Perubahan sikap itu terlihat terutama di negara-negara bagian dengan persaingan ketat. Kandidat Senat Partai Republik di Michigan, Mike Rogers, dan kandidat Senat di Iowa, Ashley Hinson, sama-sama menyerukan agar perang Iran segera diakhiri setelah sebelumnya mendukung kewenangan Trump dalam menjalankan operasi militer terhadap Teheran.
“Perang dengan Iran harus berakhir, dan berakhir dengan cepat,” kata Rogers dalam video kampanye yang dirilisnya.
Rogers mengaitkan berakhirnya perang dengan kemungkinan turunnya biaya energi yang kini membebani masyarakat AS. Ia juga menyerukan penghentian sementara pajak bahan bakar di tingkat negara bagian dan federal serta penghentian sementara ekspor diesel AS.
Perubahan posisi Rogers menjadi perhatian karena sebelumnya ia mendukung serangan Trump terhadap Iran. Dalam wawancara pada akhir Juli, Rogers juga menentang upaya membatasi kewenangan presiden melanjutkan konflik ketika pemerintahan Trump tengah berupaya mengakhirinya melalui perundingan.
Nada serupa muncul dari Hinson. Anggota DPR AS yang kini mencalonkan diri sebagai senator Iowa tersebut mengatakan masyarakat di negara bagiannya tidak seharusnya menanggung kenaikan biaya akibat perang.
Hinson menyerukan agar perang segera diselesaikan dan mengusulkan sejumlah langkah untuk menekan harga energi. Sikap tersebut cukup menonjol karena Hinson sebelumnya enam kali menolak langkah DPR yang berupaya membatasi kewenangan Trump dalam melanjutkan perang Iran.
Tekanan terhadap Trump tidak hanya terlihat dari pernyataan kandidat. Pada pekan lalu, tujuh anggota DPR dari Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam mendukung resolusi yang membatasi kemampuan Trump melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
DPR mengesahkan resolusi itu dengan suara 220 berbanding 204. Jumlah anggota Republik yang mendukung pembatasan tersebut lebih banyak dibandingkan dua upaya serupa pada Juni dan Juli.
Di antara mereka terdapat dua anggota DPR asal Iowa, Zach Nunn dan Mariannette Miller-Meeks. Keduanya menghadapi pertarungan ketat untuk mempertahankan kursi pada November dan sebelumnya mengambil posisi berbeda dalam pemungutan suara mengenai kewenangan perang Trump.
Harga Energi Membayangi
Perubahan sikap sejumlah politikus Republik terjadi ketika dampak ekonomi perang semakin dirasakan masyarakat AS. Konflik Iran telah mengganggu pasokan energi dan mendorong harga bahan bakar naik, termasuk harga diesel yang menembus tingkat tertinggi sepanjang sejarah di Amerika Serikat.
Reuters melaporkan harga eceran diesel AS pada September menembus enam dolar AS per galon untuk pertama kalinya. Persediaan diesel AS juga turun menjadi 107,9 juta barel per 11 September, tingkat terendah untuk periode tersebut sejak pencatatan dimulai pada 1982.
Persoalan itu menjadi sensitif di negara bagian seperti Iowa yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian. Petani membutuhkan diesel untuk mengoperasikan mesin pertanian dan mengangkut hasil produksi sehingga lonjakan harga energi dapat langsung meningkatkan biaya produksi.
Tekanan harga juga menjadi salah satu persoalan yang muncul dalam survei menjelang pemilu. Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada 21 September menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump turun menjadi 32 persen, terendah dalam karier politiknya menurut rangkaian survei tersebut.
Dukungan dari pemilih Republik dalam survei yang sama juga turun. Sebanyak 73 persen responden Republik menyatakan menyetujui kinerja Trump, turun dari 82 persen dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos sepekan sebelumnya. Ketidakpuasan terhadap biaya hidup dan penanganan perang Iran menjadi bagian dari tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Kondisi itu membuat isu ekonomi dan perang semakin sulit dipisahkan menjelang pemilu. Perang Iran bukan lagi semata persoalan kebijakan luar negeri, tetapi juga berkaitan dengan harga bahan bakar, biaya transportasi, pertanian, hingga harga barang yang dihadapi pemilih dalam kehidupan sehari-hari.
Persaingan Ketat
CBS News mencatat semakin banyak kandidat Republik yang bertarung dalam pemilu kompetitif menyerukan agar pemerintahan Trump segera mengakhiri perang Iran. Fenomena tersebut muncul ketika kedua partai memperebutkan kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu.
Rogers menghadapi kandidat Demokrat Abdul El-Sayed dalam perebutan kursi Senat Michigan. Sementara Hinson berhadapan dengan kandidat Demokrat Josh Turek di Iowa.
Demokrat menilai perubahan sikap tersebut sebagai reposisi politik menjelang pemilu. El-Sayed menuding Rogers mengubah pendiriannya setelah kenaikan harga bahan bakar, sedangkan Turek mengkritik Hinson karena sebelumnya memilih menolak upaya mengakhiri atau membatasi perang melalui Kongres.
Perbedaan dengan Trump juga mulai terlihat di luar isu Iran. Sejumlah politikus Republik mengambil posisi berbeda mengenai tarif perdagangan, kebijakan imigrasi, pusat data dan kecerdasan buatan, serta sejumlah persoalan ekonomi yang berdampak langsung terhadap konstituen mereka.
The Wall Street Journal melaporkan senator Republik Susan Collins dari Maine dan Roger Marshall dari Kansas termasuk politikus yang mengambil jarak dari kebijakan tarif Trump karena dampaknya terhadap bisnis dan industri di negara bagian mereka. Senator Pete Ricketts dari Nebraska juga mempertanyakan kebijakan pemerintah mengenai impor daging sapi.
Di Florida, anggota DPR Maria Elvira Salazar bahkan mengkritik pelaksanaan kebijakan imigrasi Trump. Dalam sebuah iklan kampanye, ia menyatakan tindakan keras terhadap imigrasi telah berjalan terlalu jauh dan membuat sebagian pendukung Hispanik merasa dikhianati.
Meski demikian, perbedaan tersebut belum menunjukkan perpecahan menyeluruh antara Partai Republik dan Trump. Presiden masih memiliki pengaruh kuat terhadap basis pemilih Republik, sementara Gedung Putih menegaskan Trump tetap menjadi figur sentral dalam upaya partai mempertahankan mayoritas di Kongres.
Ketegangan antara loyalitas kepada Trump dan kebutuhan kandidat merespons persoalan lokal kini menjadi salah satu dinamika penting menjelang 3 November. Kandidat yang bertarung di negara bagian kompetitif harus menghadapi pemilih yang merasakan langsung tekanan harga energi sekaligus basis Republik yang masih mendukung presiden.
Senat AS pada Kamis (24/9/2026) juga menolak dengan selisih tipis resolusi yang meminta Trump mengakhiri perang Iran atau memperoleh persetujuan Kongres. Pemungutan suara tersebut memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai perang telah masuk semakin jauh ke arena politik domestik menjelang pemilu.
Dengan waktu menuju pemungutan suara semakin pendek, perang Iran dan biaya hidup berpotensi terus menjadi isu yang menguji hubungan kandidat-kandidat Republik dengan Gedung Putih. Bagi mereka yang bertarung dalam persaingan ketat, sikap terhadap Trump kini tidak hanya menyangkut loyalitas politik, tetapi juga bagaimana mereka menjawab tekanan ekonomi yang dirasakan pemilih.
40 Hari Menuju Pemilu, Barisan Trump Mulai Berubah
Empat puluh hari menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026, perubahan mulai terlihat di antara sejumlah kandidat dan anggota parlemen Partai Republik. Mereka tidak serta-merta meninggalkan Presiden Donald Trump, tetapi sebagian mulai mengambil posisi berbeda pada isu yang berpotensi menentukan pilihan pemilih, terutama perang Iran dan tekanan biaya hidup.
Perubahan itu paling kentara di daerah dengan persaingan elektoral ketat. Kandidat Senat dari Michigan, Mike Rogers, dan kandidat Senat dari Iowa, Ashley Hinson, sama-sama mendesak agar perang Iran segera diakhiri. Rogers bahkan menghubungkan berakhirnya perang dengan kemungkinan turunnya biaya energi, sementara Hinson menyerukan penyelesaian konflik secara segera.
