Jakarta,REDAKSI17.COM – Sektor ketenagakerjaan menghadapi tantangan serius, yakni melambatnya penyerapan tenaga kerja baru. Saat ini banyak perusahaan memilih menahan buka lowongan kerja demi menjaga operasional bisnis tetap berjalan stabil.
Praktisi HR dan Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, menjelaskan secara umum terdapat tiga kategori rekrutmen yang dilakukan HRD, yakni replacement atau merekrut karyawan baru karena ada karyawan yang keluar, membuka lowongan kerja baru karena ekspansi bisnis, atau membuka lowongan karena investasi baru.
Dalam hal ini, menurutnya penahanan laju rekrutmen pegawai baru paling terlihat pada kategori kedua, yakni membuka lowongan untuk ekspansi bisnis. Sebab, Ivan sendiri melihat banyak perusahaan yang proses rekrutmennya ia bantu sedang menahan laju ekspansi karena berbagai faktor.
Sebagai contoh, ia mengatakan salah satu kliennya yang bergerak di industri produksi kaca sedang berencana menurunkan jumlah lowongan yang dibuka karena adanya kenaikan biaya operasional.
“Nah, kaca itu kan perlu gas untuk peleburan ya. Dia sudah tanda tangan kontrak harga gasnya Rp 6 ribu per kilogram, sekarang naik jadi Rp 9 ribu, itu kan sudah naik 50%. Tadinya dia mau merekrut 2.000 orang, kemarin diskusi sama saya, ‘kayaknya kita mau koreksi, nggak tahu jadi berapa, tapi sepertinya nggak bakal 2.000’. Nah yang seperti ini,” jelasnya kepada detikcom, ditulis Jumat (24/4/2026).
Kondisi serupa juga ia temui di sejumlah perusahaan lain yang bergerak di industri kendaraan listrik. Di mana perusahaan yang awalnya berencana untuk merekrut lebih banyak pekerja, kini malah menahan laju rekrutmen karena adanya perubahan regulasi terkait insentif kendaraan listrik.
“Dia mau merekrut, tadinya total 5.000. Itu komitmen dan segala macam tetap jalan sampai pemerintah mengubah insentif untuk mobil listrik. Itu kan berpengaruh ke minat orang untuk membeli. Jadi sudah mau rekrut 5.000, begitu ada perubahan, nggak jadi, sekarang sekian ribu dulu,” tutur Ivan.
Atas dasar inilah ia berpendapat ketidakpastian regulasi bagi dunia usaha menjadi salah satu pertimbangan menahan ekspansi bisnis, yang kemudian berdampak pada pasar tenaga kerja domestik. Ditambah dengan ketidakpastian ekonomi dan kondisi global, semakin besar peluang investor untuk menahan laju ekspansi.
Sehingga menurutnya penting bagi pemerintah untuk menunjukkan niat baik dan memberikan kepastian usaha, jika ingin perusahaan-perusahaan tetap melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru.
“Supaya kebutuhan tiga gelombang tadi-mengganti karyawan, ekspansi, dan investasi baru-tidak dikoreksi atau dikurangi,” ujarnya.
Pencari Kerja Bisa Apa?
Ivan mengatakan dalam kondisi pelemahan laju rekrutmen karyawan baru, para pencari kerja mau tak mau harus terus mencoba melamar ke berbagai perusahaan sampai ada yang menerima.
Namun, ia sangat menyarankan agar di waktu yang bersamaan pelamar melakukan pekerjaan sampingan sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Menurutnya, tidak masalah jika pekerjaan yang dilakukan berada di sektor informal.
“Apalagi fresh graduate, biasanya paling susah dari sisi mindset. ‘Ngapain capek-capek kuliah elektro ITB jadi cleaning service’, misalnya. Tapi kalau bicara kebutuhan, sektor informal itu tidak pernah berkurang,” terangnya.
Selain itu, menurutnya dengan memiliki pengalaman kerja sampingan meski tidak sesuai dengan bidang pendidikan, hal ini masih bisa menjadi nilai tambah saat melamar ke perusahaan.
Sebab selama bisa dijelaskan dengan baik kepada pemberi kerja, sikap seperti ini dinilai sebagai kemampuan pelamar untuk bertahan dalam berbagai kondisi dan situasi, alias memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Itu nilai tambah. Itu namanya SQ, survival quotient. Orang itu diukur dengan berbagai indikator, salah satunya kemampuan untuk bertahan. Nah, makin tinggi itu, makin bagus nilainya,” tegas Ivan.
“Kalau mau lebih teknis, saya kalau harus melakukan layoff karyawan, yang saya pikirkan bukan yang keluar, tapi yang tetap di dalam. Karena yang keluar sudah selesai urusannya. Yang di dalam, beban kerjanya bertambah, jadi harus orang yang dari awal bisa bertahan,” pungkasnya.




