Beranda / Nasional Dan Internasional / Sri Sultan Ajak Purbaya Saksikan Kolaborasi Wayang dan Orkestra

Sri Sultan Ajak Purbaya Saksikan Kolaborasi Wayang dan Orkestra

Sleman,REDAKSI17.COM – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa menyaksikan Konser Kolaborasi Youth Music Camp dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) 2026. Konser yang digelar di Auditorium Driyarkara, Sanata Dharma pada Kamis (16/07) ini menjadi peringatan 10 tahun kerja sama budaya DIY dan Victoria, Australia.

Mengangkat tema ‘A Decade: A Deeper Understanding’, konser kolaborasi ini berlangsung dengan dana dari Dana Keistimewaan (Danais). Pada konser kali ini, ditampilkan Repertoar ‘Dharma’, sebuah karya yang memadukan keharmonisan musik dengan seni wayang kulit.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, 10 tahun sudah DIY dan Victoria merajut kerja sama ini, melalui panggung-panggung kolaborasi yang melahirkan karya menakjubkan. Pantaslah jika pertunjukan ini menyematkan tajuk: ‘Satu Dekade, Untuk Pemahaman Yang Kian Mendalam’.

“Malam ini, kita berjumpa, sebagai saksi dari satu dekade perjalanan cinta dua bangsa. Pada titik sepuluh tahun inilah, kita mempertemukan dua wahana rasa yang sekilas berjarak, namun sesungguhnya serumpun, yakni Orkestra yang megah dari Melbourne, dan Wayang, yang agung dari jantung Jawa,” ungkap Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, bagi orang Jawa, wayang bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Sejak 2003, dunia melalui UNESCO telah mengakuinya sebagai mahakarya warisan lisan dan takbenda kemanusiaan.

“Di balik kelir dan sabetnya, wayang menyimpan filsafat hidup yang utuh, tentang baik dan buruk yang senantiasa bergumul dalam diri manusia, dan kebijaksanaan yang dituturkan turun-temurun oleh sang dalang. Dan kini, tuntunan itu berdialog dengan orkestra,” paparnya.

Bagi Sri Sultan, esensi peradaban sesungguhnya adalah tentang keberagaman yang terorkestrasi, bukan tentang menyamakan suara, bukan memaksakan hegemoni, tetapi tentang merayakan perbedaan, dalam sebuah harmoni. Di tengah dunia yang seringkali memilih berteriak ketimbang mendengar, kolaborasi malam ini adalah selayaknya sebuah persaudaraan lintas benua, meski dibalut selaksa perbedaan.

“Membangun peradaban, memang seperti menulis simfoni. Perdamaian dunia tidak akan pernah lahir dari aksi solo. Perdamaian memerlukan kesediaan kita menjadi bagian dari orkestra kemanusiaan kolektif, sebagaimana dalang yang menjaga lakon, agar tuntunan tak pernah kehilangan arah,” imbuh Sri Sultan.

Melalui perjumpaan Wayang dan Orkestra malam ini, Sri Sultan menegaskan tentang torehan babak baru dalam partitur sejarah bersama. Sri Sultan pun mengajak seluruh pihak untuk menjalin janji, untuk terus mendengar meski aksen berbeda, untuk terus bersama meski irama hati tidak selalu sama.

“Biarlah malam ini menjadi kenangan, tentang dua warisan budaya yang menjalin pengertian dan mengembuskan perdamaian. Semoga kita merekatkan tali persaudaraan Yogyakarta dan Victoria untuk dekade-dekade berikutnya. Karena sejarah terindah tidak semata dipatri dengan tinta, melainkan juga dianyam dalam nada,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, tema konser malam ini, selain merangkul momentum 10 tahun kerja sama, juga merefleksikan bagaimana setiap pihak semakin saling memahami budaya satu sama lain. Tema ‘A Decade: A Deeper Understanding’ ini juga mendorong supaya para musisi muda dapat selalu menemukan makna yang lebih dalam dari laku seni sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

