Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Amangkurat II

Amangkurat II

Raja di Antara Dua Api: Siasat, Darah, dan Takhta yang Tak Pernah Tenang

Oleh M. Basyir Zubair (Embas)

Ia membunuh cintanya sendiri. Ia mewariskan takhta dari ayah yang sedang sekarat. Ia bermain dengan Belanda tanpa pernah benar-benar menyerahkan dirinya. Atau begitulah yang ia percaya.

Jika ada satu raja Mataram yang paling sulit dibaca oleh sejarah, dialah Amangkurat II, raja yang lahir dari luka, naik ke takhta melalui chaos, dan memerintah dengan satu senjata yang paling berbahaya: kepura-puraan.
Ia bukan pahlawan. Ia juga bukan pengkhianat sederhana. Ia adalah produk dari sistem kekuasaan Jawa yang memang tidak pernah dirancang untuk melahirkan orang-orang jujur.
Artikel ini mencoba membaca Amangkurat II tidak dari kaca mata Belanda semata, yang cenderung mencatatnya sebagai klien yang lemah dan tidak dapat dipercaya dan tidak pula murni dari Babad yang kerap menyampur fakta dengan mitologi politik. Kita baca silang keduanya, dan kita cari titik temu yang paling mendekati kebenaran.

I. Dari Raden Rahmat Menjadi Adipati Anom: Lahir dalam Bayangan

Raden Rahmat nama kecil Amangkurat II, lahir dari garis darah tertinggi Mataram. Ia adalah putra mahkota Amangkurat I, salah satu raja Mataram yang paling kontroversial sepanjang dinasti itu berdiri.

Namun gelar formal sebagai pewaris takhta tidaklah otomatis mengalir dari darah mulia. Di istana Mataram, gelar Adipati Anom putra mahkota yang diakui, adalah posisi politik yang bisa dicabut sewaktu-waktu. Dan Amangkurat I adalah ayah yang tidak mudah memberikan kepercayaan kepada siapa pun, termasuk kepada putranya sendiri.

Sumber-sumber Belanda dari VOC, khususnya laporan-laporan Generale Missiven dan catatan-catatan yang dikompilasi oleh H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram, menyebutkan bahwa hubungan antara Amangkurat I dan putranya ini memang tegang sejak awal. Ada kecurigaan yang terus-menerus menghantui: apakah sang putra mahkota sedang menyusun kekuatan untuk merebut takhta lebih awal?

Dan dalam logika istana Mataram abad ke-17, kecurigaan itu bukanlah hal yang irrasional. Karena memang itulah yang kerap terjadi. Di Mataram, tidak ada yang benar-benar aman, termasuk seorang putra mahkota.

Amangkurat I merespons kecurigaannya dengan cara yang khas: ia menghukum para pengikut setia Raden Rahmat. Bukan putranya langsung, karena itu akan memicu krisis suksesi lebih besar, tapi orang-orang di sekelilingnya. Ini adalah cara lama kerajaan: hancurkan jaringannya, bukan badannya. Raden Rahmat selamat. Tapi ia selamat dalam kondisi terhina, terisolasi secara politik, dan, yang paling penting penuh dendam.

II. Roro Hoyi dan Luka yang Tak Pernah Sembuh: Antara Fakta dan Babad

Salah satu episode paling dramatis dalam biografi Amangkurat II adalah kisah Roro Hoyi, seorang perempuan yang dicintai Raden Rahmat, namun ternyata juga menjadi selir atau kekasih sang ayah.
Babad-babad Jawa terutama Babad Tanah Jawi, mengisahkan ini dengan detail yang sangat kuat secara naratif: Raden Rahmat dipaksa membunuh Roro Hoyi dengan tangannya sendiri, sebagai bukti kesetiaan kepada ayahnya. Ini adalah ujian loyalitas paling kejam yang bisa dibayangkan.

Apa yang bisa kita verifikasi?
Sumber-sumber VOC tidak mencatat episode ini secara langsung, ini penting untuk dicatat. Kisah Roro Hoyi hadir terutama dari tradisi babad yang ditulis jauh setelah peristiwa terjadi, dengan fungsi sastra dan politik tertentu.

Namun demikian, kita tidak bisa langsung menolaknya sebagai fiksi. Praktek penguasaan perempuan dalam istana Mataram memang terdokumentasi, bahwa perempuan di lingkaran istana kerap menjadi instrumen kekuasaan, termasuk sebagai media konflik antara ayah dan anak. Ini bukan imajinasi babad semata; ini adalah pola yang berulang dalam sejarah dinasti-dinasti Nusantara maupun Asia Tenggara daratan.

Catatan metodologis: Babad Tanah Jawi adalah sumber yang kaya secara naratif, namun harus diperlakukan sebagai teks sastra-politik, bukan kronik netral. Ia ditulis (dan direvisi) dalam konteks-konteks kekuasaan tertentu. Kisah Roro Hoyi mungkin mencerminkan kebenaran emosional dan relasi kuasa yang nyata, meski detail spesifiknya tidak terverifikasi dari sumber independen.

Yang lebih bisa kita pegang dengan yakin: Amangkurat II memang tumbuh dalam konflik mendalam dengan ayahnya. Dan luka itu membentuk caranya berkuasa, penuh kalkulasi, tidak mudah percaya, selalu menjaga jarak bahkan dengan sekutu.

III. Trunojoyo dan Jebakan Sekutu: Saat Dendam Bertemu Ambisi

Pemberontakan Trunojoyo (1674–1679) adalah salah satu krisis terbesar yang pernah mengguncang Mataram. Dan Amangkurat II berada di tengah-tengah pusarannya, bukan sebagai penonton, tapi sebagai pemain aktif.

Raden Trunajaya pangeran Madura yang ambisius dan didukung oleh jaringan Makassar, memimpin pemberontakan berskala besar yang nyaris meruntuhkan Mataram. Amangkurat I lari dari ibukota. Keraton dibakar. Dan sang raja yang pernah begitu berkuasa itu meninggal dalam pengungsian, di hutan, jauh dari kemewahan istana yang ia bangun dengan tangan berlumuran darah.

Di mana posisi Amangkurat II? Inilah titik yang paling diperdebatkan. Sumber-sumber VOC, terutama sebagaimana dianalisis de Graaf menyebut bahwa ada indikasi Raden Rahmat setidaknya tidak aktif menghambat Trunojoyo di fase awal pemberontakan. Ada yang menafsirkan ini sebagai bentuk diam yang berbicara: putra mahkota yang membiarkan musuh ayahnya bergerak, sambil menunggu momen yang tepat.

Namun, kita perlu berhati-hati. ‘Tidak menghambat’ tidaklah sama dengan ‘berkolusi aktif’. Dalam situasi krisis berskala besar seperti pemberontakan Trunojoyo, ada banyak aktor yang memilih untuk menunggu dan melihat, bukan karena mereka pendukung pemberontak, tapi karena mereka tidak tahu pihak mana yang akan menang.
Dalam sejarah perebutan kekuasaan, diam bisa berarti pengkhianatan, atau bisa berarti kehati-hatian yang masuk akal. Sejarah sering tidak memberi kita kemewahan untuk membedakan keduanya.

Yang pasti secara historiografis: Amangkurat II akhirnya meminta bantuan VOC untuk menghancurkan Trunojoyo. Ia naik ke takhta setelah ayahnya meninggal, dan dengan bantuan serdadu Belanda pimpinan Speelman, Trunojoyo berhasil ditangkap dan dieksekusi, ironisnya, dieksekusi langsung oleh Amangkurat II sendiri, dengan kerisnya sendiri.

Ini adalah sinyal yang sangat kuat tentang karakter politiknya: ia tidak membiarkan musuh lamanya mati secara biasa. Ia ingin tangan sendiri yang mengakhirinya.

IV. VOC dan Permainan Berbahaya: Bukan Klien, Bukan Mitra

Hubungan Amangkurat II dengan VOC adalah salah satu contoh paling menarik dari diplomasi asimetris dalam sejarah Nusantara. Ia membutuhkan Belanda untuk naik dan mempertahankan takhta. Belanda membutuhkannya sebagai legitimasi atas kontrol mereka di pantai utara Jawa.Tapi keduanya tidak pernah benar-benar mempercayai satu sama lain.

Harga Bantuan VOC: Perjanjian 1677

Untuk mendapatkan bantuan militer VOC dalam menumpas Trunojoyo, Amangkurat II menandatangani perjanjian yang secara signifikan menguntungkan Belanda. Perjanjian 1677 (dan amendemennya 1678) memberikan VOC hak-hak dagang yang luas, pelabuhan-pelabuhan strategis, dan secara efektif menempatkan Mataram dalam posisi yang lebih lemah secara ekonomi-politik. H.J. de Graaf menganalisis ini sebagai titik balik kritis dalam kedaulatan Mataram.

Amangkurat II tahu ia membayar mahal. Tapi ia menghitung bahwa takhta yang aman lebih berharga daripada kedaulatan yang abstrak. Ini adalah kalkulasi seorang pragmatis, bukan seorang idealis yang mempertahankan prinsip.

Surapati dan Sandiwara Ganda

Di sinilah karakter Amangkurat II paling jelas terlihat. Untung Surapati, seorang mantan budak Bali yang melarikan diri dari VOC dan menjadi pemimpin militer yang tangguh, berlindung di wilayah Mataram. VOC mendesak Amangkurat II untuk menyerahkan atau menghancurkan Surapati.

Amangkurat II bermain dengan sangat hati-hati: ia secara resmi mengaku akan menangani Surapati, tapi dalam kenyataan ia memberikan ruang gerak. Puncaknya adalah Peristiwa Kartasura 1686: pasukan VOC di bawah Kapten François Tack masuk ke wilayah Mataram untuk mengejar Surapati, dan dalam konfrontasi yang terjadi, Tack tewas bersama sejumlah serdadunya.

Apakah Amangkurat II secara aktif merencanakan penyergapan Tack? Ini yang diperdebatkan. Sumber VOC menganggap ada keterlibatan istana. Sejarawan seperti de Graaf cenderung melihat Amangkurat II setidaknya membiarkan hal itu terjadi, yang dalam konteks politik adalah sama dengan merekayasanya.

Catatan sumber: H.J. de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram (terjemahan Indonesia dari De Hegemonie der Vorstenhuizen van Mataramse vorstenstaat), Grafiti, 1986. Untuk Peristiwa Tack, lihat juga catatan Generale Missiven VOC tahun 1686.
Amangkurat II adalah raja yang memahami bahwa kekuatan sejati bukan pada siapa yang memegang pedang, tapi pada siapa yang menentukan di mana pedang itu diarahkan.

Setelah kematian Tack, hubungan Amangkurat II dengan VOC memburuk secara signifikan. Tapi Belanda tidak punya pilihan mudah: menghancurkan Amangkurat II berarti ketidakstabilan yang lebih besar. Maka mereka tetap bermain, dengan ketidakpercayaan yang semakin tebal di kedua sisi.

V. Pangeran Puger dan Perang Saudara yang Tak Bisa Dihindari

Amangkurat II tidak memerintah dalam ketenangan. Di dalam negeri, ancaman datang dari saudaranya sendiri: Pangeran Puger (yang kelak menjadi Pakubuwana I) yang tidak pernah sepenuhnya mengakui legitimasi Amangkurat II.

Konflik ini bukan sekadar persaingan pribadi. Ia adalah cerminan dari retaknya konsensus internal Mataram: siapa yang berhak atas takhta, dan dengan dasar apa? Puger menganggap dirinya punya klaim yang sah, dan dalam logika Jawa, argumennya tidak sepenuhnya lemah. Ia adalah figur yang juga dihormati oleh sebagian bangsawan. Tapi Amangkurat II memenangkan babak ini, sebagian karena dukungan VOC, sebagian karena kemampuannya mengkonsolidasi dukungan para bupati kunci.

Namun ‘kemenangan’ ini hanyalah penundaan. Puger tidak hilang ia menyingkir, menunggu. Dan sejarah mencatat bahwa ia akhirnya naik ke takhta setelah Amangkurat II meninggal, dalam pusaran Perang Suksesi Jawa Pertama yang jauh lebih destruktif.

