat alam sejak dini.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian datang dari kontingen Kemantren Pakualaman dan Mergangsan dengan judul “Upoto”. Sutradara pertunjukan, Yuning Rosanti, mengungkapkan bahwa cerita tersebut mengangkat persoalan sampah di lingkungan, khususnya di bantaran sungai.

“Upoto menceritakan kondisi sungai yang dipenuhi sampah, sehingga air sebagai sumber kehidupan kalah oleh sampah. Ada tokoh ratu sampah yang memberi ancaman kepada manusia karena sampah itu ada akibat ulah manusia sendiri,” jelasnya.

Yuning menyebutkan, pertunjukan tersebut melibatkan sekitar 25 anak, baik sebagai penampil maupun pengrawit, dengan proses latihan yang relatif singkat, yakni sekitar 10 hingga 15 kali pertemuan.

“Harapannya anak-anak bisa menyampaikan pesan kepada orang dewasa untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilah sampah. Karena sampah juga akan bersikap baik jika manusia memperlakukannya dengan baik,” pungkasnya.