Penuh Dengan Relief Ajaran Kebajikan
Bangunan candi tak hanya bukti hebatnya arsitektur di masa lalu, tetapi juga menunjukan kehebatan lain dalam ragam seni hias yang dapat dilihat pada relief, serta arca-arcanya yang begitu indah dan mengagumkan. Lebih dari itu, bangunan candi bukan sekadar tumpukan batu purbakala, melainkan juga saksi bisu bangunan keagamaan masa kerajaan di masa lalu.
Candi Sojiwan (Candi Sajiwan) adalah sebuah Candi Buddha yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Pambanan, kabupaten laten, Jawa Tengah. Sebuah ciri khas candi ini ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Jataka. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada.
Candi ini terletak kurang lebih dua kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, dari gerbang Taman Wisata Candi Prambanan meyeberang jalan raya Surakarta-Yogyakarta masuk ke jalan kecil menuju ke arah selatan, menyeberang rel kereta api, lalu pada perempatan pertama berbelok ke kiri (timur) sejauh beberapa ratus meter hingga candi terlihat di sisi selatan.
• Penemuan kembali
Seperti halnya banyak candi di Jawa Tengah, Candi Sojiwan sempat tertimbun dan dilupakan selama beberapa abad. Candi Sojiwan untuk pertama kalinya dilaporkan pada tahun 1813 oleh Kolonel Colin Mackenzie, utusan Raffles yang kala itu tengah mendata informasi kepurbakalaan di Jawa. Colin yang sedang meneliti peninggalan-peninggalan kuno di sekitar daerah Prambanan, menemukan sisa-sisa tembok yang mengelilingi candi Sojiwan ini.
Pemugaran Candi Sojiwan dimulai pada tahun 1990-an dan baru selesai pada tahun 2011, setelah melalui penelitian arkeologi dan rekonstruksi batu-batu candi yang hilang atau rusak. Pemugaran dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta hingga mencapai bentu seperti yang kita lihat sekarang ini.
• Pesona Arsitektur
Candi Sojiwan memiliki struktur yang unik dengan tinggi mencapai 27 meter. Ciri khas utama yang menegaskan identitasnya sebagai tempat ibadah umat Buddha adalah bagian atapnya yang berbentuk stupa bertingkat.
Tubuh candi yang ramping namun kokoh memberikan kesan elegan, berdiri tegak di tengah taman hijau yang tertata rapi, menciptakan suasana tenang dan teduh.
Candi ini menghadap ke barat. Ditemukan arca Dwarapala yang sudah rusak yang kini tersimpan di pos penjagaan di kompleks candi ini. Pada kaki candi ini terukir relief fabel kisah yang diambil dari kitab Jataka dan dipahat mengelilingi kaki candi.
Tubuh candi aslinya penuh berukir sulur-sulur, akan tetapi karena banyak batu yang hilang maka batu pengganti polos yang dipasang. Ruangan bilik dalam kini kosong, hanya terdapat relung dan singgasana yang aslinya mungkin menyimpan arca Buddha atau Boddhisatwa yang kini sudah hilang. Sementara atap candi bersusun tiga yang bertingkat-tingkat. Pada tingkatan-tingkatan ini terdapat jajaran stupa -stupa. Bagian puncak candi dimahkotai stupa yang besar.
• Sejarah Candi Sojiwan
Candi Sojiwan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, candi ini tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan agama Buddha di Jawa, tetapi juga merupakan simbol dari akulturasi budaya dan agama pada masa lampau.
Latar belakang sejarah Candi Sojiwan banyak dihubungkan dengan Prasasti Rukam yang berangka tahun 829 Saka (907 M). Terdiri dari 2 lempeng tembaga, prasasti ini berisi penetapan Desa Rukam menjadi wiayah Desa Perdikan (Sima) yang bebas pajak karena desa tersebut sempat hancur karena letusan gunung berapi.
Dikeluarkan oleh Raja Dyah Balitung untuk neneknya yang bernama Nini Haji Rakkryan Sanjiwana. Selanjutnya warga Desa Rukam diberi kewajiban menjaga dan memelihara bangunan suci di Limwung, yang kemudian dikaitkan dengan Candi Sojiwan.
Tokoh pelindung dalam prasasti ini, Rakryan Sanjiwana, menurut arkeolog yang juga ahli epigrafi, Richadiana Kartakusuma diduga adalah Ratu Pramudhawardhani, dan Candi kemudian dinamakan menurut nama ratu tersebut (Sanjiwana) dan dipercayai sebagai candi pedharmaannya.
• Relief Ajaran Kebajikan
Apa yang membuat Candi Sojiwan berbeda dari candi lainnya? Jawabannya terletak pada relief fabel (Jataka) yang terpahat di kaki candi. Jika biasanya relief candi menceritakan kisah dewa-dewi atau raja, Sojiwan justru menghadirkan kisah-kisah hewan yang penuh makna edukasi, Setiap pahatan ini membawa pesan moral tentang kebajikan, kecerdikan, dan keadilan, yang menjadikannya media pembelajaran bagi masyarakat di masa lalu—dan tetap relevan hingga hari ini.
Relief Jataka yang ada di Candi Sojiwan menceritakan berbagai kisah kehidupan Buddha sebelum mencapai Pencerahan. Kisah-kisah ini sering kali berbentuk fabel yang mengajarkan nilai-nilai moral seperti kebijaksanaan, kejujuran, kebaikan hati, dan pengorbanan diri.
Ini menjadi salah satu bukti bahwa candi ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan, tetapi juga sebagai media pembelajaran spiritual bagi umat Buddha pada masa itu.
Relief-relief itu diantaranya relief –Angsa dan Kura-Kura-, ini mengajarkan nilai kebajikan- akibat bila orang tidak mau mendengar nasehat (ia akan mengalami kebinasaan seperti nasib kura-kura yang tidak mau mendengarkan nasehat angsa ketika ditolong dan dibawa terbang).
Relief lainnya tentang kebajikan adalah nasehat untuk tidak berlaku sombong dan jumawa. Nasehat ini diwakili relief – adu atau perlombaan adu cepat antara Garuda dan kura-kura-. Kesombongan Garuda harus ditebus mahal dengan kekakalahan yang memalukan kala adu cepat dengan kura-kura.
Relief -Kera dan Buaya- adalah relief Jataka yang seakan menyindir perilaku manusia sekarang “yang suka menipu” pada akhirnya “malah tertipu”.
Buaya yang berniat memperdaya kera dengan tipuan manisnya harus berakhir dengan tidak mendapatkan apa-apa ketika dengan cerdik Kera berganti menipunya. Dan Masih banyak lagi bisa dilihat di Candi Sojiwan***





