Doha,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026) seiring kembali dibukanya jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui perundingan di Doha, Qatar.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus yang jatuh tempo pada Selasa turun 1,03 persen atau 75 sen menjadi 72,40 dolar AS per barel pada pukul 00.38 GMT. Sementara itu, kontrak Brent pengiriman September yang lebih aktif diperdagangkan melemah 0,54 persen atau 40 sen ke level 73,51 dolar AS per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,66 persen atau 47 sen menjadi 70,32 dolar AS per barel.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada hasil negosiasi AS dan Iran di Doha, di tengah masih berlanjutnya aksi saling serang rudal antara kedua negara. Eskalasi yang berlangsung sejak pekan lalu tersebut menjadi ujian bagi efektivitas gencatan senjata sementara yang diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah memasuki bulan keempat.

Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, pada Senin (29/6/2026). Ia mengatakan para ahli dari Iran dan Oman akan segera memulai pembahasan mengenai pendefinisian ulang jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Gharibabadi bahkan menyebut Iran akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang melintas di luar jalur yang telah ditetapkan.

Namun, sinyal berbeda datang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Ia menegaskan bahwa dalam waktu dekat tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan Amerika Serikat di tingkat mana pun.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump hanya memberikan komentar singkat terkait peluang perundingan tersebut saat berada di Ruang Oval. “Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin tidak. Kita akan mengetahuinya,” ujar Trump.

Tim Waterer, analis pasar utama di KCM Trade, menilai sentimen pasar masih dibayangi kehati-hatian meskipun terdapat harapan terhadap hasil positif dari perundingan di Doha. “Investor memperhitungkan harapan akan hasil positif dari pembicaraan Doha, meskipun normalisasi nyata aliran melalui Selat Hormuz belum terlihat,” kata Waterer.

“Pasar optimis dengan hati-hati tetapi masih melakukan lindung nilai sampai kita melihat tanda-tanda penurunan eskalasi yang lebih nyata,” tambahnya.

Di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, aktivitas ekspor energi dari kawasan Timur Tengah tetap berjalan relatif normal. Produsen minyak dan gas terus melakukan pemuatan minyak mentah maupun gas alam cair (LNG), sementara data pengiriman menunjukkan belum ada gangguan berarti terhadap arus ekspor.

Prospek pemulihan pasokan dari kawasan Teluk Persia juga mulai menguat. Pada pekan lalu, lalu lintas kapal di wilayah tersebut tercatat mencapai level tertinggi sejak konflik pecah pada akhir Februari.

Dalam catatan analisis yang dirilis pada 29 Juni, analis Goldman Sachs menulis, “Dengan asumsi aliran Teluk Persia terus pulih dengan kecepatan rata-rata yang sama seperti dalam dua minggu terakhir… aliran Teluk dapat kembali ke tingkat sebelum perang sebesar 23 juta barel per hari pada awal Juli.”