Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan Kota Yogyakarta yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya melalui kegiatan Flag Off Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar yang digelar pada Sabtu (6/6/2026) di Jalan Ipda Tut Harsono.

Puluhan kendaraan nir emisi yang berbasis listrik seperti becak listrik dan mobil listrik ini di lepas oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Setelah dilepas puluhan kendaran ini berparade melewati ruas-ruas jalan strategis di Kota Yogyakarta, seperti Jalan Timoho, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Jalan Senopati, dan Jalan Kusuma Negara.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto menjelaskan, parade kendaraan nir emisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial atau pameran kendaraan listrik.

“Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa masa depan kota sangat ditentukan oleh pilihan yang diambil saat ini,” ungkapnya.

CWali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat melepas Parade Kendaraan Nir Emisi .

Menurutnya upaya tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui udara yang lebih bersih, ruang kota yang nyaman, serta sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

“Upaya mendorong transportasi rendah emisi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari kebutuhan dan arah pembangunan Kota Yogyakarta di masa depan,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyoroti sejumlah langkah yang telah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mendukung transportasi berkelanjutan. Di antaranya melalui penataan kawasan pedestrian Malioboro, penguatan ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki, pengembangan jalur sepeda, hingga transformasi becak motor menjadi becak listrik.

“Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan kota yang lebih sehat, manusiawi, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan identitas khas Jogja,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan becak listrik menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Selain lebih ramah lingkungan, becak listrik juga memungkinkan transportasi tradisional khas Jogja tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Meski demikian, Hasto menekankan bahwa transformasi menuju transportasi rendah emisi tidak hanya berbicara mengenai kendaraan dan teknologi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Karena itu, lanjutnya, seluruh proses transformasi harus dilakukan secara bertahap, kolaboratif, serta memperhatikan aspek sosial dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Kita tidak ingin perubahan ini justru menimbulkan kesenjangan baru. Sebaliknya, kita ingin memastikan bahwa transformasi menuju kota yang lebih hijau juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Hasto menilai diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat luas. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, peluang Yogyakarta menjadi kota yang maju, sehat, dan berkelanjutan akan semakin besar.

Melalui momentum ini, orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini mengajak seluruh masyarakat untuk semakin peduli terhadap lingkungan, bijak dalam memilih moda transportasi, serta aktif mendukung berbagai inovasi yang berpihak pada keberlanjutan.

“Saya berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah perayaan semata, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan Kota Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, rendah emisi, dan nyaman bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat melihat kualitas fisik becak listrik.

Salah satu peserta Parade Kendaraan Nir Emisi, adalah Warsidi yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi becak listrik.

Ia mengaku merasakan banyak manfaat sejak beralih menggunakan kendaraan ramah lingkungan tersebut. Pria yang telah mengoperasikan becak listrik selama kurang lebih satu tahun itu mengatakan biaya operasional yang dikeluarkan jauh lebih hemat dibanding saat masih menggunakan becak motor (bentor).

Menurut Warsidi, penghematan terbesar berasal dari tidak adanya kebutuhan membeli bahan bakar minyak (bbm) setiap hari. Jika sebelumnya ia harus menyisihkan pendapatan untuk membeli bensin, kini biaya tersebut praktis tidak ada lagi karena becak yang digunakannya mengandalkan tenaga listrik.

“Sudah sekitar satu tahun saya menggunakan becak listrik. Lebih irit dibanding dulu pakai bentor karena tidak perlu beli bensin lagi. Jadi pengeluaran sehari-hari bisa berkurang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk pengisian daya baterai, dirinya biasanya memanfaatkan fasilitas stasiun pengisian yang tersedia di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta. Menariknya, fasilitas tersebut dapat digunakan secara gratis oleh para pengemudi becak listrik.

“Biasanya saya ngecas di Stasiun Tugu. Gratis. Waktu pengisiannya juga tidak lama, dari baterai kosong sampai penuh hanya sekitar tiga jam,” katanya.

Warsidi menilai keberadaan becak listrik tidak hanya membantu mengurangi biaya operasional, tetapi juga memberikan kenyamanan saat bekerja.

Ia berharap semakin banyak pengemudi yang nantinya beralih ke kendaraan ramah lingkungan sehingga upaya mengurangi polusi udara di Kota Yogyakarta dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan para pelaku transportasi tradisional.

Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pengembangan becak listrik menjadi langkah positif karena mampu menjaga keberadaan transportasi khas Yogyakarta tetap eksis di tengah perkembangan teknologi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pengemudinya.