Beranda / Tokoh / Profil dan Rekam Jejak Bachtiar Chamsyah

Profil dan Rekam Jejak Bachtiar Chamsyah

Mantan Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah meninggal dunia di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis, 24 September 2026. Bachtiar dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan masalah keumatan.

“Beliau juga tidak pernah kenal lelah untuk menyuarakan soal keumatan. Ya, baik di bidang ekonomi, sosial, dan termasuk menjaga budaya. Budaya adat khususnya itu beliau sangat konsisten,” ujar Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Mardiono kepada Metrotvnews.com, Kamis, 24 September 2026.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Perpusnas, Bachtiar Chamsyah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi, Universitas Medan Area pada 1997. Dia seorang politikus yang piawai berdiplomasi meminimalisasi konflik untuk mencapai suatu konsensus atau keputusan.

Sarjana ekonomi yang mengaku belajar politik dari ibunya ini merintis karier politik dari bawah.  Dia seorang kader terbaik PPP. Terakhir, dia didaulat menjadi calon Ketua Umum PPP bersaing dengan Hamzah Haz. Dia kalah namun tetap setia kepada garis perjuangan partainya.

Nama Bachtiar mulai dikenal publik saat dia memimpin Pansus Bulog (2000-2001) yang ketika itu melibatkan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pada era pemerintahannya. Kemudian, pada era Presiden Kelima Megawati Soekarno Putri (2001) dan era Presiden keenam RI (2004) Susilo Bambang Yudhoyono, Bachtiar didapuk sebagai Mensos.

Putra bangsa kelahiran Tiji, Sigli, Aceh, 31 Desember 1945 ini seorang politikus yang sudah punya jam terbang cukup lama di politik nasional. Bahkan, sejak remaja Bachtiar sudah aktif di keanggotaan Kepanduan Hizbul Wathan. Kemudian dia merintis pengalaman berorganisasi di HMI saat kuliah di Akademi Adminitrasi Niaga (AAN) Negeri Medan (1966).

Pada 1967, dia menjadi Ketua Komisariat HMI AAN Negeri Medan. Dua tahun kemudian menjadi Ketua Umum HMI Cabang Medan sampai akhirnya menjabat Ketua Umum Badko HMI Sumatra Utara (1976).

Ketika mahasiswa, Bachtiar sering berpindah-pindah kuliah. Pertama, dia kuliah di AAN Negeri Medan, kemudian melanjutan ke Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Nomensen sampai tingkat lima. Akibat masalah keuangan, dia tidak bisa melanjutkannya hingga selesai.

Setelah itu, dia memulai karier sebagai pegawai harian honorer Pemda Medan, dengan gaji Rp1000 per bulan pada 1974. Sadar tidak mungkin bisa hidup dengan gaji sebesar itu, dia mengajar di SMA Perguruan Amir Hamzah bidang studi Ekonomi dan Sejarah.

Dia keluar dari pegawai pemda pada 1981 dan bergabung dengan PPP. Dia menjadi anggota DPRD Tk I Sumatra Utara pada 1982 saat berumur 37 tahun. Saat itu, dia juga aktif di Parmusi.

Pada 1984, Bachtiar sempat menjabat Ketua DPW Partai Persatuan Pembanguan (PPP) Sumatra Utara. Saat Musyawarah Wilayah PPP pada 1984, dia dan Ridwan Rahmat terpilih untuk memimpin DPW, tetapi karena pemerintah dan DPP tidak menyetujuinya, dia harus menerima kenyataan pahit itu.

Bachtiar juga pernah menjadi anggota DPR. Dia pernah menjadi Ketua Komisi VI dan terakhir sebagai Ketua Komisi V serta Ketua Pansus Bulog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *