Bayi perempuan 1 tahun tewas akibat serangan rudal AS-Israel di Teheran. (ChatGPT)
Washington,REDAKSI17.COM – Amerika Serikat disebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan stok sejumlah sistem persenjataan utama yang terkuras selama perang melawan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran kemampuan tempur AS akan melemah jika sewaktu-waktu menghadapi konflik besar dengan China.
Laporan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Rabu (27/5/2026) menyebut tiga sistem senjata utama yang paling terdampak adalah rudal jelajah Tomahawk, sistem pertahanan udara Patriot, dan THAAD interceptor.
Rudal Tomahawk digunakan untuk menyerang target jauh di wilayah musuh, sedangkan Patriot dan THAAD berfungsi mencegat rudal serta drone. “Amerika Serikat masih memiliki amunisi yang cukup untuk skenario perang Iran, tetapi menipisnya persediaan menciptakan celah kerentanan jika terjadi konflik di Pasifik Barat,” tulis laporan CSIS, seperti dinukil Associated Press.
Laporan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China terkait Taiwan. Presiden China, Xi Jinping, sebelumnya memperingatkan hubungan Washington dan Taipei bisa memicu bentrokan terbuka antara dua kekuatan besar dunia.
Meski pemerintahan Donald Trump mengajukan proposal anggaran pertahanan fantastis sebesar US$ 1,5 triliun untuk 2027, CSIS menilai persoalan utama bukan lagi soal dana, melainkan waktu produksi senjata yang sangat panjang. “Masalahnya saat ini bukan uang, tetapi waktu,” tulis laporan tersebut.
CSIS memperkirakan AS menembakkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk selama perang Iran. Untuk mengembalikan stok ke level sebelum perang, AS diprediksi membutuhkan waktu hingga akhir 2030.
Saat ini produksi Tomahawk masih di bawah 200 unit per tahun. Namun, produsen Raytheon disebut menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga lebih dari 1.000 unit per tahun.
Selain itu, penggantian sekitar 290 interceptor THAAD diperkirakan baru selesai pada akhir 2029. Sementara lebih dari 1.000 rudal Patriot yang telah digunakan diprediksi baru pulih pada pertengahan 2029.
Trump menegaskan AS masih mampu menghadapi perang apa pun. Pemerintah juga mendorong kontraktor pertahanan mempercepat produksi amunisi. Dalam rapat kabinet terbaru, Hegseth memuji langkah Trump memperluas industri pertahanan nasional melalui pembangunan pabrik baru dan jalur produksi tambahan.
Namun, sejumlah analis militer meragukan optimisme tersebut. Mereka menilai perang Iran telah menguras stok persenjataan strategis AS ke level kritis.
Kekhawatiran ini juga menjadi sorotan dalam sidang Kongres AS. Politikus Partai Demokrat menilai perang Iran yang diluncurkan Trump tanpa persetujuan parlemen telah memperburuk kondisi persediaan amunisi Amerika.
Pada sisi lain, sejumlah anggota Partai Republik menilai berkurangnya stok Patriot juga disebabkan bantuan besar-besaran AS kepada Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022.
Pakar CSIS sekaligus mantan kolonel Marinir AS, Mark Cancian, mengatakan akar masalah ini berasal dari berakhirnya Perang Dingin pada awal 1990-an. Saat itu AS menganggap perang modern akan berlangsung singkat sehingga tidak membutuhkan stok besar senjata canggih.
Namun, perang Rusia-Ukraina mengubah pandangan tersebut karena konflik berkepanjangan terbukti membutuhkan persediaan senjata dalam jumlah besar. “Pemikiran mulai berubah, tetapi membangun kembali stok senjata membutuhkan waktu,” kata Cancian.
Meski begitu, laporan CSIS menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya menguntungkan China. Salah satu faktor yang masih menjadi kekuatan AS adalah pengalaman tempur yang jauh lebih besar dibanding militer China.
“China sadar mereka tidak punya pengalaman tempur modern dan tampil buruk dalam perang terakhir melawan Vietnam pada 1979,” tulis laporan itu.




