Beranda / Nasional Dan Internasional / Elon Musk Buka-bukaan Soal Muslim, Trump, dan Ketakutan Terbesar

Elon Musk Buka-bukaan Soal Muslim, Trump, dan Ketakutan Terbesar

Jakarta,REDAKSI17.COM – Elon Musk mengakui dirinya sempat terlalu larut dalam dunia politik ketika dekat dengan Donald Trump dan memimpin Department of Government Efficiency (Doge), lembaga yang menangani efisiensi anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Pengakuan itu disampaikan Musk dalam wawancara berdurasi 90 menit dengan The Economist. Dalam wawancara tersebut, Musk membahas berbagai isu, mulai dari politik, kecerdasan buatan (AI), perang, hingga prediksinya mengenai masa depan.

“Terus terang, saya terlalu terbawa,” kata Musk mengenai hubungannya dengan Trump, dikutip dari The Guardian, Kamis (30/7/2026).

Musk diketahui memberikan dukungan finansial sebesar US$200 juta untuk membantu Trump memenangkan pemilihan 2024.

Setelah itu, ia memimpin Doge dalam masa jabatan yang menuai kontroversi, termasuk mengawasi pemangkasan anggaran senilai US$150 miliar yang disebut merugikan serta menyebabkan puluhan ribu pegawai federal kehilangan pekerjaan.

Pemilik Tesla itu tidak menjelaskan lebih lanjut pernyataannya, namun ia tampak menyadari dampak keterlibatannya dalam kekuasaan di Washington DC.

Sebelumnya, pada Desember lalu, Musk juga mengakui pendekatannya terhadap pemerintah federal hanya sebagian berhasil.

“Saya pikir daripada menjalankan Doge, saya seharusnya fokus pada perusahaan-perusahaan saya,” ujarnya saat itu.

Dalam wawancara dengan The Economist, Musk juga mengatakan keterlibatannya di politik memberinya pengaruh yang besar.

“Orang-orang tidak menyadari bahwa apa yang saya katakan akan menjadi kenyataan,” kata Musk.

Wawancara ini menjadi yang pertama bagi Musk sejak SpaceX melantai di Bursa Efek New York pada Juni lalu. Pada saat itu, kekayaan pribadinya sempat melampaui US$1,25 triliun sebelum turun menjadi sekitar US$750 miliar.

Musk mengatakan perkembangan AI menjadi salah satu hal yang paling membuatnya bersemangat sekaligus takut. Menurutnya, AI pada akhirnya akan membuat pekerjaan manusia menjadi opsional.

Ia memperkirakan sistem AI dan robot akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan digital maupun fisik.

Musk juga menyebut penggabungan usaha AI miliknya dengan SpaceX akan membantunya mengembangkan sistem yang mampu menjalankan tugas-tugas kognitif seperti pemrograman perangkat lunak, sementara Tesla akan memproduksi robot humanoid.

Menurut Musk, dalam lima tahun ke depan kecerdasan AI dapat melampaui total kecerdasan seluruh manusia. Dalam 10 tahun, robot di tempat kerja akan menciptakan era kelimpahan yang luar biasa sehingga uang menjadi tidak lagi relevan.

Musk juga mengungkapkan rencananya mengembangkan pusat data AI di luar angkasa untuk mendukung operasional usaha AI miliknya.

Selain AI, pandangan politik Musk menjadi bagian paling kontroversial dalam wawancara tersebut. Ia memprediksi Inggris akan menghadapi perang saudara dalam 20 tahun mendatang.

Saat ditanya apakah ia anti-Muslim, Musk menolak tuduhan tersebut.

“Saya menentang pemerkosaan dan pembunuhan. Saya menentang penerapan aturan dan hukum yang bertentangan dengan apa yang selama ini kami terima di Barat,” katanya.

“Sangat disayangkan media tradisional, seperti Anda, tidak menyadari hal ini.”

Di akhir wawancara, Musk kembali membahas ambisinya di bidang AI dan luar angkasa. Ia tetap optimistis manusia dapat menginjakkan kaki di Mars dalam waktu dekat.

Bahkan, Musk mengatakan alam semesta mungkin merupakan simulasi komputer yang diciptakan oleh alien.

“Hal-hal yang saya lakukan begitu luar biasa sehingga sulit dipercaya semuanya nyata,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *