Banguntapan,REDAKSI17.COM – Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan pentingnya kolaborasi antara sektor pariwisata, hospitality, seni, dan industri kreatif dalam memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota budaya. Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam talkshow bertema “Kemajuan Seni dan Budaya Jogja Celebration: Culture and Local Experience” yang digelar di Hotel Grand Rohan, Sabtu (6/6).

Talkshow tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran seni yang berlangsung selama tiga bulan. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti dan pecinta budaya sekaligus pelaku usaha, pendiri (founder) dari jaringan The Cabin Hotel, Handoko Setiawan.

Ketua penyelenggara pameran, Endang Aprianto, mengatakan podcast dan talkshow tersebut digelar untuk memberikan semangat kepada para pelaku seni sekaligus memperkenalkan dinamika kehidupan seni dan budaya Yogyakarta kepada masyarakat luas.

“Ini untuk menyemangati teman-teman dan untuk kemajuan seni budaya di Jogja. Dengan adanya podcast yang disiarkan secara langsung, masyarakat bisa melihat bahwa kehidupan seni dan budaya di Jogja selalu hidup dan terus bervariasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wawan Harmawan menyoroti pentingnya menghadirkan pengalaman budaya yang autentik sejak wisatawan pertama kali tiba di Yogyakarta, termasuk saat menginap di hotel.

Menurutnya, identitas budaya Yogyakarta seharusnya dapat dirasakan melalui berbagai elemen, mulai dari desain bangunan, interior, musik pengiring, hingga keramahan pelayanan.

“Ketika tamu masuk ke hotel, fasadnya sudah menunjukkan nuansa Jogja. Setelah masuk, interiornya juga menghadirkan suasana Jogja. Musik gamelan, sapaan ‘Sugeng Rawuh’, hingga keramahan masyarakat menjadi pengalaman yang sangat dirindukan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara,” kata Wawan.

Ia menilai hotel-hotel di Yogyakarta dapat menjadi etalase budaya dengan melibatkan seniman lokal untuk menampilkan karya-karya seni di ruang publik hotel maupun kamar tamu. Selain memperkuat identitas daerah, langkah tersebut juga memberikan ruang ekonomi bagi para pelaku seni.

“Harapan kami hotel-hotel di Jogja bisa menjadi role model. Menampilkan karya seniman lokal, melibatkan pelaku budaya setempat, sehingga budaya berjalan, ekonomi juga bergerak. Konsepnya adalah bela beli, saling menguatkan,” ujarnya.

Selain seni pertunjukan dan karya visual, Wawan juga menekankan pentingnya pengembangan wisata berbasis budaya dan pengalaman lokal yang autentik. Salah satunya melalui gastronomi pariwisata, yaitu memperkenalkan makanan khas Yogyakarta secara lebih mendalam, mulai dari proses pembuatan, nilai budaya, hingga kandungan gizinya.

“Gastronomi bukan sekadar makanannya. Tetapi bagaimana proses pembuatannya, cerita di baliknya, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Ini yang harus terus kita eksplor agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang autentik tentang Jogja,” jelasnya.

Menurut Wawan, Yogyakarta memiliki beragam potensi budaya yang dapat terus dikembangkan, mulai dari karawitan, wayang orang, seni tradisi, hingga berbagai aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Ia juga menyoroti keberadaan kampung-kampung wisata yang saat ini terus berkembang sebagai destinasi berbasis komunitas. Kampung wisata dinilai mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda karena menawarkan kekhasan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

“Kampung wisata menjual potensi yang dimiliki masing-masing kampung. Ini sangat menarik dan terus kita kembangkan. Bahkan beberapa kampung wisata sudah dikenal secara nasional karena memiliki atraksi budaya yang unik dan otentik,” katanya.

Wawan menambahkan, tren wisata saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada kunjungan destinasi, tetapi juga pengalaman. Karena itu berbagai inovasi seperti wisata tematik, jelajah kawasan heritage, pengalaman menjadi bagian dari budaya lokal, hingga kegiatan olahraga berbasis wisata budaya menjadi peluang besar untuk terus dikembangkan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa kemajuan pariwisata Yogyakarta tidak dapat dibangun oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha, komunitas seni, akademisi, hingga masyarakat.

“Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada dukungan dari sektor swasta, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Yogyakarta akan semakin komprehensif dan memiliki daya saing yang kuat,” ungkapnya.

Wawan menambahkan, meskipun Kota Yogyakarta memiliki wilayah yang relatif kecil, yaitu sekitar 32,5 kilometer persegi, kota ini memiliki kekuatan besar pada kekayaan budaya, kreativitas masyarakat, serta suasana yang aman dan nyaman bagi wisatawan.

“Yang ingin terus kami bangun adalah kenyamanan dan rasa aman bagi siapa pun yang datang ke Yogyakarta. Ditambah dengan identitas budaya yang kuat, kearifan lokal yang tetap terjaga, dan ruang kolaborasi yang terbuka bagi semua pihak,” pungkasnya.