PAKUALAMAN,REDAKSI17.COM — Peran pemasyarakatan dinilai sangat penting dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Tidak hanya berfokus pada aspek pengamanan, petugas pemasyarakatan juga memiliki tanggung jawab dalam membina serta membekali warga binaan dengan keterampilan agar mampu kembali ke tengah masyarakat secara produktif.
Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat meresmikan Galeri Pemasyarakatan Daerah Istimewa Yogyakarta serta membuka Bazar Hasil Karya Warga Binaan yang berlangsung pada hari Jumat (10/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 yang mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima.”
Kegiatan bazar ini diikuti oleh sejumlah unit pelaksana teknis pemasyarakatan, di antaranya Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Yogyakarta, Bapas Wates, dan Bapas Wonosari. Beragam produk ditampilkan, mulai dari makanan dan minuman seperti bakpia, roti kering, jamu, hingga makanan siap saji, serta karya seni seperti lukisan, kentongan, dan batik ecoprint.
Pada kesempatan tersebut, Hasto menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalani masa hukuman, melainkan proses untuk kembali menjadi manusia yang utuh.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama rombongan saat memotong pita tanda peresmian Galeri Pemasyarakatan DIY dan Bazar Hasil Karya Warga Binaan, Jumat (10/4).

Menurutnya, pembinaan yang baik mampu membuka ruang bagi warga binaan untuk belajar, berkembang, serta menemukan kembali harapan hidup.
“Pemasyarakatan pada dasarnya adalah proses pembinaan yang menghadirkan harapan. Di balik keterbatasan, selalu ada potensi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan bazar yang menampilkan berbagai produk hasil karya warga binaan. Menurutnya, kreativitas yang ditunjukkan sangat mengesankan, bahkan mampu bersaing dengan produk di pasaran umum.
“Saya melihat langsung, produknya bagus, kemasannya tidak kalah dengan yang di luar. Bahkan bakpia yang diproduksi juga sudah lama saya kenal kualitasnya,” katanya.
Ia mengajak jajaran pemerintah daerah untuk turut mendukung dengan memesan produk-produk tersebut dalam berbagai kegiatan resmi. “Kita perlu memberi dukungan nyata sebagai bentuk apresiasi terhadap karya warga binaan,” tambahnya.
Pihaknya juga menambahkan, keberadaan galeri yang memanfaatkan ruang bekas gudang menjadi tempat pameran produk merupakan langkah inovatif yang patut diapresiasi.

Hasto bersama rombongan saat melihat karya seni buatan mantan narapidana.

Salah satu peserta bazar, Yuni, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia menjual berbagai makanan seperti pecel dan empek-empek hasil buatannya sendiri.
“Senang banget. Biasanya jualan di dalam Lapas, tapi dengan bazar ini jadi lebih cepat habis. Tadi pecelnya sudah ludes, tinggal empek-empek dan ayam geprek,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan ini sangat membantu dalam memperluas pemasaran produk sekaligus memberikan semangat bagi warga binaan maupun mantan narapidana untuk terus berkarya.