VI. Kartasura: Ibukota Baru di Atas Fondasi Rapuh

Salah satu keputusan paling signifikan Amangkurat II adalah memindahkan ibukota dari Plered, yang porak-poranda akibat pemberontakan Trunojoyo ke Kartasura. Ini bukan sekadar perpindahan geografis; ini adalah upaya simbolis untuk membangun ulang legitimasi Mataram.

Kartasura dibangun sebagai istana baru, dengan keraton yang dikelilingi benteng. Secara fisik, ia mencerminkan ambisi: sebuah raja yang ingin memulai halaman baru.

Tapi Kartasura juga mencerminkan kontradiksi Amangkurat II: ibukota yang baru itu tetap sarang intrik. Para bupati, bangsawan, dan pejabat istana terus bersiasat. Amangkurat II memang memerintah, tapi ia memerintah di atas fondasi yang tidak pernah benar-benar solid.

Ini bukan kelemahan personal semata, ini adalah warisan struktural dari kerusakan yang ditinggalkan oleh era Amangkurat I dan krisis Trunojoyo. Mataram tidak pernah sepenuhnya pulih sebagai entitas politik yang terintegrasi.

VII. Apa yang Bisa Kita Nilai Secara Jujur?

Mari kita coba evaluasi yang seadil mungkin. Yang bisa diakui sebagai keberhasilannya.

Pertama, Amangkurat II berhasil mempertahankan Mataram sebagai entitas politik di saat yang paling kritis dalam sejarahnya. Banyak kerajaan lain di Nusantara hancur lebur dalam krisis yang jauh lebih kecil. Ia tidak.

Kedua, kemampuan bermanuver politiknya, walau dengan cara yang kotor, menunjukkan kecerdasan yang nyata. Ia memahami bahwa dalam sistem yang sedang runtuh, aturan-aturan lama tidak berlaku. Ia beradaptasi.

Ketiga, pemindahan ibukota ke Kartasura, walau simbolis, adalah keputusan yang secara administratif masuk akal, dimulai dari titik bersih, bukan dari reruntuhan yang terlalu terbebani kenangan trauma.

Yang tidak bisa diputihkan :

Pertama, harga yang dibayarkan untuk bantuan VOC terlalu tinggi. Perjanjian 1677-1678 adalah awal dari proses yang pada akhirnya menggerogoti kedaulatan Mataram hingga ke titik tidak kembali. Amangkurat II mungkin tidak menyadari sepenuhnya implikasi jangka panjangnya, atau mungkin ia tidak peduli, karena yang terpenting baginya adalah takhta hari ini.

Kedua, ketidakstabilan internal yang terus-menerus menunjukkan ketidakmampuan atau ketidakmauan, untuk membangun sistem pemerintahan yang lebih kokoh dan konsensual. Strategi mempertahankan kekuasaan melalui ‘semua saling curiga’ mungkin efektif jangka pendek, tapi destruktif secara institusional.

Ketiga, dan yang paling sulit untuk dinilai: apakah ia seorang pemimpin yang memerintah demi rakyatnya, atau semata demi tahtanya? Bukti-bukti yang ada lebih banyak menunjuk ke arah yang kedua.

Sejarah tidak menuntut pahlawan. Tapi sejarah juga tidak perlu mempahlawankan mereka yang tidak layak disebut demikian.

VIII. Warisan yang Ambigu: Apa yang Ia Tinggalkan?

Amangkurat II meninggal sekitar tahun 1703 (atau 1702 menurut beberapa sumber VOC). Dan seperti dinubuatkan oleh pola hidupnya, kematiannya segera diikuti oleh perebutan takhta yang brutal.
Putranya, Amangkurat III, naik ke takhta tapi dengan cepat menghadapi tantangan dari Pangeran Puger, yang kini mendapat dukungan VOC. Inilah yang kita kenal sebagai Perang Suksesi Jawa Pertama (1704–1708), konflik yang pada akhirnya melahirkan Pakubuwana I (Puger) sebagai pemenang, dengan VOC sebagai penentu de facto siapa yang duduk di atas takhta Mataram.

Amangkurat II telah membuka pintu bagi intervensi Belanda yang semakin dalam, sebuah warisan yang pahit, meski ia mungkin tidak merancangnya sedemikian rupa. Mataram yang ia wariskan adalah Mataram yang lebih kecil, lebih lemah, dan lebih tergantung. Bukan karena satu keputusan tunggal, tapi karena akumulasi dari kompromi-kompromi yang ia buat demi mempertahankan takhta dari hari ke hari.

