Beranda / Politik / GREAT Institute Menyarankan Presiden Prabowo Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

GREAT Institute Menyarankan Presiden Prabowo Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

 

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan menilai Presiden Prabowo harus hadir di acara pemakaman Ali Khamenei.. Foto dokumentasi GREAT Institute

JAKARTA,REDAKSI17.COM – GREAT Institute menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan penghormatan diplomatik yang lebih tinggi kepada Iran. Salah satunya dengan menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei atau melakukan kunjungan kenegaraan ke Teheran.

Saran tersebut menjadi salah satu rekomendasi utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Peran Indonesia Pascaperang Amerika–Iran yang digelar di Jakarta, Selasa (7/7).

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan, mengatakan langkah tersebut dinilai bisa mencerminkan keseriusan Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral dengan Iran sekaligus mempertegas posisi diplomasi Indonesia di tengah perubahan geopolitik global.

“Indonesia perlu menunjukkan penghormatan diplomatik yang lebih tinggi kepada Iran, baik melalui kehadiran Presiden pada momentum penting maupun melalui lawatan kenegaraan,” ujarnya.

GREAT Institute ikut mendorong pemerintah memperkuat hubungan Indonesia-Iran yang telah terjalin sejak semangat Konferensi Asia Afrika. Selain itu, juga mengusulkan peningkatan kerja sama strategis antara Indonesia, Iran, dan Turki sebagai bagian dari upaya membangun poros kerja sama baru di dunia Islam.

“FGD menilai konflik Amerika Serikat dan Iran telah membuka babak baru dalam dinamika geopolitik dunia,” kata Syahganda.

Dia menyebutkan, persaingan antarnegara kini tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga mencakup perang informasi, siber, ekonomi, teknologi, hingga perebutan pengaruh diplomatik.

Oleh karena itu, forum ini menilai Indonesia perlu merumuskan kembali kepentingan nasional (national interest) secara lebih tegas sebagai landasan penyusunan kebijakan luar negeri.

“Tanpa arah yang jelas, diplomasi Indonesia dikhawatirkan akan bersifat reaktif dalam menghadapi berbagai krisis internasional,” tegasnya.

Di sisi lain, para peserta juga menilai Indonesia memiliki modal besar untuk memainkan peran lebih aktif di panggung global sebagai negara Muslim terbesar di dunia serta anggota G20, ASEAN, BRICS, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Posisi tersebut dinilai memberi peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai bridge builder di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan dunia.

Diskusi turut menyoroti pengalaman Iran dalam menghadapi embargo dan tekanan internasional selama puluhan tahun. Menurut forum, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemandirian ekonomi, teknologi, energi, industri pertahanan, serta kohesi sosial.

Atas dasar itu, GREAT Institute menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh, mulai dari sektor pertahanan, energi, pangan, fiskal, informasi, maritim, hingga penguasaan teknologi strategis agar mampu menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara lebih berwibawa.

FGD juga menekankan pentingnya memperluas pendekatan diplomasi melalui hubungan antarmasyarakat (people-to-people diplomacy) sebagai pelengkap diplomasi antarpemerintah untuk memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan posisi tawar Indonesia.

Forum ini dihadiri sejumlah akademisi, diplomat, peneliti, ekonom, dan pakar geopolitik, antara lain Dr. Nasir Tamara, Drs. Dian Wirengjurit, Dr. Teguh Santosa, Dr. Anton Permana, Dina Sulaeman, Bursah Zarnubi, Dr. Fitra Faisal, Dr. Rizal Darma Putra, Drs. Zaman Syah, serta Ir. Abdullah Rasyid. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *