Beranda / Antara Al-Qur’an dan Ilmuwan

Antara Al-Qur’an dan Ilmuwan

Selama berabad-abad, banyak orang membayangkan ruang angkasa dipenuhi cahaya terang seperti siang di Bumi. Namun ketika manusia mulai melihat langsung dari luar atmosfer, pemandangan yang tampak justru didominasi kegelapan. Matahari memang bersinar sangat terang, tetapi langit luar angkasa tetap terlihat hitam karena hampir tidak ada atmosfer yang menyebarkan cahaya.
‎Di Bumi, langit tampak biru karena cahaya Matahari dihamburkan oleh atmosfer. Dari luar angkasa, lapisan atmosfer yang membuat siang tampak terang itu terlihat sangat tipis dibandingkan ukuran Bumi, sehingga muncul kesan seolah-olah hanya ada selimut cahaya tipis yang menyelimuti planet ini.
‎Sebagian umat Islam mengaitkan fenomena tersebut dengan Surah Yasin ayat 37, khususnya kata “naslakhu”, yang secara harfiah bermakna “menguliti” atau “mengupas”. Menurut sebagian tafsir, ungkapan itu menggambarkan seolah-olah cahaya siang dikupas dari malam hingga kegelapan kembali tampak. Penafsiran ini merupakan salah satu bentuk tadabbur dan bukan penjelasan ilmiah yang disepakati semua ulama maupun ilmuwan.
‎Perpaduan antara penemuan antariksa dan perenungan terhadap ayat Al-Qur’an terus menjadi bahan diskusi hingga sekarang. Bagi sebagian orang, hal ini menambah kekaguman terhadap alam semesta, sementara bagi yang lain menjadi pengingat bahwa sains dan tafsir memiliki ruang pembahasan yang berbeda.
‎Referensi:
‎• Al-Qur’an – Surah Yasin Ayat 37
‎• Tafsir Ibnu Katsir – Penafsiran Surah Yasin Ayat 37
‎• NASA – Why Is Space Black?
‎• ESA (European Space Agency) – Earth’s Atmosphere Seen from Space

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *