TEHERAN,REDAKSI17.COM — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, Amerika Serikat (AS), entitas pendudukan Israel, dan NATO telah gagal memaksa Iran untuk tunduk. Ia menekankan bahwa perang apa pun di masa depan tidak akan pernah membuat Republik Islam itu menyerah.
Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf dalam pertemuan dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Ahmad Muzani. Muzani datang bersama delegasi RI yang dipimpin Menteri Luar Negeri Sugiono untuk memberi penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Ghalibaf menyatakan, Iran tidak pernah menginginkan perang, namun tetap berkomitmen penuh untuk membela kedaulatannya. Ia menambahkan bahwa upaya penurunan ketegangan (deeskalasi) tidak akan mengurangi kesiapan militer negaranya.
Menurut dia, sebelum perang terakhir pecah, AS, penjajah Israel, dan NATO meyakini bahwa mereka dapat memaksa Iran menyerah dalam hitungan hari. “Namun, mereka segera menyadari bahwa tujuan tersebut tidak akan tercapai, dan seluruh dunia telah menyaksikan kegagalan mereka melawan Iran,”ujar Ghalibaf seperti dilansir dari laman Al Mayadeen, Jumat(10/7/2026).
Menyinggung soal negosiasi dengan Washington, Ghalibaf mengaku telah memperjelas posisi Iran saat berbicara langsung dengan wakil presiden AS.”Saya tegaskan kepada wakil presiden AS dalam perundingan tersebut bahwa kami sama sekali tidak memercayai Anda,” ungkap dia.
Ketua Parlemen Iran itu menekankan, Teheran tidak pernah berhenti mempersiapkan diri untuk membela wilayah dan kedaulatannya. Ia pun memperingatkan, “Kapan pun pihak Amerika mengkhianati kesepakatan, kami siap melakukan pembelaan menyeluruh.”
Ghalibaf menambahkan bahwa mengakhiri perang tetap menjadi prioritas bagi negara-negara di dunia. Kendati demikian, ia menegaskan, “Semua orang harus tahu bahwa konflik ini tidak akan pernah berakhir dengan menyerahnya Iran.”
Menurut laporan Kantor Berita IRNA pada Jumat, Menteri Luar Negeri RI Sugiono tiba di Mashhad pada Jumat dini hari bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah cendekiawan Muslim, dan beberapa perwakilan organisasi Muslim RI.
Sebelumnya, pada Kamis, Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa kunjungan Menlu Sugiono dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani ke Iran bertujuan untuk memberi penghormatan kepada almarhum Ayatollah Ali Khamenei sekaligus menguatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran.
Menurut Yvonne, pertemuan kedua Menlu itu diharapkan dapat mempercepat koordinasi kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan regional dan global.
Turut serta dalam delegasi RI ke Mashhad yakni Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Delegasi RI berkunjung ke Mashhad untuk menghadiri pemakaman pemimpin besar Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menerima kedatangan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono di Kota Mashhad, Iran.
Di tengah serangan AS
Kedatangan para pimpinan dunia untuk menghadiri pemakaman pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei diwarnai serangan udara Amerika Serikat (AS) ke puluhan titik yang diklaim sebagai situs militer Iran.
Iran pun kembali membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, melayangkan peringatan keras atas serangan tersebut. Zolghadr menegaskan bahwa serangan militer yang menargetkan infrastruktur negaranya “pasti akan menghadapi aksi balas dendam” dari Angkatan Bersenjata Iran.
Zolghadr juga menekankan bahwa pihak penjajah Israel “tidak akan aman” dari balasan militer Iran. Pernyataan ini menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk, yang menurut Teheran dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Washington.
Sementara itu, Organisasi Penerbangan Sipil Iran menyatakan bahwa operasional penerbangan di seluruh negeri tetap berjalan normal tanpa gangguan meski ada ancaman keamanan. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa langkah-langkah pencegahan telah dikoordinasikan dengan otoritas militer dan keamanan demi memastikan keselamatan penumpang, serta menjaga kelangsungan layanan udara domestik maupun internasional. Mereka mencatat bahwa penundaan atau pembatalan sementara hanya akan diterapkan murni sebagai prosedur keselamatan.





