Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono/Foto: Kemenkop
Jakarta,REDAKSI17.COM – Koperasi didorong masuk ekosistem industri sawit. Koperasi ditargetkan tidak hanya mengelola kebun sawit, tapi juga mempunyai pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) hingga produksi minyak goreng.
Langkah tersebut akan dimulai dengan peresmian pabrik CPO di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan kapasitas produksi dari pabrik tersebut mencapai 60 ton per jam.
“Kami nanti akhir bulan Juli atau awal Agustus kami akan melaksanakan apa peresmian pabrik CPO oleh koperasi di Musi Banyuasin dan dengan luas lahan 3.100 hektare (ha) dengan kemampuan produksi 60 ton per jam,” ujar Ferry dalam konferensi pers di kantornya, ditulis Jumat (3/7/2026).
Ferry menyebut pabrik tersebut bisa menjadi model bisnis yang akan dikembangkan juga di daerah lain bersama dengan PT Agrinas Palma Nusantara. Bahkan Ferry menargetkan koperasi juga dapat terlibat memproduksi minyak goreng.
“Bisa juga koperasi ini ikut terlibat dalam proses pendirian pabrik pengolahan kelapa sawit, PKS atau CPO. Dan bahkan nanti kita juga bisa terlibat juga sampai dengan produk turunannya ke minyak goreng dan lain sebagainya,” beber Ferry.
Menurut Ferry, koperasi tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia menegaskan bahwa koperasi memiliki potensi besar untuk mengelola industri sawit secara mandiri, bukan lagi sekadar bergantung pada pihak swasta. Koperasi masuk ekosistem bisnis industri sawit ini juga merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau yang kemarin kan semuanya swasta, kebunnya swasta CPO-nya swasta, produk turunannya swasta, sekarang atas arahan Bapak Presiden, koperasi itu harus terlibat dari bukan hanya di kebun tapi juga ikut terlibat di proses produksinya sampai ke produk turunannya,” tambah ia.
Ferry mengaku sering menerima keluhan dari para petani sawit yang justru harus mengantre minyak goreng. Menurutnya, kondisi tersebut adalah sebuah ironi yang harus segera diakhiri melalui penguatan peran koperasi dalam tata niaga sawit.
Ferry menegaskan dengan memiliki pabrik CPO sendiri, koperasi tidak lagi bergantung pada pabrik milik swasta untuk mengolah bahan baku. Kedepannya, hasil produksi tersebut akan diolah menjadi produk turunan, seperti minyak makan merah atau minyak goreng yang nantinya akan dipasarkan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
“Jadi kita tidak bergantung lagi dengan pabrik-pabrik CPO yang dimiliki oleh pihak yang lain. Jadi koperasi bisa lebih mandiri dan harapannya nanti hasil produk turunannya bisa minyak makan merah atau minyak goreng dan sebagainya, dan hasil produksinya kalau nanti bisa sampai ke minyak goreng,” imbuhnya.





