Berbagai persoalan yang selama ini dianggap sebagai isu domestik Israel justru tidak dapat dilepaskan dari dinamika eksternal. Dampak serangan 7 Oktober 2023, perang di Gaza, keamanan perbatasan dengan Lebanon, hingga perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah pemilu.
Demikian analisis Amr Hasyim Rabi’, Wakil Direktur Pusat Studi Strategis dan Politik Al-Ahram, dalam melihat dinamika politik Israel menjelang pemilu Knesset, dikutip dari Aljazeera, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, persoalan ekonomi seperti membengkaknya belanja pertahanan dan migrasi tenaga profesional, serta persoalan sosial seperti polemik wajib militer bagi kelompok Haredi, memang tampak sebagai isu dalam negeri.
Namun, semuanya tetap berkaitan erat dengan kebijakan luar negeri dan kondisi perang yang terus berlangsung.
“Negara Israel yang relatif baru berdiri itu bekerja dalam sistem ekonomi perang yang berlangsung secara permanen,” kata Amr dalam analisisnya.
Pemilu Israel berlangsung hanya beberapa hari sebelum pemilu paruh waktu Kongres Amerika Serikat, yang dijadwalkan pada 3 November.
Amr menilai, Trump juga memiliki kepentingan besar terhadap hasil kedua pemilu tersebut. Ia memperkirakan Partai Republik menghadapi risiko kehilangan banyak kursi dan Partai Demokrat berpeluang memperoleh kemenangan.
Jika hal itu terjadi, ruang gerak pemerintahan Trump dalam dua tahun berikutnya dapat semakin terbatas.
Kondisi tersebut, menurut Amr, berpotensi membuat pemerintahan Trump bergerak seperti pemerintahan lame duck—istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan presiden yang memasuki periode akhir kekuasaannya dan menghadapi keterbatasan politik.
“Trump tampaknya khawatir tidak memenangkan pertarungan di Kongres. Karena itu, saat ini ia memberikan perhatian besar terhadap perkembangan Timur Tengah, termasuk pemilu Israel,” ujar Amr.
Trump bahkan telah memperingatkan pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again) bahwa kekalahan dalam pemilu Kongres dapat membawa konsekuensi besar bagi dirinya dan Partai Republik.
Menurut Amr, persoalan yang paling diperhatikan Trump bukan sekadar hasil pemilu, melainkan perubahan besar dalam opini publik Amerika terhadap Israel sejak perang Gaza meletus setelah serangan 7 Oktober 2023.
Berbagai survei opini publik menunjukkan adanya perubahan sikap masyarakat Amerika. Kebijakan Israel di Gaza, terutama serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur, semakin dikaitkan dengan menurunnya citra Israel dan Netanyahu.
Perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi keputusan Amerika mengenai bantuan senjata kepada Israel, dukungan terhadap Palestina, serta masa depan solusi dua negara.
Perubahan opini itu, menurut Amr, jauh lebih terasa di kalangan pemilih dan basis Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik. Kondisi tersebut membuat Israel semakin khawatir terhadap masa depan hubungannya dengan Washington.
Amr melihat Trump memiliki kepentingan pribadi yang kuat untuk menciptakan apa yang ia anggap sebagai keberhasilan besar di panggung internasional.
Menurutnya, persoalan dengan China merupakan konflik jangka panjang dengan konsekuensi yang sulit diprediksi. Sementara itu, Rusia juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah hanya karena dukungan militer dan ekonomi Barat terhadap Ukraina.
Karena itu, Timur Tengah menjadi kawasan yang lebih memungkinkan bagi Trump untuk mengejar capaian politik yang dapat memperkuat citra dirinya.
“Iran masih menolak tunduk terhadap tuntutan Trump. Karena itu, Gaza menjadi arena pertama dan Lebanon arena kedua yang paling dekat dengan ambisi Trump,” kata Amr.