Penutup: Membaca Raja yang Tak Mudah Dibaca

Amangkurat II adalah salah satu tokoh paling kompleks dalam sejarah Jawa pasca-Mataram-awal. Ia bukan seperti ayahnya Amangkurat I yang dicatat oleh sumber-sumber VOC memerintahkan pembantaian sejumlah ulama dalam satu peristiwa, meski skala ‘ribuan’ yang disebut Belanda itu sendiri belum terkonfirmasi dari sumber independen dan patut dibaca kritis.

Tapi ia juga bukan pahlawan yang membela rakyat atau mempertahankan kedaulatan dengan gagah. Ia adalah manusia yang terbentuk oleh trauma masa kecil di bawah ancaman ayah yang paranoid, cinta yang dikorbankan di altar kekuasaan, dendam yang mengkristal menjadi ambiisi. Dan ia adalah manusia yang berkuasa dalam kondisi yang tidak mengizinkan untuk menjadi pahlawan: Mataram yang sudah retak, VOC yang semakin kuat, bangsawan yang saling berkhianat.

Jika kita menilainya dari standar moral universal, banyak yang ia lakukan tidak bisa dibenarkan. Tapi jika kita mencoba memahaminya dalam konteks politiknya, bukan untuk memutihkan, tapi untuk mengerti, maka yang kita temukan adalah gambaran tentang bagaimana sistem kekuasaan yang sakit akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang sakit pula. Dan pelajaran itu, sayangnya, tidak pernah benar-benar usang.

Sejarah Mataram bukan sekadar cerita tentang raja dan takhta. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia bernegosiasi antara keinginan, ketakutan, dan kenyataan sebuah negosiasi yang hasilnya tidak selalu mulia.

Catatan:

Artikel ini bermula dari sebuah puisi yang ditulis Maret 2025, sebuah epos naratif tentang Amangkurat II. Puisi itu bukan ringkasan sejarah; ia adalah interpretasi artistik yang bekerja dengan imajinasi dan emosi sebagai materialnya.
Dari pintu masuk yang puitis itu, artikel ini mencoba melangkah lebih jauh: memeriksa klaim-klaim naratif dalam puisi tersebut berdasarkan sumber-sumber historis yang tersedia, mengidentifikasi mana yang terkonfirmasi, mana yang masih dalam zona perdebatan, dan mana yang merupakan elaborasi artistik.
Pendekatan ini dari puisi ke historiografi, adalah salah satu cara untuk membuat sejarah lebih hidup tanpa mengorbankan kejujurannya. Karena sejarah yang hanya ada di buku akademik adalah sejarah yang sudah setengah mati.

Referensi dan Sumber Utama

Sumber Primer dan Sekunder yang Digunakan:
1. H.J. de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung (Terjemahan Indonesia, Grafiti, Jakarta, 1986). Sumber utama untuk analisis VOC terhadap Amangkurat I dan II.
2. H.J. de Graaf & Th. G. Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (Grafiti, Jakarta, 1985). Penting untuk konteks panjang perkembangan Mataram Islam.
3. Babad Tanah Jawi (berbagai versi, termasuk edisi Meinsma 1874 dan versi-versi Jawa modern). Digunakan dengan kesadaran penuh akan statusnya sebagai teks sastra-politik.
4. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c.1200 (Palgrave Macmillan, edisi ke-4, 2008). Konteks regional dan periodisasi yang lebih luas.
5. Generale Missiven VOC (Arsip Nasional Belanda/Nationaal Archief, Den Haag). Laporan-laporan tahunan VOC yang mencatat kondisi lapangan di Jawa, termasuk periode Amangkurat II.
6. Merle C. Ricklefs, War, Culture and Economy in Java 1677–1726 (Asian Studies Association of Australia, 1993). Analisis mendalam tentang periode transisi kritis Mataram.

Yogyakarta, 11 April 2026
M. Basyir Zubair (Embas) | Penulis & Peneliti Arkeologi Islam Nusantara

Sumber gambar dan foto dari google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *