
Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta mencatat peningkatan kejadian kebakaran yang dipicu pembakaran sampah dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi cuaca yang panas, kemarau yang berlangsung cukup panjang, serta angin kencang turut meningkatkan risiko api merembet ke lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Damkarmat Kota Yogyakarta Taokhid mengatakan, jumlah kejadian kebakaran cenderung meningkat sejak Juni hingga Agustus 2026. Sebelum Juni, rata-rata kejadian kebakaran berada di kisaran lima hingga 5,5 kasus per bulan. Angka tersebut meningkat menjadi sembilan kasus pada Juni dan Juli, kemudian melonjak menjadi 20 kasus pada Agustus.
“Untuk persentase yang disebabkan karena kebakaran sampah sampai Agustus itu di angka 27 persen. Bulan-bulan sebelumnya sekitar 10-15 persen, ini naiknya lumayan,” kata Taokhid saat ditemui, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena bertepatan dengan musim kemarau yang cukup panjang. Temperatur udara yang tinggi dan hembusan angin yang cukup kencang membuat bara dari pembakaran sampah lebih mudah kembali menyala dan merembet.
“Yang pertama tentunya karena cuaca, nampaknya kemaraunya cukup panjang. Kondisi temperatur udara cukup panas, angin kebetulan juga lumayan kencang. Itu salah satu faktor,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, perilaku masyarakat dalam mengelola sampah juga menjadi faktor penting. Taokhid menyebut masih ada warga yang memilih membakar sampah di lingkungan rumah karena keterbatasan dalam pengelolaan sampah. Persoalan muncul ketika pembakaran tidak diawasi hingga benar-benar padam.
“Dikiranya sudah mati, masih ada bara, kena angin, nyala lagi, akhirnya merembet. Ini persoalan yang banyak terjadi dari kasus-kasus kebakaran yang diduga disebabkan persoalan kebakaran sampah,” ujarnya.
Risiko tersebut semakin tinggi ketika pembakaran dilakukan pada siang hari. Kondisi panas dan terik membuat api maupun asap hasil pembakaran tidak selalu terlihat jelas sehingga masyarakat dapat mengira api telah padam, padahal masih menyisakan bara.
Taokhid mencontohkan salah satu kejadian di Kotagede yang api dari pembakaran sampah merembet hingga mengenai tumpukan barang bekas milik pengepul. Besarnya timbunan barang bekas membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit. Api kemudian turut merembet hingga mengenai sebuah rumah di sekitar lokasi.

Untuk mencegah kejadian serupa, Damkarmat mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, terutama selama kondisi cuaca kering dan berangin. Masyarakat didorong mengelola sampah dari rumah sehingga tidak menumpuk dan berujung pada pembakaran.
“Harapannya kemudian masyarakat bisa melakukan upaya-upaya untuk pengurangan timbunan sampah dari masing-masing rumah tangga agar kemudian tidak ada yang harus dibuang di pekarangan, harus dibakar dan sebagainya,” katanya.
Imbauan tersebut juga sejalan dengan Surat Edaran Wali Kota Yogyakarta Nomor 100.3.4/2155 Tahun 2026 tentang Peningkatan Kesiapsiagaan dan Mitigasi Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran. Melalui surat edaran tersebut, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan terhadap potensi kebakaran, tidak membakar sampah dengan menerapkan 5 Langkah Mas JOS.
Damkarmat juga mendorong keterlibatan tokoh masyarakat dalam mengingatkan warga agar tidak membuang maupun membakar sampah sembarangan. Selain berpotensi memicu kebakaran, pembakaran sampah juga menghasilkan asap yang dapat mengganggu lingkungan.
Taokhid menambahkan, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui kegiatan penyuluhan. Damkarmat juga mengoptimalkan peran Satuan Tugas Jogja Aman Kebakaran (Satgas Jaka) untuk melakukan pendampingan di wilayah sekaligus memberikan edukasi mengenai pencegahan kebakaran akibat pembuangan dan pembakaran sampah.
Apabila terjadi kondisi darurat kebakaran, masyarakat Kota Yogyakarta dapat segera melapor melalui Hotline Damkarmat 0274-587101, WhatsApp 08112828113, atau melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS) pada menu Kedaruratan/Kebakaran.