Posisi tersebut menjadi penting karena keduanya sebelumnya memberikan dukungan lebih besar terhadap kebijakan Trump mengenai Iran. Hinson, misalnya, sebelumnya tidak mendukung resolusi yang hendak membatasi kewenangan perang Trump. Pada Juni, rekaman yang diperoleh CBS News juga menunjukkan Hinson telah mengakui bahwa perang berkepanjangan dapat menjadi “beban politik” jika tidak segera diselesaikan.
Perubahan tidak berhenti pada Rogers dan Hinson. Kandidat gubernur Michigan dari Partai Republik John James dan kandidat gubernur Wisconsin Tom Tiffany juga menyerukan penyelesaian perang. Tiffany mengatakan sudah waktunya Amerika Serikat keluar dari Iran dan kembali memusatkan perhatian pada persoalan di dalam negeri.
Di Kongres, pergeseran bahkan sudah tercermin dalam pemungutan suara. Pada 16 September, tujuh anggota DPR dari Partai Republik bergabung mendukung resolusi untuk membatasi tindakan militer Trump terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Jumlah politikus Republik yang mengambil posisi tersebut lebih banyak dibandingkan dua pemungutan suara serupa pada Juni dan Juli.
Sinyal serupa muncul di Senat pada Kamis (24/9/2026). Empat senator Republik—Susan Collins, Lisa Murkowski, Rand Paul, dan Thom Tillis—bergabung dengan sebagian besar Demokrat dalam pemungutan suara mengenai resolusi pembatasan kewenangan perang Trump. Resolusi itu akhirnya gagal dengan perolehan suara 49 berbanding 50.
Perubahan sikap tersebut berlangsung ketika posisi politik Trump menghadapi tekanan. Survei Reuters/Ipsos yang dirilis 21 September mencatat tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump sebesar 32 persen. Di kalangan responden Republik, persetujuannya berada pada 73 persen, turun dari 82 persen dalam survei Reuters/Ipsos sepekan sebelumnya.
Bagi kandidat Republik, persoalannya semakin rumit karena perang Iran bersinggungan langsung dengan ekonomi rumah tangga. Gangguan pasar energi telah mendorong kenaikan biaya bahan bakar, sementara di negara bagian pertanian seperti Iowa, kenaikan diesel dan pupuk menambah tekanan terhadap petani. Ketua mayoritas Senat dari Partai Republik John Thune bahkan mengakui adanya kelelahan pemilih terhadap tingginya harga bensin dan diesel.
Situasi tersebut membuat sejumlah kandidat menghadapi dilema politik. Trump tetap memiliki dukungan besar di antara pemilih Republik, tetapi kandidat yang bertarung di Michigan, Iowa, Wisconsin, dan daerah kompetitif lainnya juga harus menjangkau pemilih independen serta mereka yang lebih memprioritaskan harga kebutuhan sehari-hari daripada loyalitas terhadap Gedung Putih.
Di Michigan, strategi itu terlihat pada Rogers. Selain berbeda dengan Trump mengenai urgensi mengakhiri perang Iran, ia berupaya memperluas dukungan kepada sebagian pemilih Demokrat dan independen dalam pertarungannya melawan Abdul El-Sayed. Michigan menjadi salah satu medan penting perebutan Senat setelah Trump memenangi negara bagian itu dengan selisih kurang dari dua poin persentase pada pemilu 2024.
Namun, perkembangan tersebut belum berarti Partai Republik secara keseluruhan berbalik melawan Trump. Data Reuters/Ipsos masih menunjukkan mayoritas besar responden Republik menyetujui kinerjanya. Yang mulai berubah adalah ruang politik bagi kandidat untuk secara terbuka berbeda dengan presiden ketika kebijakan Gedung Putih berbenturan dengan persoalan yang mereka hadapi di daerah pemilihan.
Empat puluh hari menjelang pemungutan suara, hubungan Trump dengan kandidat-kandidat partainya karena itu memasuki fase berbeda. Dukungan kepada presiden tetap menjadi bagian penting identitas politik Republik, tetapi perang Iran, harga energi, dan biaya hidup membuat sebagian kandidat mulai menegaskan agenda mereka sendiri, sebuah perubahan yang kini semakin terlihat ketika setiap suara menjadi penting dalam perebutan kendali Kongres.




