Teheran,REDAKSI17.COM – Harga minyak naik tajam pada perdagangan awal sesi Asia hari Kamis setelah AS dilaporkan menyerang Iran untuk kedua kalinya dalam pekan ini, di tengah keraguan yang semakin besar atas tercapainya kesepakatan damai.
Namun harga minyak mentah masih menanggung kerugian besar dari sesi sebelumnya setelah laporan menyebutkan bahwa Iran kemungkinan akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial dalam 30 hari ke depan.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk Juli melonjak 1,9% menjadi $96,03 per barel pada pukul 07:05 WIB, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 1,9% menjadi $90,36 per barel.
Tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas, Iran, pada dini hari Kamis. Reuters melaporkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan baru terhadap sebuah fasilitas militer Iran.
Serangan tersebut—yang merupakan serangan kedua oleh AS dalam pekan ini—kembali diklaim sebagai tindakan “bela diri,” dengan militer yang dilaporkan menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
Laporan mengenai serangan hari Kamis ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa Iran akan membuka kembali jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dalam sebulan ke depan. Trump juga menolak gagasan Iran dan Oman mengendalikan Hormuz secara bersama, dan kemudian mengisyaratkan bahwa dirinya belum puas dengan kesepakatan damai bersama Iran.
Harga minyak mentah sempat turun tajam pada hari Rabu, dan juga masih menanggung kerugian besar sepanjang pekan ini di tengah spekulasi bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran sudah semakin dekat.
Namun komentar Trump pada hari Rabu mengindikasikan bahwa kesepakatan tersebut tidak sedekat yang telah diperhitungkan pasar selama sepekan terakhir. Harga minyak mencatat kerugian besar dalam sepekan terakhir, dengan minyak Brent menembus di bawah $100 per barel seiring harapan dibukanya kembali Selat Hormuz.
Meskipun pejabat AS memberikan beberapa komentar optimistis mengenai negosiasi dengan Iran selama sepekan terakhir, kedua pihak masih berselisih paham soal aktivitas nuklir Teheran dan status Selat Hormuz.
Laporan dalam sepekan terakhir menunjukkan adanya aliran kapal yang perlahan melewati Hormuz. Namun volume tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang, dengan penutupan Hormuz yang terus mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak global.





