Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Rupiah Anjlok, Pakar Ekonomi Surabaya Bagikan Tips Hemat

Rupiah Anjlok, Pakar Ekonomi Surabaya Bagikan Tips Hemat

Surabaya,REDAKSI17.COM – Nilai tukar rupiah pada Minggu (24/5/2026) tercatat menyentuh angka Rp17.698 per dolar AS. Kondisi ini membuat masyarakat mulai khawatir terhadap dampaknya terhadap harga kebutuhan pokok hingga biaya hidup sehari-hari.
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Budi Wahyu Mahardhika memberikan sejumlah tips mengatur keuangan agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin berat dirasakan masyarakat maupun keluarga.

Kurangi Utang Konsumtif
Budi menyarankan masyarakat mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif. Menghindari cicilan barang yang tidak mendesak menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan finansial. Menurutnya, masyarakat perlu mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar pengeluaran lebih terkontrol.

“Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting. Lalu, menunda pembelian yang tidak terlalu diperlukan demi menjaga stabilitas keuangan jangka panjang,” kata dosen manajemen tersebut.

Siapkan Dana Darurat
Di tengah kondisi ekonomi saat ini, membangun dana darurat secara konsisten dinilai sangat penting.

Budi mengatakan, dana darurat dapat dimulai dari nominal kecil, misalnya Rp 100 ribu per minggu.

Menurutnya, dana darurat berfungsi melindungi keluarga dari kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendadak lainnya.

“Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial,” ujarnya.

Pilah Kebutuhan Prioritas
Budi juga menilai masyarakat perlu meninjau ulang anggaran rumah tangga dan kebiasaan pengeluaran sehari-hari.

Sebab, kebocoran pengeluaran kecil sering kali tidak disadari, namun dapat menguras pendapatan bulanan.

Ia menyarankan masyarakat menyusun kembali prioritas pengeluaran dengan memilih alternatif yang lebih hemat.

“Masyarakat dapat menyusun kembali prioritas pengeluaran dengan memilih alternatif yang lebih hemat, seperti memasak sendiri di rumah, dan mengurangi kebiasaan nongkrong atau membeli kopi di kafe,” jelasnya.

Penting Memiliki Penghasilan Tambahan
Selain mengatur pengeluaran, memiliki sumber penghasilan tambahan juga dinilai penting.

Budi mengatakan ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat masyarakat lebih rentan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) atau perlambatan ekonomi.

Menurutnya, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi keuangan agar lebih siap menghadapi perubahan ekonomi.

“Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar,” jelasnya.

Diversifikasi Tabungan dan Aset
Terakhir, Budi mengingatkan masyarakat untuk melindungi nilai tabungan melalui diversifikasi aset.

Ia menyarankan agar masyarakat tidak menyimpan seluruh tabungan hanya dalam bentuk uang tunai rupiah.

Menurutnya, masyarakat dapat mulai mempertimbangkan instrumen investasi yang lebih aman dan likuid.

“Tetapi mulai mempertimbangkan instrumen yang lebih aman dan likuid seperti emas, deposito, atau obligasi. Dukungan sosial dan komunitas juga penting sebagai penopang ketika menghadapi situasi ekonomi yang sulit,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *