WASHINGTON DC,REDAKSI17.COM — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan berada dalam tekanan hebat. Konflik militer dengan Iran yang semula diprediksi bakal berlangsung singkat kini telah memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda mereda.
Kondisi tersebut tidak hanya menguras logistik militer Paman Sam, tetapi juga mulai merusak citra politik Trump di dalam negeri. Dukungan publik terhadap cara sang presiden menangani isu Iran anjlok drastis menjelang Pemilu Paruh Waktu (Midterm Elections) AS.
Laporan mendalam yang dihimpun dari berbagai sumber mengindikasikan bahwa atmosfer di dalam Gedung Putih kini jauh dari kata kondusif. Ketegangan internal meningkat seiring dengan macetnya strategi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Jurnalis senior The New York Times, Maggie Haberman, mengungkapkan bahwa Donald Trump berada dalam suasana hati yang sangat frustrasi akibat skenario perang yang melenceng jauh dari kalkulasi awalnya.
“Ini bukan lingkungan kerja yang bahagia, berdasarkan laporan dan penelusuran apa pun yang kami miliki saat ini,” ujar Haberman dalam program Laura Coates Live di CNN, Selasa (1/9/2026).
“Presiden telah berada dalam suasana hati yang cukup frustrasi untuk waktu yang lumayan lama terkait isu Iran. Dan harus diakui, masalah ini sejatinya adalah buah dari keputusannya sendiri,” tambahnya.
Eskalasi militer ini bermula pada Februari lalu ketika Amerika Serikat melancarkan kampanye pengeboman masif ke wilayah Iran. Gedung Putih awalnya optimistis bahwa serangan udara tersebut bakal memaksa Teheran berlutut dalam hitungan minggu.
Namun, kalkulasi militer AS meleset. Alih-alih menyerah, Iran justru merespons dengan menutup Selat Hormuz—salah satu urat nadi dan rute paling strategis bagi lalu lintas migas dunia.
Meski Trump berulang kali mengklaim di media bahwa militer AS telah mengamankan dan menguasai perairan tersebut, kenyataan di lapangan menunjukkan akses pelayaran internasional masih sangat terbatas dan berisiko tinggi.
Blokade secara de facto di Selat Hormuz ini memicu kepanikan di pasar komoditas global hingga mendorong kenaikan harga minyak mentah secara signifikan. Di saat yang sama, aksi saling balasan serangan rudal dan drone yang berkepanjangan mulai memeras persediaan amunisi strategis militer AS.
Haberman menegaskan, Trump awalnya sangat meyakini konflik ini bakal menjadi operasi militer cepat (swift war).
“Dia percaya, sebagaimana yang saya dan Jonathan Swan tulis dalam Regime Change, bahwa perang ini akan selesai dengan cepat. Namun, realitanya tidak berjalan seperti itu,” jelas Haberman.
Selain jalan buntu di medan tempur, Trump juga dipusingkan oleh masalah internal. Penipisan stok amunisi AS yang terus bocor ke publik membuat amarah sang presiden makin memuncak.
“Ada penipisan amunisi yang kian mengkhawatirkan, dan beritanya terus muncul di media. Trump sangat frustrasi terhadap kebocoran informasi internal tersebut,” tambahnya.
Perpanjangan masa perang ini terjadi pada momentum politik yang sangat krusial. Amerika Serikat dijadwalkan menggelar Pemilu Paruh Waktu pada 3 November mendatang. Pemilu ini merupakan ujian hidup-mati bagi sisa masa jabatan Trump.
Pada midterm elections, seluruh kursi DPR (House of Representatives) dan sepertiga kursi Senat diperebutkan. Mengingat Partai Republik saat ini hanya memegang mayoritas tipis di Kongres, hasil pemilu ini akan menentukan apakah Trump masih bisa meloloskan kebijakan utamanya hingga akhir masa jabatannya.
Sayangnya bagi Trump, persepsi pemilih terhadap kemampuannya memimpin perang justru merosot tajam. Analis Data Utama CNN, Harry Enten, membeberkan angka jajak pendapat yang mengkhawatirkan bagi kubu Republik.
Jajak pendapat terbaru periode Juli menunjukkan, hanya 29 persen pemilih terdaftar yang menyetujui cara Trump menangani konflik Iran. Angka ini terjun bebas jika dibandingkan dengan masa Pemilu Presiden 2024 lalu, di mana tingkat persetujuan publik terhadap isu geopolitik Trump sempat menyentuh angka 53 persen.
“Kita sedang menyaksikan penurunan drastis sebesar 24 poin hanya dalam kurun waktu dua tahun,” terang Enten.
“Kelebihan utama yang dimiliki Presiden Trump pada pemilu 2024 di mata para pemilih militan, kini berbalik menjadi kerugian politik yang sangat besar,” tegasnya.
Dampak dari tekanan geopolitik dan politik domestik ini mulai merembet ke stabilitas manajemen Gedung Putih. Haberman membeberkan bahwa hubungan Trump dengan para staf dan pejabat terdekatnya makin merenggang.
Trump dilaporkan kian sering meluapkan amarahnya kepada para pembantu dekatnya setiap kali perkembangan di lapangan tidak sesuai harapan.
“Dia cenderung menyerang orang-orang di sekitarnya ketika segala sesuatu tidak berjalan baik,” ujar Haberman.
Situasi kerja yang tidak kondusif ini memicu gelombang pengunduran diri para pejabat Gedung Putih. Salah satu sinyal terkuat adalah rencana hengkangnya Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
“Banyak pejabat di lingkaran dalam yang akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan lain,” bebernya.
Pihak Gedung Putih sendiri bergerak cepat menepis seluruh rumor keretakan internal dan frustrasi presiden tersebut. Juru Bicara Gedung Putih, Davis Ingle, melancarkan serangan balik terhadap laporan Haberman.
Dalam pernyataan resminya kepada The Independent, Ingle menilai laporan jurnalis The New York Times itu tidak objektif dan sarat muatan personal.
“Maggie Haberman dari Failing New York Times terus-menerus berakting seolah-olah dia adalah psikolog pribadi Trump. Padahal kenyataannya, dia hanya memiliki obsesi aneh terhadap Presiden demi menjaga relevansi medianya. Sangat menyedihkan melihatnya selama bertahun-tahun,” tegas Ingle.
Kendati dibantah keras oleh juru bicara resmi, realitas politik di Washington tak bisa dihindari. Konflik Iran telah menjelma menjadi ujian terberat bagi kepemimpinan Donald Trump.
Operasi militer yang semula diharapkan menjadi panggung pembuktian kekuatan AS justru berisiko menjadi boomerang politik yang berpotensi menghancurkan mayoritas Partai Republik di Kongres pada pemilu mendatang.





