DANUREJAN,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak para pemuda  menjadi sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Tidak hanya bekerja tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang menyerap tenaga kerja. Mengingat para pemuda kini menghadapi berbagai tantangan seperti sandwich generations dan kesehatan mental. Para pemuda yang produktif dan sukses akan membawa kemajuan bagi Yogyakarta.
Demikian inti paparan materi yang disampaikan  Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menjadi pembicara kunci dalam kegiatan Temu Pemuda Kota Yogyakarta, pada Jumat (10/4/2026) di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta. Hasto menegaskan pemuda dengan SDM  berkualitas, produktif dan mampu menciptakan lapangan kerja adalah syarat untuk menuju Indonesia Emas.
“Syarat untuk Indonesia Emas, Indonesia maju itu, adik-adik pemuda ini harus berkualitas, mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan perempuan harus berdaya,”  kata Hasto saat Temu Pemuda Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjadi pembicara kunci dalam Temu Pemuda Kota Yogyakarta.

Hasto menyebut pemerintah menargetkan setiap seratus orang ada empat orang pengusaha. Dengan menjadi pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan bisa menyerap tenaga kerja untuk mengatasi pengangguran. Diharapkan para pemuda sukses, produktif dan menyerap tenaga kerja. Itu karena generasi muda kini menghadapi tantangan seperti sandwich generations yang memikul beban ekonomi membiayai kebutuhan hidup sendiri dan anak-anak mereka serta menanggung biaya perawatan orang tua.
Hasto menilai sandwich generations dipengaruhi kondisi fenomena aging population atau penuaan penduduk yang signifikan. Kota Yogyakarta kini menghadapi itu sehingga jumlah lansia banyak. Kondisi itu menempatkan generasi muda Yogyakarta pada titik balik kritis. Situasi ini diprediksi akan berdampak pada kemampuan menabung masyarakat. Jika tren itu berlanjut, Yogyakarta akan menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan kesejahteraan sosial di masa depan akibat hilangnya bonus demografi yang berganti menjadi beban demografi.

Hasto memberikan pesan dan semangat kepada para pemuda 

“Kita menghadapi aging population, tapi pendapatan per kapitanya belum bagus. Jangan sampai growing old before going rich. Sebetulnya saya tidak memprovokasi jadi orang kaya atau tidak. Yang saya provokasi itu, ingat selagi muda sebelum tua, selagi sehat sebelum sakit,” terangnya.
Hasto berpesan agar para pemuda meningkatkan skil atau kemampuan. Namun harus imbang antar hard skill dan soft skill. Termasuk masalah stunting,  napza dan, mental disorder anak-anak muda.  Menurutnya fenomena itu menjadi tantangan besar bagi masa depan Yogyakarta, mengingat tanggung jawab pembangunan dan keberlangsungan ekonomi akan sepenuhnya berada di pundak generasi muda saat ini.
” Ini mempertegas perlunya persiapan matang bagi para pemuda Yogyakarta untuk siap menghadapi tanggung jawab besar sebagai pemimpin masa depan di tengah tantangan populasi yang menua,” tegas Hasto.

Temu Pemuda Kota Yogyakarta diadakan Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Yogyakarta dan Ruang Kolaborasi Pemuda Kota Yogyakarta. Kegiatan itu untuk memperkuat silaturahmi dan mendorong penguatan peran pemuda dalam pembangunan daerah.
“Kami berharap ini menjadi satu momentum bersama bahwa pemuda di seluruh daerah dapat berkolaborasi, bahu-membahu menyukseskan semua agenda-agenda pemerintah. Dan juyq  sebagai suatu simpul untuk melaksanakan kegiatan yang baik. Kami berharap ini menjadi salah satu pertemuan dengan segala estafet teman-teman dari Ansor, dari Fatayat, Pemuda Muhammadiyah, FKPO, IPM, IPPNU dan pemuda-pemuda di Yogyakarta,” ucap Ketua Ruang Kolaborasi Pemuda Yogyakarta, Muhamad Asruri Faishal Alam.