Ilustrasi minyak mentah. (CNBC)
New York,REDAKSI17.COM – Harga minyak dunia ditutup bergerak sideways pada perdagangan Jumat (29/5/2026) waktu setempat setelah pasar bergerak fluktuatif di tengah beragam laporan mengenai potensi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, yang berakhir pada Jumat (30/5/2026), ditutup turun 58 sen atau 0,6% menjadi US$ 93,71 per barel. Sementara itu, kontrak Brent Agustus yang lebih aktif diperdagangkan naik 72 sen menjadi US$ 92,97 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup menguat tipis 22 sen atau 0,3% ke level US$ 88,90 per barel.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa sesi terakhir cenderung volatil akibat sinyal yang saling bertentangan terkait peluang berakhirnya perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Arus lalu lintas di jalur pelayaran strategis tersebut masih jauh di bawah level normal sebelum perang terjadi.
Reuters melaporkan empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan telah tercapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah selama 60 hari. Media Axios pertama kali memberitakan perkembangan itu pada Jumat (29/5/2026).
Namun, kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan Presiden AS Donald Trump. Dari sisi lain, kantor berita Iran Tasnim menyebutkan teks nota kesepahaman potensial antara AS dan Iran belum difinalisasi maupun dikonfirmasi secara resmi.
Pada awal perdagangan, harga Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari 2% seusai Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS sebagai respons atas serangan Washington terhadap kota pelabuhan Bandar Abbas.
Perusahaan konsultan perdagangan minyak Ritterbusch and Associates menilai pasar minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
“Mekanisme pasar masih bergerak naik secara terbatas ketika muncul sentimen positif dari Iran, tetapi langsung turun tajam saat ada indikasi pembukaan kembali Selat Hormuz,” tulis Ritterbusch and Associates dalam laporannya.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari data resmi AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah negara tersebut turun 3,3 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu menjadi yang keenam secara berturut-turut, meski lebih rendah dibandingkan perkiraan analis Reuters sebesar 4,1 juta barel.
Cadangan bensin dan bahan bakar distilat AS juga tercatat mengalami penurunan.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar minyak saat ini masih lebih dipengaruhi perkembangan geopolitik Timur Tengah dibandingkan penurunan stok minyak AS yang terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.




