Beranda / Wisata dan Kuliner / Surya dan Walang Goreng, Usaha Sampingan yang Kini Jadi Sumber Penghidupan

Surya dan Walang Goreng, Usaha Sampingan yang Kini Jadi Sumber Penghidupan

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Walang goreng atau belalang goreng masih menjadi salah satu kuliner khas yang banyak diburu wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Gunungkidul. Di balik cita rasanya yang gurih dan renyah, terdapat kisah perjuangan para penjual yang menggantungkan hidup dari usaha tradisional tersebut, salah satunya Surya.

Pria asal kawasan sekitar Jalan Baron, Gunungkidul itu mengaku telah berjualan walang goreng sejak tahun 2002. Awalnya, usaha tersebut hanya dijadikan pekerjaan sampingan. Namun seiring berjalannya waktu, walang goreng justru menjadi sumber penghasilan utama bagi dirinya, meskipun kini usahanya kerap berhadapan dengan ketidakpastian omzet akibat pasang surut kunjungan wisatawan dan sulitnya pasokan bahan baku.

“Awalnya dulu hanya coba-coba untuk sampingan saja. Tetapi lama-lama karena banyak yang suka dan memang sudah nyaman jualan, akhirnya jadi usaha utama sampai sekarang. Kadang satu hari gak bawa uang juga pernah karena pas sepi pembeli. Tetapi sejauh ini tetap masih ada untungnya, alhamdulillah,” ujar Surya saat ditemui di lokasi berjualannya di sekitar Jalan Jogja-Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, pada Selasa (19/05).

Saat ditemui di lapaknya, Surya terlihat hanya menjual satu jenis walang goreng, yakni jenis belalang padi. Sebelum menjual belalang padi, Surya sempat menjual belalang kayu yang berukuran lebih besar, namun kini jenis tersebut semakin jarang ditemukan di alam.

“Dulu ketika awal-awal berjualan masih gampang dicari belalang kayunya. Tetapi sudah susah sekarang carinya. Misal sehari cari belum tentu dapat setengah kilogram. Sekarang sudah jarang,” kata Surya.

Sementara, untuk mendapatkan belalang padi, Surya menyebutkan, perburuan biasanya dilakukan pada malam hari, terutama saat musim panen tiba dengan bantuan cahaya senter. “Kalau siang biasanya pada loncat dan kabur. Tetapi kalau malam kena cahaya senter justru diam, jadi lebih mudah ditangkap,” jelas Surya.

Dalam sekali berburu, hasil tangkapan rata-rata mencapai satu botol air mineral ukuran besar. Setelah dikumpulkan, sekitar satu kilogram belalang dapat diolah menjadi delapan toples siap jual dengan harga per toples Rp30.000,00. Apabila membeli dari pemburu belalang, 1 kg belalang padi ini dibandrol seharga Rp150.000,00.

Untuk pengolahannya sendiri cukup sederhana. Belalang dibersihkan lalu direndam menggunakan bumbu bawang putih, garam, dan penyedap rasa sebelum digoreng hingga renyah. Surya menyediakan dua varian rasa, yakni gurih dan pedas.

“Kalau hari biasa bisa terjual sekitar 15-20 toples. Kalau hari libur bisa 50 toples per penjual. Dulu mungkin satu hari 30 toples saja masih bisa, tetapi kalau hari-hari seperti ini susah untuk terjual 30 toples per harinya,” papar Surya.

Meski terbilang makanan yang cukup ekstrem, menurut Surya, walang goreng diminati karena dipercaya memiliki kandungan protein yang tinggi. Selain dijual langsung dan menerima pesanan, produknya juga dipasarkan ke sejumlah pusat oleh-oleh di wilayah Gunungkidul. “Masuk ke sekitar empat sampai lima pusat oleh-oleh,” sebut Surya.

Dalam kesehariannya, Surya mulai berjualan sejak pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Khusus akhir pekan, ia biasanya berjualan lebih lama hingga pukul 18.00 WIB.

Surya menerangkan, jika ditutup rapat usai membuka toplesnya, walang goreng dapat bertahan renyah hingga dua minggu. Jika ingin disajikan hangat, cukup dipanaskan kembali menggunakan api kecil.

Surya pun menyampaikan, terdapat sebanyak 15 penjual walang goreng di sekitar Jalan Jogja-Wonosari ini yang berasal dari kampung yang sama dengannya. Masing-masing memiliki ciri khas produk yang berbeda. Meski penuh tantangan, ia bersyukur usaha kuliner tradisional tersebut masih mampu bertahan hingga sekarang.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *