Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Ki Ageng Henis

Ki Ageng Henis

Ki Ageng Henis (Ki Ageng Laweyan)
Leluhur Raja-Raja Mataram

Apa jadinya bila dalam sejarah tidak terlahir Ki Ageng Henis? Tentulah perjalanan sejarah di tanah Jawa khususnya akan sangatlah jauh berbeda. Tak ada kerajaan Mataram (Islam), demikian juga Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Siapa sebenarnya Ki Ageng Henis sehingga namanya begitu sentral dalam perjalanan sejarah tanah Jawa khususnya kerajaan Mataram Islam?

Ki Ageng Henis adalah ayah Ki Ageng Pemanahan dan itu berarti kakek dari Sutawijaya (Panembahan Senopati), pendiri kerajaan Mataram Islam.

Sementara Ki Ageng Henis adalah Putra dari Ki Ageng Sela dari Sela, Grobogan. Dalam tradisi cerita tutur Ki Ageng Henis sering disebut juga sebagai Sela Anom yang menjadi teman berlatih dan sekaligus guru Mas Karabet (Jaka Tingkir) sebagai kepanjangan tangan Ki Ageng Sela.,

Ki Ageng Henis (Enis) adalah putra bungsu Ki Ageng Selo Grobogan (dalam cerita tutur /cerita rakyat diceritakan mampu menangkap petir) dengan Nyai Bicak putri Sunan Ngerang.

Henis memiliki enam saudara, di mana semua saudaranya adalah perempuan, yaitu: Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba, Nyai Ageng Bangsri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen dan Nyai Ageng Pakisdadu.

Dari Ki Ageng Henis inilah kemudian lahir Pemanahan (Ki Ageng Pemanahan) yang kemudian dari hasil perkawinan dengan putri tertua bibinya, Nyai Gede Saba menurunkan Raden Bagus (Bagus Srubut atau Danang Sutawijaya) yang kelak mendirikan kerajaan Mataram Islam.

Kisah perjalan hidup Ki Ageng Henis sampai ke Pajang, seperti ditulis dalam Babad Tanah Jawi tak lepas dari Sultan Hadiwijaya yang sangat menghargai peran Ki Ageng Sela dan anak keturunannya yang sangat besar jasanya dalam menghantarkan Jaka Tingkir sebagai Sultan Pajang.

Sultan Pajang memberi hadiah bumi Laweyan kepada Ki Ageng Henis. Turut menyertai kepergian Ki Ageng Henis ke Kasultanan Pajang adalah 3 orang pemuda yang kelak dikenal sebagai –tiga serangkai dari selo-, Pemanahan putra Ki Ageng Henis), Juru Martani (putra Nyai Gede Saba, sepupu dan ipar Pemanahan), dan Penjawi (putra angkat Ki Gede Henis).

Persaudaraan Sultan Pajang dan ketiga serangkai dari Sela menjadi semakin mendalam setelah mereka juga menjadi murid Sunan Kalijaga.

Pemanahan dan Penjawi pun diangkat sebagai pemimpin para tamtama, sedang Juru Martani sebagai penasehat militer. Berkat nama Ki Ageng Henis yang sangat berpengaruh di istana Pajang dan dibantu kehadiran tiga serangkai dari Sela iru, stabilitas politik pada awal berdirinya kerajaan Pajang sangatlah stabil.

Pada akhir hayatnya Ki Ageng Henis meninggal dan dimakamkan di Pasarean Laweyan. Rumah tempat tinggal Ki Ageng Henis kemudian ditempati oleh cucunya, Danang Sutawijaya. Karena tinggal di utara pasar itulah Sutawijaya lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Saloring Pasar.

Makam Ki Ageng Henis terletak di kompleks Astana Laweyan, Kampung Laweyan, Solo, di sebelah selatan Masjid Laweyan. Ki Ageng Henis diperkirakan meninggal pada tahun 1570.

Makamnya berada di pinggir Sungai Jenes, Laweyan, Solo, yang di masa lampau sering digunakan warga sebagai jalur perdagangan batik. Makam ini sering diziarahi, termasuk oleh pejabat Kota Solo, terutama saat memperingati hari jadi Kota Solo. Area ini merupakan situs cagar budaya. ***

#viral

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *