“Tahun ini, rasanya besar kemungkinan akan mengalami pelemahan. Namun tentu ada banyak faktor yang menentukan hal tersebut, mulai dari perang Amerika dan Iran hingga kemungkinan The Fed menahan atau menaikkan suku bunga,” jelas Nico dalam risetnya, Senin (1/9/2026).
Nico memperkirakan IHSG memiliki peluang 43% untuk mencapai level 6.750 pada September. Namun, investor juga perlu memperhatikan level 6.230 sebagai batas exit jika tekanan pasar semakin kuat.
Di tengah potensi volatilitas yang meningkat, pergerakan di area support menjadi penting untuk menentukan arah IHSG berikutnya.
Di sisi lain, analisis teknikal menunjukkan tren IHSG masih relatif positif. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai peluang penguatan indeks masih terbuka berdasarkan sejumlah indikator teknikal.
MA20 dan MA60 telah membentuk positive crossover, yang menunjukkan adanya sinyal penguatan. Indikator Stochastics K_D juga masih memberikan sinyal positif, sementara RSI berpotensi membentuk golden cross.
“Secara teknikal, pergerakan IHSG akan membentuk pola high baru karena faktor uptrend. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross,” ujar Nafan.
Menurut Nafan, potensi koreksi pada September tidak otomatis mengubah tren IHSG dalam jangka panjang. Dengan kata lain, tekanan pasar dalam jangka pendek masih dapat terjadi tanpa menghilangkan peluang penguatan indeks ke depan.
Dalam skenario bullish, Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahkan memproyeksikan IHSG berpeluang menguji level 7.400 pada 2026.
Dengan kondisi tersebut, investor perlu mencermati dua sisi pasar pada September. Tekanan dan volatilitas jangka pendek masih menjadi risiko, tetapi tren teknikal jangka panjang tetap memberikan ruang bagi IHSG untuk kembali melanjutkan penguatan.





