Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Temu Karya Karang Taruna Kota Yogyakarta yang digelar di Kantor DPRD Kota Yogyakarta pada Sabtu (9/5/2026) menjadi momentum penting bagi regenerasi kepemimpinan organisasi kepemudaan sekaligus penguatan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menjawab berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, menegaskan sebuah organisasi akan mampu berkembang apabila mampu melakukan refleksi dan pembenahan secara spesifik terhadap peran dan tujuan organisasinya.

“Suatu organisasi kalau bisa merefleksi secara spesifik, organisasi itu akan bisa maju,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan.

Ia berharap kepengurusan baru Karang Taruna Kota Yogyakarta segera terbentuk dan mampu menjalin sinergi dengan Pemkot Yogyakarta dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial, terutama pengangguran di kalangan anak muda.

“Yang paling penting buat kami adalah siapa yang mau memajukan. Setelah hari ini segera disusun pengurus baru dan segera menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta,” katanya.

Menurutnya, Karang Taruna memiliki peran strategis di tengah masyarakat. Pemkot Yogyakarta sendiri saat ini tengah memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Kadin dan HIPMI untuk membuka ruang pemberdayaan bagi generasi muda.

Ia menyebut Kota Yogyakarta juga sedang diperkuat sebagai kota festival dengan melibatkan anak-anak muda di bidang ekonomi kreatif dan seni budaya.

“Karang Taruna bisa menunjukkan perannya di situ. Ini bukan sekadar penggantian ketua, tapi bagaimana kita menggerakkan organisasi dan menyusun langkah yang lebih baik untuk masyarakat,” tambahnya.

Ketua Karang Taruna DIY Gusti Kanjeng Ratu Hayu.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna DIY Gusti Kanjeng Ratu Hayu, menekankan pentingnya etika dan semangat regenerasi dalam proses organisasi. Menurutnya, regenerasi harus dibangun dengan memberikan ruang kepada kader-kader baru untuk tumbuh dan memimpin.

“Yang paling menarik adalah semangat dan etika regenerasi itu yang diutamakan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa etika dalam berorganisasi menjadi pembeda utama antara organisasi yang sehat dengan konflik-konflik yang kerap muncul di ruang publik.

“Etika itu yang akan memisahkan kita dari pertengkaran dan biaya sosial yang sering kita lihat di TV dan berita. Itu yang akan mendefinisikan cara kita berorganisasi,” katanya.

Temu Karya Karang Taruna Kota Yogyakarta.

GKR Hayu juga mengajak seluruh anggota Karang Taruna untuk tidak menjadikan perbedaan kepentingan sebagai pemicu perpecahan internal organisasi. Menurutnya, Yogyakarta merupakan daerah yang kecil sehingga konflik-konflik yang tidak penting seharusnya dapat dihindari.

“Begitu sudah di Karang Taruna, saya harapkan tetap bersatu demi kemajuan Jogja,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mendorong keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan organisasi kepemudaan. Menurutnya, representasi perempuan dalam struktur organisasi penting untuk terus diperkuat.

Temu Karya Karang Taruna Kota Yogyakarta tersebut diharapkan mampu melahirkan kepengurusan baru yang solid, inklusif, serta mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan dan pemberdayaan generasi muda di Kota Yogyakarta.