Penilaian tersebut disampaikannya ketika membahas rangkaian persoalan yang masih membayangi program MBG. Hal itu terutama kasus keracunan makanan yang menimpa anak-anak penerima manfaat.
“Kedua mengganti dengan pemimpin yang bagus. Sudaryono menurut saya bagus, tapi dia gagal sampai saat ini,” kata Mahfud dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Rabu (9/9/2026).
Menurut Mahfud, Sudaryono ditempatkan menjadi kepala dalam lembaga pengawas program itu dengan harapan dapat memperbaiki berbagai persoalan dalam pelaksanaan MBG. Namun, ia melihat hasil yang terjadi justru belum sesuai harapan.
Salah satu indikator yang disorotinya adalah kasus keracunan yang disebut semakin banyak dan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia.
“Kenapa? Itu keracunan jauh lebih banyak dari yang dulu. Keracunan anak-anak itu lebih banyak dari yang dulu dan tempatnya tersebar hampir di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Mahfud kemudian menegaskan bahwa persoalan tersebut membuatnya menilai sosok tersebut belum berhasil menjalankan mandat perbaikan yang dibebankan kepadanya.
“Bencananya berarti berkelanjutan, dan Pak Sudaryono itu gagal. Dia kan diletakkan di situ memperbaiki,” ujarnya.
Meski menyebutnya gagal sampai saat ini dalam mengurus persoalan makan bergizi, iatidak serta-merta menempatkan seluruh kesalahan di pundak dari Sudaryono.
Menurutnya, akar masalah justru berada pada kebijakan pemerintah dan sistem yang mengatur pelaksanaan program. Sudaryono, katanya berada dalam situasi yang membuat ruang geraknya untuk melakukan perubahan menjadi terbatas.
“Bukan dia sebenarnya masalahnya. Masalahnya di kebijakan pemerintahannya bagaimana sebenarnya. Dia tuh terjebak pada satu situasi di mana dia tidak bisa leluasa memperbaiki,” tutur Mahfud.
Adapun Mahfud sebelumnya menyebut pemerintah sebenarnya telah mengambil sejumlah langkah untuk merespons persoalan MBG. Salah satunya melalui pergantian pimpinan setelah muncul berbagai persoalan dalam pelaksanaan program.
Namun, pergantian kepemimpinan tersebut dinilai belum menyelesaikan masalah keamanan makanan. Kasus keracunan yang terus muncul justru menjadi ujian besar terhadap kemampuan pemerintah membenahi tata kelola MBG.
Dalam perbincangan dengan Mahfud, pembawa acara menyampaikan data yang mereka miliki mengenai jumlah korban keracunan. Disebutkan, pada tahun pertama jumlah korban mencapai 12.658 orang, sementara pada awal September 2026 angkanya disebut telah mencapai 51.000 orang.
“Tahun pertama, jumlahnya itu 12.658 orang. Sekarang itu sudah 51.000 di awal September. Artinya, dari 8 bulan di tahun 2026 itu jumlahnya tiga kali lipat dibanding tahun kemarin,” paparnya.





