Sementara itu, neraca perdagangan Juli 2026 diperkirakan mencatat defisit sebesar US$0,3 miliar. Investor juga menantikan data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia untuk Agustus 2026 yang diperkirakan naik ke level 50,5 dari 50,2 pada bulan sebelumnya.
Pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi sentimen global. Wall Street mengakhiri perdagangan Senin (31/8/2026) di zona merah. Phintraco Sekuritas menyebut koreksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap perekonomian.
Pelaku pasar global juga menunggu data job openings Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai 7,3 juta pada Juli 2026, sedikit turun dari 7,36 juta pada Juni 2026. Data tersebut dijadwalkan dirilis pada Selasa (1/9/2026).
Dari China, indeks PMI manufaktur resmi yang dirilis National Bureau of Statistics (NBS) tercatat naik ke level 49,8 pada Agustus 2026. Meski meningkat, level tersebut masih berada di bawah ambang ekspansi 50.
Di pasar komoditas, harga minyak ditutup menguat lebih dari 2% pada Senin (31/8/2026). Sementara itu, imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,75%.
Harga emas spot justru terkoreksi 0,5% ke level US$4.431 per troy ounce.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan awal September.
Untuk perdagangan Selasa (1/9/2026), Phintraco Sekuritas memilih sejumlah saham sebagai pilihan utama, yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).





