JAKARTA,REDAKSI17.COM — Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta memandang konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat masih berada dalam fase yang belum menentukan. Menurut dia, terdapat tiga skenario besar yang saat ini sedang “bergulat” di lapangan dan akan menentukan arah geopolitik Timur Tengah sekaligus masa depan gagasan kerja sama pertahanan dunia Islam.
Dalam wawancara khusus dengan Republika di Jakarta, Senin (8/6/2026), Anis menyebut ketiga skenario tersebut adalah perdamaian, eskalasi perang yang lebih luas, dan kondisi status quo atau “no peace, no war”.
“Kalau kita melihat sekarang, ini adalah pertarungan antara skenario damai dan skenario eskalasi. Kita belum tahu mana yang akan menang,” ujar Anis.
Menurut dia, jika konflik berakhir melalui jalur damai dalam waktu dekat, posisi Iran saat ini relatif lebih diuntungkan. Alasannya, berbagai tujuan awal yang disebut ingin dicapai Israel dan Amerika Serikat sejak pecahnya perang gagal terwujud.
Ia menilai rezim di Teheran tetap bertahan, tidak terjadi gejolak politik internal yang menjatuhkan pemerintahan, dan kemampuan militer Iran masih mampu mempertahankan diri dari tekanan eksternal.
“Kalau alat ukur kemenangan adalah target yang ditentukan di awal, maka target itu tidak tercapai. Karena itu muncul persepsi bahwa Iran menang dalam ronde pertama,” katanya.
Namun Anis mengingatkan bahwa perang belum benar-benar usai. Ia melihat adanya upaya-upaya yang berpotensi mengganggu proses menuju perdamaian.
Anis menyoroti serangan-serangan Israel yang masih terjadi di Lebanon maupun sejumlah wilayah Iran. Menurut dia, serangan tersebut dapat dibaca sebagai upaya mengganggu peluang tercapainya kesepakatan damai.
Ia juga menggarisbawahi perkembangan baru dalam posisi diplomatik Iran. Untuk pertama kalinya, kata dia, Teheran memasukkan isu Lebanon sebagai bagian dari agenda perundingan.
Dalam pandangan Iran, serangan terhadap Lebanon kini dipandang memiliki keterkaitan langsung dengan keamanan Iran sendiri.
“Artinya spektrum konflik menjadi lebih luas. Iran sekarang mengatakan tidak ada pembicaraan damai kalau Israel masih menyerang Lebanon,” ujar Anis.
Menurut dia, perluasan spektrum konflik seperti itu berpotensi mempersulit proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Meski melihat Iran unggul pada fase awal konflik, Anis menilai skenario yang paling mengkhawatirkan adalah apabila terjadi eskalasi baru.
Ia memperkirakan ronde kedua konflik bisa berlangsung jauh lebih brutal dibandingkan fase pertama perang.
Menurut dia, efektivitas serangan udara memiliki keterbatasan apabila tidak diikuti operasi darat. Namun pengalaman Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak menunjukkan bahwa invasi darat terhadap negara besar dan relatif solid menyimpan risiko yang sangat tinggi.
“Saya sulit membayangkan Amerika mengambil keputusan invasi darat ke Iran,” katanya.
Karena itu, ia memperkirakan kemungkinan eskalasi akan bergerak ke penggunaan teknologi militer yang lebih canggih dan destruktif.
Dalam konteks itulah, Anis menilai sejumlah pengamat internasional mulai memperingatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Israel yang jauh lebih mematikan apabila konflik memasuki fase baru.
Ia menyebut sejumlah analis geopolitik Barat telah mengangkat kemungkinan tersebut sebagai risiko yang patut diperhatikan.
“Kalau ada eskalasi ronde kedua, maka dia akan jauh lebih brutal daripada yang pertama,” ujarnya.
Skenario Ketiga: Tidak Damai, Bukan Perang
Selain perdamaian dan eskalasi, Anis melihat kemungkinan ketiga berupa situasi “no peace, no war”.
Dalam skenario ini, tidak ada kesepakatan damai formal, tetapi juga tidak terjadi perang besar yang terbuka.
Seluruh pihak, kata dia, akan menggunakan waktu untuk membangun kembali kapasitas militer, memperkuat posisi strategis, sekaligus menguji berbagai peluang diplomatik yang masih tersedia.
“Semua orang saling mengawasi, membangun kekuatannya kembali, dan bersiap untuk sesuatu yang lebih besar sambil menjajaki kemungkinan damai,” kata Anis.
Menurut dia, saat ini ketiga skenario tersebut masih sama-sama hidup dan belum ada indikasi kuat mana yang akan mendominasi.
Bagi Indonesia, Anis menilai dampak terbesar dari ketidakstabilan Timur Tengah berada pada sektor energi.
Ia mengingatkan kawasan Timur Tengah menyimpan hampir setengah cadangan minyak dunia. Karena itu, gangguan geopolitik di kawasan tersebut akan langsung memengaruhi pasokan dan harga energi global.
Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar dinilai sangat rentan terhadap gejolak tersebut.
“Kita pasti punya persoalan energi yang sangat besar. Bukan hanya dari sisi harga, tapi juga dari sisi pasokan,” katanya.
Anis menjelaskan kenaikan harga minyak dunia akan berdampak berantai terhadap biaya impor energi nasional. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan menekan APBN dan meningkatkan tekanan inflasi.
Apabila pemerintah tidak mampu terus menahan lonjakan harga melalui subsidi, masyarakat akan merasakan dampaknya secara langsung melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Namun menurut dia, ancaman yang lebih serius justru bisa muncul pada sektor pangan, terutama terkait ketersediaan pupuk yang sangat bergantung pada stabilitas pasar energi global.
Dalam menghadapi situasi geopolitik yang semakin tidak menentu, Anis mengatakan Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya berangkat dari asumsi bahwa dunia sedang memasuki fase survival.
Menurut dia, berbagai konflik internasional menunjukkan bahwa prioritas utama setiap negara saat ini adalah menjaga kemampuan bertahan hidup di tengah guncangan geopolitik.
Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan apa yang disebut Anis sebagai “strategic autonomy” atau kemandirian strategis.
Konsep tersebut mencakup kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan vital secara mandiri, terutama pada sektor-sektor yang menentukan ketahanan nasional seperti energi, pangan, dan industri strategis.
“Kalau ada guncangan besar secara geopolitik, kita tetap bisa survive,” ujarnya.
Untuk menghadapi perubahan lanskap global, Anis menilai Indonesia juga memerlukan pendekatan diplomasi baru.
Ia menyebut pendekatan itu sebagai “diplomasi dapur”, yakni diplomasi yang tidak hanya hadir dalam forum-forum resmi, tetapi ikut membentuk agenda dan arah pembicaraan internasional.
Menurut dia, efektivitas lembaga-lembaga multilateral saat ini semakin berkurang sehingga negara-negara perlu lebih aktif membangun komunikasi langsung dengan berbagai aktor global.
“Diplomasi sekarang bukan hanya duduk di meja perundingan. Kita harus ikut memasak menu yang akan dihidangkan di meja itu,” kata Anis.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pendekatan semacam itu membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak dapat diperoleh secara instan.
Yang terpenting, kata dia, Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam percaturan global, melainkan ikut menentukan isu-isu yang akan membentuk masa depan tatanan internasional.
“Bukan sekadar ikut makan di meja, tetapi ikut menentukan menu yang diperbincangkan orang,” ujarnya.