“Kami juga menggunakan momentum konser kolaborasi ini sebagai event yang mengawali Bulan Warisan Budaya. Dalam momentum inilah wayang dihadirkan di panggung bersama orkestra. Kami percaya perjumpaan warisan-warisan budaya ini mampu berpadu dan menghasilkan keindahan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Bulan Warisan Budaya adalah gerakan bersama selama bulan Juli, Agustus, dan September untuk merayakan, mempromosikan, memelihara, mengembangkan, dan memajukan warisan budaya DIY yang telah memperoleh pengakuan UNESCO, baik sebagai warisan budaya takbenda maupun warisan dunia. Bulan Warisan Budaya digelar melalui berbagai kegiatan edukasi, pertunjukan, pameran, festival, dan partisipasi masyarakat. Bulan Warisan Budaya menjadi identitas tahunan bertepatan dengan berbagai momentum penting warisan budaya.

Chief Operating Officer MSO, Susanne Dembo mengatakan, konser tahun ini menandai tonggak penting seiring merayakan 10 tahun kemitraan antara MSO dengan DIY. Bagi MSO, semua ini bermula dari musik. Kolaborasi ini bahkan telah mencapai banyak capaian penting.

“Selama satu dekade terakhir, semuanya berawal dari sesuatu yang sangat sederhana, yakni keyakinan bersama akan kekuatan musik dalam mempersatukan manusia. Bagi kami kemitraan yang paling kokoh adalah kemitraan di mana semua pihak turut belajar,” imbuhnya.

Menurut Dembo, hubungan yang terjalin selama ini telah memperkaya kedua pihak, baik MSO maupun para sahabat dan rekan MSO di DIY. Ia pun berbangga atas apa yang telah dicapai bersama melalui kemitraan ini. “Yang tidak kalah penting adalah membangun persahabatan yang bertahan lama dan terus memperkuat hubungan antara Australia dan Indonesia,” imbuhnya.

Konser kolaborasi kali ini melibatkan lima pemain dari MSO, 25 peserta Youth Music Camp 2026, 1 solis Cello, 4 musisi pendukung, dan tim wayang yang dipimpin oleh dalang muda Fani Rickyansyah. Konser dibuka oleh Trafa String Quarted, sebuah kelompok musik kamar yang setiap anggotanya adalah lulusan Youth Music Camp dari berbagai angkatan. Memasuki sesi konser kolaborasi, empat repertoar dibawakan, yakni Serenade for String Orchestra karya Edward Elgar, Andante Cantabile for String Orchestra karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang diaranssmen ulang oleh John M. Laverty, Cascade for String Ensemble & Backing Track karya Jessamie Kaitler, serta Alternate Universe karya Anton Koch.

Pertunjukan pun ditutup apik oleh penampilan kolaborasi yang membawakan repertoar Dharma karya Vishnu Satyagraha, komposer Indonesia dan Thomas Green, komposer Australia. Kolaborasi pemusik orkestra dan dalang Fani Rickyansyah ini menyajikan pertunjukkan musik yang bercerita tentang epos Mahabharata. Dharma yang dimaknai sebagai tanggung jawab, mengisahkan pencarian makna hidup oleh Yudhistira dan adik-adiknya dalam Pandawa.

Untuk menceritakan pencarian makna Dharma tersebut, kisah kehidupan Yudhistira dibawakan dalam empat babak. Babak pertama, Lost at The Dice yang menggambarkan peristiwa kekalahan Pandawa dalam permainan dadu. Selanjutnya babak Pengasingan, menggambarkan masa pengasingan Pandawa akibat kekalahan. Babak ketiga ialah Baratayuda yakni masa peperangan, serta babak terakhir, Sunya yang menceritakan masa setelah perang, masa permenungan yang penuh refleksi.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *