Tidak ada korban tewas akibat serangan Iran itu. Kerusakan terjadi setelah AS pada Selasa mengonfirmasi bahwa militer mereka menargetkan lima kapal tanker Iran usai IRGC meneyerang sebuah kapal Angkatan Laut AS. IRGC kemudian menyebut serangan mereka menyasa delapan kapal tanker dan dua kapal perang dan juga pangkalan AS di Yordania.
Laporan juga menyebutkan bahwa pasukan AS di Yordania menembakkan setidaknya 30 rudal patriot untuk mempertahankan diri dari rentetan serangan rudal Iran. Serangan ke Muwaffaq Salti di tengah laporan AS secara cepat kekurangan stok rudal Patriot bersamaan dengan menipisnya persediaan munisi presisi lainnya.
The New York Post melaporkan bahwa serangan terbaru Iran sebagai sebuah eskalasi mematikan dari perang di mana Iran menggunakan rudal optik-elektro saat menargetkan pangkalan Mauwaffaq Salti. Laporan itu menggambarkan “gelombang serangan” IRGC terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan kapal Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
Sementara, laporan The Daily Telegraph menyebut serangan Iran menggunakan sistem pelacak optik-elektro yang didesain menggunakan sensor dan camera untuk memburu dan menghancurkan target dengan akurasi ekstrem.
Doktrin baru
Media pemerintah Iran pada Senin (7/9/2026) mengumumkan bahwa sebuah rudal balistik dengan kemampuan yang diperbarui telah mendemonstrasikan doktrin baru, Teheran “akan mengambil aksi terhadap ancaman, meski ancaman itu belum dilancarkan.” Laporan media itu berulang kali mengutip komentar dari Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezeai yang mengeklaim bahwa sebuah rudal terbaru Iran sukses diuji coba terhadap kapal induk AS.
Namun, tidak dijelaskan apakah rudal terbaru yang dimaksud Rezaei itu adalah rudal dengan bahan bakar padat, Qasem Basir. Pihak AS pada Sabtu pekan lalu mengatakan, rudal balistik ditargetkan ke kapal-kapal perang mereka dan direspons dengan pengeboman tiga kapal tanker Iran.
Dilaporkan the Gulf News, Selasa (8/9/2026), para ahli menyebut serangan rudal terhadap kapal induk AS sebagai eskalasi berbahaya, karena selama ini Iran hanya menyerang kapal-kapal komersial di lautan. Pesan dari Teheran beberapa hari terakhir semakin tegas, dan pada Senin dilaporkan bahwa rudal Qasem Basir menandai “sebuah titik balik dari strategi pertahanan Iran.”
Qasem Basir digambarkan sebagai sebuah rudal yang memiliki daya jangkau lebih jauh dan akurasi lebih tepat dengan hulu ledak seberat setengah ton. Rudal itu pertama kali ditampilkan ke publik tahun lalu, dengan deskripsi jarak jelajah hingga 1.200 kilometer.
Menurut Rezaei, rudal jenis baru dites dalam sebuah operasi militer laut untuk kali pertama dan langsung menargetkan kapal perang AS. Rezaei menggambarkan uji coba itu sebagai sebuah tes munisi spesial, yang menurutnya “menciptakan neraka bagi Amerika dan memaksa kapal-kapal Angkatan Laut AS kabur dari kawasan Teluk Persia.
Uji coba tingkat tinggi itu digelar secara simultan oleh Angkatan Udara IRGC. Di mana serentetan rudal diluncurkan menargetkan kapal induk AS dan kapal perusak yang selama ini menerapkan blokade maritim terhadap kapal-kapal tanker Iran.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi pada Selasa (8/9/2026) mengatakan, tidak ada teknologi canggih, termasuk teknologi AS, yang dapat menghindari sistem pengawasan Iran di Selat Hormuz. Sebelumnya pada hari yang sama, IRGC menyatakan telah menyita drone bawah laut AS jenis Dive-LD yang canggih di pintu masuk Selat Hormuz dan memublikasikan foto perangkat tersebut.
“Penemuan drone bawah laut militer AS yang canggih pada pagi hari menunjukkan bahwa tidak ada teknologi canggih yang dapat melewati lapisan sistem pengawasan kami di Selat Hormuz,” kata Mohebbi, seperti dikutip IRGC.
Menurut keterangan IRGC penangkapan drone bawah laut AS itu melalui sebuah operasi yang kompleks berdasarkan operasional dan intelijen superior. Drone yang ditangkap disebut sebagai tekonologi bawah laut terbaru dan tercanggih di dunia yang diproduksi AS pada 2025.
Setelah pengumuman oleh IRGC, pada Selasa, militer AS mengonfirmasi satu kendaraan bawah laut mereka mengalami kerusakan lebih dari sehari lalu di perairan Timur Tengah. Seorang pejabat AS kepada Reuters mengatakan kendaraan bawah laut itu adalah model tua dan tidak membawa perlengkapan sonar rahasia.





